Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 41


__ADS_3

"Toi? Toi yang bica macak, Mi? (Koi? Koi yang bisa masak, Mom?)" Zee menoleh ke arah sang mommy sambil menelengkan kepalanya.


"Eh, bukan Sayang. Yang bisa masak itu koki, bukan koi."


Bu Lita langsung tergelak saat mendengar celotehan Zee. "Putramu benar-benar penuh rasa ingin tahu, Git." Bu Lita masih belum bisa menghentikan senyumannya.


"Eh, iya, Bu. Dia selalu menanyakan apa saja yang menarik perhatiannya." Gitta tersenyum ke arah dosennya tersebut.


"Wajar saja. Putra kamu pasti ingin tahu apapun yang dilihatnya dan terasa asing."


"Iya, Bu." Gitta tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu Lita. Terima kasih atas bantuan Anda."


"Iya, sama-sama. Jika ada yang masih bingung, silahkan hubungi saya."


"Iya, Bu. Terima kasih." Gitta menganggukkan kepala dan menurunkan Zee dari pangkuannya. Namun, begitu turun dari pangkuan sang mommy, Zee justru berjalan ke arah Bu Lita dan berdiri di sampingnya. Dia mengulurkan tangan kepada Bu Lita.


"Cayim duyyu," ucap Zee sambil menatap ke arah Bu Lita.


Sontak saja Bu Lita dan Gitta terkejut dengan tindakan Zee. Namun, Bu Lita segera mengulurkan tangan untuk membalas Zee. Zee segera meraih tangan dosen mommynya tersebut dan mengecupnya.


"Ji amit duyyu. (Zee pamit dulu)"


Bu Lita yang gemas pun langsung mencium pipi Zee. "Iya, Sayang. Hati-hati."

__ADS_1


Gitta yang melihat hal itu cukup terkejut. Pasalnya, dia tidak meminta Zee untuk melakukan hal itu. Rupanya Zee yang sudah terbiasa melakukan hal itu kepada orang-orang terdekatnya. Jadi, dia sama sekali tidak merasa canggung saat melakukan hal itu kepada dosen mommynya.


Setelahnya, Gitta segera mengajak Zee keluar ruangan. Kali ini, Gitta menggendong putranya tersebut menuju tempat mobil mereka parkir.


"Waahh, Zee kok pinter sekali. Siapa yang ngajarin, sih?" Gitta masih gemas dan menciumi pipi sang putra.


"Ami, emuuaahhh." Zee tak mau kalah. Dia langsung menciumi pipi mommynya dengan kecupan basahnya.


Gitta masih tertawa-tawa saat memasuki mobil. Setelah itu, mereka segera menuju butik. Zee sudah kembali memakan biskuit favoritnya. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ponsel Gitta. Ternyata, ada panggilan video dari Ken. Zee yang mendengar suara telepon langsung melongokkan kepala.


"Tapa? (Siapa?)"


"Daddy, Sayang. Zee mau ngomong?"


"Ao Ted!" Zee langsung berteriak heboh.


"Hallo, Sayang. Makan apa itu?"


"Tuit Ji. (Biskuit Zee)" Zee langsung menunjukkan biskuitnya kepada sang daddy.


"Pinternya. Mommy mana, Sayang?"


Gitta yang mendengar hal itu langsung mengambil alih panggilan video tersebut. "Ada apa, Mas?"

__ADS_1


"Sayang, Aku harus ke Surabaya nanti malam. Kalian ikut, ya."


"Eh, nanti malam, Mas. Ada apa?"


"Ada yang harus aku kerjakan di sana."


"Memangnya berapa hari?"


"Mungkin sekitar tiga hari, Yang."


"Astaga, Mas. Hanya tiga hari saja kenapa kami harus ikut, sih."


"Hanya tiga hari bagaimana. Itu lama, Yang." Ken terlihat cemberut di seberang sana. "Mana bisa tidur nyenyak aku jika tidak me…," belum sempat Ken menyelesaikan perkataannya, Gitta sudah menyelanya.


"Mas!" Bagaimana mungkin Gitta membiarkan Ken menyelesaikan perkataannya jika ada sang sopir yang juga berada di sana. "Iya, iya kami ikut."


Terlihat Ken tersenyum di seberang sana. "Terima kasih, Sayang. I love you, emuuaahhh."


Belum sempat Gitta menjawab perkataan Ken, Zee sudah menjawab terlebih dahulu.


"Pi yu tu, Ted."


__ADS_1


__ADS_2