
Hari berganti hari. Tak terasa usia Gen kini sudah menginjak sebelas bulan. Sesuai perkembangannya, Gen tumbuh menjadi seorang anak yang menggemaskan. Benar-benar sama persis seperti masa kecil Zee. Namun, kali ini dia jauh lebih aktif. Mengingat mentornya ada banyak 🤧
Kiara juga sudah mulai kuliah. Saat ini, dia sudah mulai masuk semester dua di kampus lama Zee. Sedangkan Zee, dia sudah mulai aktif bekerja di kantor. Meskipun begitu, Zee masih tidak mau bekerja sebagai karyawan tetap. Zee masih mau sedikit lebih bebas.
Zee, meskipun sudah bekerja di kantor, namun tetap saja dia tidak mau memakai pakaian formal ketika sedang bekerja. Menurut Zee, dia akan terlihat seperti bapak-bapak jika memakai pakaian formal.
Lah, memang kamu sudah jadi bapak-bapak, Zee. 🤧
Meskipun begitu, Ken tetap mengizinkan putranya melakukan apa yang diinginkan selama itu masih dalam batas wajar. Papa Vanno pun juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Seperti biasa, Zee dan Kiara sudah bersiap-siap untuk beraktivitas hari itu. Gen, juga sudah siap dengan baju dan perlengkapannya. Rencananya, Zee akan mengajak putranya tersebut ke kantor. Ken dan Gitta sedang menemani papa Vanno untuk check up di Singapura. Jadi, mereka tidak bisa menitipkan Gen.
"Yakin tidak apa-apa, bawa Gen ke kantor, Mas?" tanya Kiara was-was. Pasalnya, ini pertama kali Zee membawa Gen ke kantor tanpa ada Ken.
Biasanya, jika Zee membawa Gen ke kantor, dia pasti akan menitipkan putranya tersebut ke ruangan Ken. Jadi, Gen tetap ada pengawasan. Namun hari ini, Ken sedang tidak ada di kantor. Dan, Zee juga harus menghadiri meeting. Hal itu yang membuat Kiara tampak khawatir. Dia tidak ingin merepotkan Zee.
__ADS_1
"Tenang saja, Yang. Gen aman, kok. Kita kan sudah bawain banyak mainan. Dia juga pasti akan asyik dengan mainannya sendiri."
"Tapi kamu ada meeting, Mas. Aku hanya khawatir jika kamu nggak bisa konsentrasi nanti."
"Nggak apa-apa. Tenang saja. Aku pasti bisa menjaga Gen dengan baik."
Mau tidak mau, Kiara hanya bisa mengangguk setuju. Jika bukan karena hari ini Kiara ada jadwal presentasi makalahnya, Kiara pasti akan membolos atau paling tidak, membawa Gen ke kampus dengan mengajak Bi Ani.
Namun, hari ini jadwal kuliah Kiara cukup padat. Belum lagi ada dua mata kuliah yang membuat Kiara harus mempresentasikan tugasnya.
Bukan karena apa, hal itu disebabkan karena saat ini Gen sudah mulai bisa berjalan. Bisa dipastikan dia akan sering melipir sambil berpegangan dengan apapun yang ditemuinya.Â
Jika di rumah, Kiara dan Bi Ani harus ekstra waspada memperhatikan gerakan Gen. Mereka bisa langsung menangkap Gen ketika dia terjatuh saat belajar berjalan.
Tak butuh waktu lama, Zee sudah menghentikan mobilnya di depan kampus Kiara. Setelah berpamitan, Kiara langsung beranjak keluar dari mobil Zee. Selanjutnya, giliran Zee dan Gen berangkat ke kantor.
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zee sudah sampai di kantor. Dia segera memarkirkan mobil dan bersiap-siap mengajak Gen turun.
Setelah mendudukkan Gen di strollernya, Zee segera mengambil tas yang berisi perlengkapan Gen. Begitu semua sudah siap, Zee langsung mendorong stroller Gen menuju ruangannya.
Saat melewati lobi, banyak karyawan magang yang sedang berbaris untuk menerima penjelasan dari manajer pelaksana. Ada sekitar lima belas karyawan magang yang ada di sana, dengan tiga laki-laki dan sisanya perempuan.
Begitu Zee melewati barisan karyawan magang tersebut, ada beberapa orang yang langsung nyeletuk.
"Waahhh, dedeknya imut sekali. Jadi pengen gigit papanya," ucap sebuah suara.
"Ih, mau dong ngekepin papanya," ucap suara yang lain.
Hingga suara terakhir yang didengar, mampu membuat Zee menghentikan langkah kakinya.
"Waahh, gemoy banget anaknya, mau dong dibagi bibitnya."
__ADS_1
Hayo lho, mau apa itu Zee?