Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 82


__ADS_3

Malam hari, Zee masih terlihat kesal dengan sang daddy. Zee merasa dijebak oleh dua Geraldy senior tersebut. Siapa lagi jika bukan daddy dan papanya. 


Sepanjang makan malam, Zee tambak mengerucutkan bibirnya. Makan malam pun juga ogah-ogahan dilakukannya. Melihat hal itu, Gitta hanya bisa menggelengkan kepala. Jika sifat ngambek bin ngalem sang putra sudah kambuh, bisa dipastikan dia minta perhatian lebih.


Mau tidak mau, Gitta menyuapi putra semata wayangnya tersebut. Meskipun masih kesal, Zee langsung membuka mulutnya saat suapan sang mommy mendekat. 


Zee be like : jangan pada komen, aku lapar. Ngambek juga butuh tenaga.


Ken hanya terkekeh geli melihat tingkah manja sang putra. Dia hanya mencebikkan bibir melihat Gitta masih menyuapi putra mereka.


"Nanti akan jadi kebiasaan jika dibiarkan terus-terusan, Yang. Biarkan saja dia makan sendiri," ucap Ken di sela-sela aktivitas makan malamnya.


Zee menoleh ke arah sang daddy. "Biarin. Mommy juga mau nyuapin aku, kok. Jika Daddy iri, bilang dong." 


"Dong."


Zee langsung cemberut mendengar perkataan sang daddy. Dia ingin membalas perkataan tersebut, tapi Gitta sudah lebih dulu mencegahnya.


"Sudah, sudah. Sekarang habiskan saja makan malamnya. Aku nggak mau dengar ada yang rewel di meja makan."


Seketika dua laki-laki beda generasi tersebut menganggukkan kepala. Zee langsung menghadap sang mommy dan membuka mulutnya lebar-lebar untuk meminta suapan. Melihat hal itu, Ken lagi-lagi usil.


"Itu kenapa mulut lebar sekali mangapnya? Mau disuapin pake centong nasi memangnya?"


Hap.


Seketika Zee langsung menutup mulutnya. Dia menoleh ke arah sang daddy dengan kesal.


"Jika tidak mangap, bagaimana mau makan, Dad? Meringis begini, hhhiiiyyy." Zee mempraktekkan maksud perkataannya sambil meringis.


Hhhhhh, Gitta hanya bisa menghembuskan napas beratnya mendengar perdebatan absurd dari suami dan putranya tersebut. Hingga mereka selesai makan malam, Ken dan Zee masih terus berdebat.


Selesai makan malam, Ken langsung beranjak menuju ruang kerjanya untuk memeriksa kesiapan meeting tersebut. Zee juga langsung menuju kamarnya untuk merapikan perlengkapan sekolah untuk besok. Berhubung besok adalah senin, akan ada pemeriksaan rutin di sekolah.

__ADS_1


Sementara itu, Gitta segera membereskan meja makan dengan bantuan asisten rumah tangga. Setelah selesai, Gitta membawakan minuman untuk sang suami.


"Jangan malam-malam tidurnya, Mas. Aku nggak suka kamu bawa-bawa pekerjaan ke rumah," ucap Gitta sambil meletakkan minuman untuk Ken.


"Iya, iya, Yang. Aku hanya sebentar kok. Nggak sabaran sekali mau kasih hadiah kemenangan basket tadi." Ken tersenyum ke arah Gitta.


Gitta langsung membulatkan kedua bola matanya. Tentu saja bukan itu maksudnya. Tapi rupanya, Ken sudah salah paham.


"Bukan itu maksudku, Mas."


"Iya, iya. Aku tahu. Kurang dari setengah jam lagi aku selesai, kok. Ini hanya memeriksa kesiapan buat meeting besok."


Gitta yang sudah capek beradu argumen dengan Ken pun segera meninggalkan ruang kerja tersebut. Dia segera beranjak menuju ruang keluarga untuk menonton televisi. Pada saat bersamaan, terlihat Zee juga turun dari lantai dua. Dia langsung ikut bergabung dengan sang mommy untuk menonton televisi.


"Tumben kamu nggak keluar, Sayang?" tanya Gitta sambil mengusap surai hitam Zee yang bersandar pada bahunya.


"Hujan-hujan begini mau keluar kemana, Mom?"


"Nggak, ah. Hujan. Malas."


"Nggak ada janji sama El?"


"Sebenarnya ada, sih. Dia ngajakin lihat tempat futsal baru. Tapi aku nggak mau."


"Kenapa? Karena hujan?"


"Karena masih kesel, Mom."


Gitta yang tahu maksud perkataan sang putra berusaha menyembunyikan kekehan tawanya.


"Kamu masih kesel karena kalah main basket?"


"Tentu saja. Mana ada main basket model begitu, Mom. Heran deh. Daddy sama papa itu benar-benar pro."

__ADS_1


Gitta menolehkan kepalanya sedikit. "Pro apa?"


"Pro memanipulasi permainan."


Belum sempat Gitta menjawab perkataan sang putra, terdengar suara dari belakang mereka.


"Zee jangan nempel-nempel pada mommy mu. Sana jauh-jauh!" 


"Memangnya kenapa sih, Dad?" tanya Zee sambil masih bersandar di bahu sang mommy.


"Nggak boleh. Memangnya kamu mau minta asi lagi?!"


"Kalau iya, memangnya kenapa?" tantang sang putra.


"Jangan aneh-aneh. Kontrak kamu sudah habis sejak berusia dua tahun. Sekarang giliran Daddy!"


"Memang kontrak Daddy belum habis?"


"Belumlah. Kontrak Daddy itu seumur hidup."


"Ccckkk, gimana jadinya pabrik jika disabotase seumur hidup? Jangan mau, Mom. Awas turun mesin nanti," jawab Zee.


Ken yang mendengar perkataan sang putra langsung berkacak pinggang. "Sembarangan kalau ngomong. Jika turun mesin, tinggal ganti mesin baru."


"Apa?" Gitta melotot ke arah Ken.


"Eh, bu-bukan begitu maksudnya, Yang."


Zew be like …


\=\=\=


Masih menunggu vote buat Zee nih 🤗

__ADS_1


__ADS_2