Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 101


__ADS_3

"Mom?" 


Zee berjalan menghampiri sang mommy. Terlihat Gitta yang sedang duduk di samping Ken langsung menolehkan kepala. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ken dan juga pak Iskandar yang duduk di depan Ken dan Gitta.


"Kenapa Mommy menangis?" Zee buru-buru bersimpuh duduk di depan sang mommy. Tangan Zee langsung mengusap air mata yang mengalir pada wajah mommynya tersebut.


Gitta langsung mengusap wajah sang putra dan memberikan kecupan pada pucuk kepala Zee.


"Mommy nggak apa-apa, Sayang. Mommy hanya terharu setelah mendengar cerita Pak Iskandar tentang seorang gadis. Mommy tidak menyangka jika ada gadis yang memiliki cerita sepilu itu. Jika mommy bertemu dengannya, mommy mau mengadopsinya menjadi anak," ucap Gitta.


"Eh, gadis? Siapa?" Zee penasaran dengan perkataan sang mommy.


"Kiara. Tadi Pak Iskandar menceritakan tentang Kiara, pemilik asli lahan yang bermasalah itu."


"Eh, Kiara?" Zee benar-benar terkejut saat mendengar jawaban mommynya. Dia menoleh ke arah depan dimana Kiara sedang berdiri.


Belum sempat Zee bersuara kembali, Pak Iskandar sudah lebih dulu menyela.


"Lho, ini kan Kiara. Kok bisa ada disini, Nak?" Pak Iskandar langsung beranjak berdiri begitu menyadari keberadaan Kiara di sana.


Perkataan pak Iskandar sontak menarik perhatian Ken dan Gitta. Mereka langsung menoleh ke arah pintu dimana Kiara berdiri.


"Eh, apa ini Kiara yang diceritakan Pak Iskandar?" Gitta bertanya dengan penasaran.


"Iya, Mom." Zee menjawab sambil beranjak berdiri. Dia juga meminta pak Warto dan yang lainnya masuk.

__ADS_1


Gitta tampak antusias saat melihat Kiara. Entah mengapa dia merasa sangat bahagia bertemu dengan gadis itu. Gitta langsung menarik lengan Kiara agar duduk di sampingnya.


"Ini benar Kiara?" tanya Gitta.


Kiara yang masih terlihat canggung pun hanya bisa menganggukkan kepala sambil mengulas sedikit senyumannya.


"Waahh, aku senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu. Zee, bagaimana kamu bisa bertemu dengan Kiara. Dan, kenapa kamu bisa mengajaknya kemari?" Gitta benar-benar penasaran.


Zee menjadi salah tingkah menjawab pertanyaan sang mommy. Ken yang melihat tingkah sang putra langsung bersuara.


"Jawab pertanyaan mommy kamu, Zee. Kenapa kamu gugup begitu? Seperti ditanya mau nikah saja." Ken masih sempat-sempatnya mencibir sang putra.


"Ehm, memang benar, Dad. Aku mengajak Kiara kemari karena ingin menikahinya," jawab Zee dengan cepat.


"Apa?!" Ketiga orang tersebut berteriak bersamaan.


"Kamu bilang apa tadi, Sayang?" Kali ini Gitta ingin memastikan pendengarannya.


"A-aku serius, Mom. Aku ingin meminta izin untuk menikahi Kiara."


Gitta yang masih menatap wajah Zee tak percaya, kini hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Dia menoleh ke samping, ke arah Ken.


"Ma-mas, i-itu putra kamu serius?" tanya Gitta.


"Entahlah, Yang. Aku juga belum percaya. Aku hanya khawatir jika Zee bercanda karena ingin merasakan main perosotan di antara bukit-bukit gersang," jawab Ken ngasal.

__ADS_1


Mendengar jawaban sang daddy, Zee langsung mendengus kesal. Dia tidak terima dengan godaan sang daddy.


"Aku serius, Dad. Aku serius ingin menikahi Kiara. Aku serius ingin menjadikan dia menantu Mommy dan Daddy, sekaligus ibu dari anak-anakku kelak," jawab Zee spontan.


Jawaban spontan Zee, sontak membuat kedua orang tuanya terkejut. Gitta yang melihat kesungguhan sang putra, langsung menghambur ke pelukannya. Dia memeluk Zee sambil memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah putra tunggalnya tersebut.


"Kamu serius, Sayang?" tanya Gitta memastikan.


Zee mengangguk mantap. "Iya, Mom. Aku serius. Aku membawa Kiara kemari untuk memperkenalkannya kepada Mommy dan Daddy, sekaligus meminta izin untuk menikahinya. Apa Mommy dan Daddy mengizinkan?" Zee bertanya dengan perasaan was-was.


Dengan berlinang air mata, Gitta mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Sayang. Iya. Mommy dan Daddy mengizinkannya. Benar kan, Mas?" Gitta menoleh ke arah sang suami.


Ken mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, Zee. Daddy juga mengizinkan kamu menikahi Kiara. Tapi, Daddy minta kamu tidak mempermainkan perasaan wanita. Jangan sampai kamu melukai hati Kiara. Jika kamu sudah mengucapkan ijab kabul atas namanya, tanggung jawab atas Kiara sudah berada di pundakmu."


"Pernikahan itu adalah sekolah seumur hidup. Apalagi, pernikahan kalian ini mendadak sekali. Daddy hanya bisa berharap, kalian sama-sama belajar untuk menghadapi ujian kehidupan. Daddy tau, jika ego anak muda itu masih sangat besar. Satu hal pesan Daddy, selalu bicarakan apa yang mengganjal di hati kalian. Jangan sampai ada yang disembunyikan. Setelah menikah, kalian akan menjadi satu. Tidak ada istilah sendiri-sendiri. Apa kamu bisa mengerti, Zee?"


Zee mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup mengerti perkataan sang daddy. Gitya yang juga ikut mendengar perkataan sang suami menjadi terharu. Dia tidak menyangka jika Ken akan mengatakan hal itu. Gitta menatap Ken dengan mata berkaca-kaca.


"Ma-mas,"


"Iya, iya, Yang. Aku tau jika aku cakep dan keren. Nggak usah terharu begitu. Tiap malam kamu juga bisa peluk dan buktikan sendiri seberapa keren dan gagahnya aku, kan?"


\=\=\=


Astaga, mulutnya Ken. Kira-kira harus diapain itu mulut lemes Ken? 🤔

__ADS_1


__ADS_2