
"Berhenti!" Ken langsung memerintahkan sang putra untuk menghentikan mobilnya.
Seketika Zee yang sudah melewati ojek tersebut langsung menepi dan menghentikan mobilnya.
Cciiiiittttt.
Si tukang ojek pun langsung gelagapan karena terkejut. Hal yang sama juga dirasakan oleh Gitta. Namun, setelah melihat siapa yang keluar dari mobil, Gitta merasa lega.
Ken dan Zee langsung keluar dari mobil. Ken berjalan dengan terburu-buru menuju motor tukang ojek tersebut. Tatapan matanya tajam, ke arah Gitta dan si tukang ojek.
"Turun!" Tanpa basa-basi, Ken meminta Gitta segera turun dari boncengan si tukang ojek.
Mendengar hal itu, Gitta hanya bisa pasrah. Dia sudah sangat hafal dengan sifat sang suami. Gitta hendak turun dari boncengan motor, namun di cegah oleh si pengendara ojek.
"Eh, jangan turun, Bu. Saya takut mereka orang jahat yang akan menculik Anda." Si tukang ojek benar-benar membuat suasana menjadi panas.
Mendengar perkataan si tukang ojek, sontak saja Ken langsung meradang. Dia menatap tukang ojek tersebut dengan tatapan garangnya.
"Apa maksudmu kami orang jahat, hah? Kamu pikir aku akan menculik istriku sendiri?!" Ken benar-benar emosi.
"Eh, istri?" Tukang ojek tersebut terlihat kebingungan.
Gitta yang melihat hal itu buru-buru turun dari motor. Dia menghampiri Ken dan langsung menenangkannya.
__ADS_1
"Nggak usah teriak-teriak, Mas," ucap Gitta sambil mengusap-usap dada Ken. Gitta menoleh ke arah tukang ojek dan meminta maaf. "Maafkan suami saya, Pak. Dia memang suka aneh-aneh."
Ken merasa tidak terima dengan perkataan Gitta. Ken menoleh dan menatap wajah Gitta dengan tatapan menerkamnya. "Aneh-aneh? Apa maksudmu dengan mmmhhhhhh," belum sempat Ken melanjutkan perkataannya, Gitta sudah langsung membungkam mulut sang suami dengan tangan.
Setelah itu, Gitta mendorong Ken menjauh dari si tukang ojek sambil mengucapkan permintaan maaf. Gitta menarik Ken menuju mobil mereka. Zee yang melihat hal itu hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Dia segera mengambil dompet dan memberikan lima lembar seratus ribuan kepada si tukang ojek tersebut.
"Maaf ya, Pak. Orang tua saya memang suka berlebihan. Ini ongkos ojek mommy saya tadi," ucap Zee.
Si tukang ojek tersebut tampak terkejut dengan uang yang diberikan oleh Zee.
"Eh, i-ini kebanyakan, Mas."
"Tidak apa-apa, Pak. Anggap itu rezeki Bapak. Saya permisi dulu." Zee langsung berbalik meninggalkan si tukang ojek yang masih terlihat bengong tersebut.
"Te-terima kasih, Mas. Terima kasih banyak." Setelah sadar, si tukang ojek tersebut mengucapkan terima kasih kepada Zee.
"Kamu ini berlebihan sekali sih, Mas. Aku hanya naik ojek. Masa cemburuan sama tukang ojek." Gitta masih menggerutu kesal.
"Lagian kamu aneh-aneh saja. Ngapain juga pakai ojek segala. Aku nggak masalah kamu pakai taksi online, adal jangan ojek."
Gitta pun merasa tidak terima. "Biar cepat, Mas."
"Aku nggak mau tau. Aku kan sudah bilang jangan sampai naik ojek. Itu jika balon tiup kamu kepentok punggung si tukang ojek bagaimana?" Ken masih memprotes Gitta.
__ADS_1
Zee yang mendengar perkataan sang daddy hanya bisa melongo. "Astaga, jadi gara-gara itu Daddy marah-marah tadi?" Zee menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Bisa-bisanya daddynya itu marah-marah kepada tukang ojek gara-gara takut si balon tiup kepentok.
Gitta mendengus kesal mendengar perkataan sang suami. "Mana ada itu kepentok. Lagian, kamu aneh-aneh saja. Kita hanya punya satu mobil di sini. Sedangkan, mobil kalian bawa. Lalu, aku belanja harus naik apa? Masa iya aku harus menunggu minta di antar motot atau mobil baru?" Kini, giliran Gitta yang kesal.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ken langsung mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi Dino, sang asisten.
"Din, malam ini juga kirimkan satu mobil baru dan dua motor ke rumah Surabaya. Nggak pakai lama."
"Eh, harus malam ini juga, Pak?" Dino terdengar terkejut dari seberang sana.
"Hhmmm."
"Kenapa mendadak sekali, Pak. Ini sudah menjelang petang. Ba…," belum sempat Dino menyelesaikan perkatannya, Ken sudah menyela lebih dulu.
"Aku nggak mau banyak alasan. Kirim sekarang juga." Suara Ken sudah mulai meninggi.
Dino yang merasakan perubahan suara tersebut langsung tergagap. "I-iya, Pak. Laksanakan."
Ken segera menutup panggilan telepon tersebut. Zee yang melihat tingkah sang daddy hanya bisa mencebikkan bibir.
"Cckkk, Daddy lebah banget, sih," ucap Zee sambil mencibir sang daddy.
Ken menatap wajah Zee dari spion mobil. "Biarin lebah. Asal mommy kamu yang di 'entup'."
__ADS_1
\=\=\=
🐝🐝🐝🐝