
Zee langsung tersedak saat mendengar panggilan Kiara. Dia langsung terbatuk-batuk. Zee memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Kiara mendadak panik melihat tingkah sang suami. Dia buru-buru berdiri dan segera mengusap-usap punggung Zee.
"Sayang, maaf, maaf. Maafkan aku," ucap Kiara. Entah dia polos atau memang sengaja. Kiara benar-benar tidak menyadari Zee tersedak karena nama panggilannya. Eh, ini malah diulang lagi.
Zee membulatkan kedua bola matanya dengan tenggorokan masih terasa panas akibat tersedak. Namun, dia segera berusaha mengendalikan napasnya agar tidak tersengal-sengal.
Zee menggelengkan kepala beberapa kali saat masih merasakan usapan Kiara pada punggungnya.
"Sudah, sudah. Aku sudah baikan." Zee meminta Kiara untuk menghentikan usapan tangannya.
Kiara segera menghentikan usapan tangannya pada punggung Zee. Setelah itu, dia segera kembali ke tempat duduknya. Wajahnya mendadak pucat saat menyadari Zee menatapnya. Dia khawatir jika Zee akan memarahinya.
"Maaf," Kiara lagi-lagi meminta maaf kepada Zee.
Zee mendesahkan napas ke udara sebelum bersuara.
"Apa mommy yang meminta kamu memanggilku seperti itu?" Zee benar-benar terkejut.
Dia berpikir, jika mommynya akan meminta Kiara memanggilnya dengan panggilan 'mas' seperti sang mommy dan mama memanggil daddy dan papa. Namun, ternyata dugaannya salah. Mommynya itu benar-benar berhasil membuat kejutan untuknya.
Kiara mengangguk-anggukkan kepala sambil menunduk. Kedua tangannya juga masih saling remass di bawah meja. Lagi-lagi Zee hanya bisa menghembuskan napas beratnya.
"Jangan memanggilku seperti itu lagi," ucap Zee. Dia hanya tidak ingin merasa tidak nyaman jika ada di depan banyak orang dan Kiara memanggilnya dengan panggilan seperti itu.
__ADS_1
Namun, Kiara mengartikan lain perkataan Zee. Dia langsung mengangkat kepalanya dengan kening berkerut. Tampak sekali jika Kiara terkejut dan, kecewa?
Zee menyadari ekspresi Kiara dan buru-buru menjelaskan agar istrinya itu tidak salah paham.
"Ehm, maksudku begini. Aku hanya tidak nyaman jika kamu menggunakan nama panggilan itu kalau di depan banyak orang. Cukup panggil 'mas' saja seperti mommy. Tapi, jika di rumah, kamu bisa memanggilku seperti itu jika mau," ucap Zee.
Kiara yang awalnya salah paham pun kini akhirnya bisa mengerti. Dia tampak malu karena telah berpikir yang tidak-tidak. Kiara segera mengangguk-anggukkan kepala.
'i-iya, Ma-mas." Wajah Kiara terasa panas saat mengucapkannya. Dia juga masih menundukkan kepala. Entah mengapa dia mempunyai rasa rendah diri sejak ayahnya meninggal.
Zee merasa cukup lega setelah mendengarnya. Panggilan itu lebih terlihat alami jika dibandingkan dengan panggilan 'sayang'.
Malam itu, Zee dan Kiara berusaha saling mengenal. Meskipun Zee yang harus selalu bertanya lebih dahulu kepada Kiara, seperti apa ada alergi makanan yang dimiliki? Jika Kiara ingin melanjutkan kuliah, kira-kira mau melanjutkan di jurusan apa? Dan masih banyak lagi pertanyaan Zee yang lainnya. Dan, tentu saja Kiara juga menanyakan hal yang sama kepada Zee.
Hingga menjelang pukul sebelas malam, mereka tampak sudah lelah. Saat ini, Zee dan Kiara sama-sama sudah berada di atas tempat tidur. Keduanya sama-sama sedang bersandar di kepala ranjang dengan selimut menutupi kaki mereka.
Dengan sedikit melirik ke arah Zee, Kiara menganggukkan kepala ragu-ragu. Zee sudah tahu jika sang istri benar-benar mengantuk. Sedari tadi Kiara sudah menguap beberapa kali.
"Tidurlah. Mulai malam ini, kita akan berbagi kamar dan tempat tidur. Aku minta, kamu bisa mulai membiasakan diri dengan itu," ucap Zee.
Kiara mengangguk-anggukkan kepala. Sang mertua juga sudah mengatakannya beberapa kali tadi siang.
"Ehm, untuk yang lainnya, aku minta kita bisa memulainya secara pelan-pelan. Kita perlu membiasakan diri terlebih dahulu. Jangan merasa terbebani dengan kewajiban istri untuk melakukan 'itu' sekarang atau dalam waktu dekat. Aku tidak akan meminta atau memaksa untuk melakukan 'itu' secepatnya."
Inilah yang dipikirkan Kiara sejak tadi siang. Untuk bertanya pun dia juga tidak berani. Namun, hatinya langsung merasa lega saat mendengar perkataan Zee. Dia merasa sangat bersyukur.
__ADS_1
"I-iya, Mas. Terima kasih." Kiara menoleh ke arah Zee sambil mengulas senyumannya.
Setelahnya, baik Zee dan Kiara berusaha untuk memejamkan mata. Tidak ada aktivitas icip-icip atau 'dudah-dudah' yang diharapkan, karena memang mereka perlu menyesuaikan diri terlebih dahulu.
***
Pagi itu setelah sarapan, Zee, Kiara, dan kedua orang tua Zee langsung bergegas ke rumah sakit tempat nenek Kiara dirawat. Selama ini, nenek Kiara memang di rawat di rumah sakit. Kiara biasanya menjenguk setiap tiga hari atau empat hari sekali karena keterbatasan biaya.
Selama ini, ibu tiri Kiara yang menanggung biaya pengobatan sang nenek, sebagai kompensasi karena tanah Kiara sudah di jualnya.
Sekitar satu jam kemudian, mobil Zee sudah memasuki area parkir rumah sakit. Mereka segera berjalan menuju ruang ICU tempat nenek Kiara dirawat.
Di ruang ICU tersebut, memang tidak diperbolehkan pasien untuk dijenguk. Para pengunjung hanya boleh melihat dari kaca sekilas.
Ken dan Zee langsung menemui dokter, sementara Gitta menemani Kiara. Dari informasi yang diberikan oleh dokter, Ken dan Zee cukup terkejut mendengarnya. Kondisi nenek Kiara benar-benar sudah semakin memburuk. Bahkan, sejak dua hari yang lalu, kondisinya sudah benar-benar kritis.
Dokter tersebut juga memberitahukan jika nenek Kiara tidak memungkinkan untuk dipindahkan ke rumah sakit lain. Mau tidak mau, mereka akan tetap merawat nenek Kiara di rumah sakit tersebut.
Dan, yang lebih mengejutkan lagi, ternyata selama dua minggu terakhir ini, biaya rumah sakit nenek Kiara tidak dibayarkan oleh ibu tiri Kiara. Ken dan Zee benar-benar geram mendengar hal itu.
Zee langsung pergi ke bagian administrasi untuk membayar semua kekurangan dan memilihkan fasilitas terbaik untuk nenek Kiara.
Hari itu, mereka memutuskan kembali lagi ke hotel. Ken dan Zee akan memikirkan solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini. Namun, belum sempat mereka sampai ke hotel, ada sebuah panggilan dari rumah sakit pada ponsel Zee.
Zee cukup terkejut saat mendengar kabar bahwa nenek Kiara baru saja menghembuskan napas terakhirnya.
__ADS_1
\=\=\=
Sudah ada jatah vote, kasih vote yang banyak buat Zee ya, biar othor jadi ikutan semangat untuk upnya. Terima kasih 🤗