
Tubuh Gitta langsung lemas. Jantungnya berdetak tak karuan dengan tangan bergetar saat memegang ponsel. Air mata Gitta langsung menganak sungai dan luruh membasahi kedua pipinya.
"A-apa maksud kamu?" Suara Gitta bergetar saat bertanya.
"Tuan Ken pingsan saat meeting tadi, Nyonya. Sekarang, beliau sudah dibawa ke rumah sakit."
"Hiks, hiks, hiks, Mas Ken." Suara tangis Gitta langsung pecah.
Gitta langsung menutup panggilan telepon tersebut. Dia segera mengusap air matanya dan beranjak keluar kamar. Dia langsung memanggil sopir pribadi mereka dan memintanya untuk mengantar ke rumah sakit.
Pikiran Gitta langsung melayang ke hal-hal buruk yang menimpa suaminya. Gitta juga mengingat jika tadi pagi dia tidak sempat membalas ucapan cinta dari sang suami seperti biasa.
Menyadari hal itu, Gitta menangis semakin keras. Dia menangis meraung-raung di dalam kendaraan menyesali tindakannya tadi pagi. Meski sang sopir sudah berusaha menenangkannya, namun tangisan Gitta semakin keras.
Tak butuh waktu lama bagi Gitta sampai di rumah sakit. Hanya sekitar dua puluh menit, mobil mereka sudah memasuki area rumah sakit. Dengan masih berurai air mata, Gitta langsung berlari menuju IGD. Dia yakin sang suami berada di sana.
Beberapa perawat yang memang sudah mengenal Gitta, langsung bergegas menyusulnya.
"Dimana suami saya? Dimana Mas Ken?" Teriak Gitta begitu sampai di depan pintu IGD saat melihat Emily berdiri di sana.
"Nyonya Gitta, tenang dulu. Tuan Ken, sedang diperiksa oleh dokter." Emily berusaha menenangkan Gitta.
"Mana bisa aku tenang, Em. Mas Ken, huhuhu." Tangis Gitta langsung luruh. Tubuhnya kembali lemas hingga hampir merosot. Beruntung Emily dengan sigap langsung menangkap tubuh Gitta.
Emily segera menuntun Gitta untuk duduk di ruang tunggu. Dia juga masih berusaha menenangkan Gitta.
__ADS_1
"Kenapa ini bisa terjadi, Em? Hiks hiks. Tadi Mas Ken baik-baik saja saat berangkat ke kantor. Hiks hiks." Gitta masih menangis sesenggukan dalam pelukan Emily.
"Saya juga tidak tau, Nyonya. Tadi, Tuan Ken merasakan sakit pada bagian perutnya. Saat hendak berdiri, beliau langsung jatuh tak sadarkan diri." Emily berusaha menjelaskan kepada Gitta.
Tangis Gitta semakin menjadi. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan sang suami.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, seorang dokter keluar ruangan dan menemui Gitta. Melihat kedatangan dokter, Gitta langsung berdiri untuk menghampiri dokter.
"Bagaimana keadan Mas Ken, Dok? Kenapa dia pingsan? Apa yang terjadi, Dok?" Gitta memberondong dokter tersebut dengan beberapa pertanyaan.
"Saya akan menjelaskannya, Nyonya. Bisa ke ruangan saya?" jawab dokter tersebut.
Gitta hanya mengangguk dan langsung mengikuti langkah kaki dokter tersebut menuju ruangannya dengan ditemani Emily.
Dokter Robin, yang dulu juga sempat bekerja di rumah sakit GC di Jakarta, langsung menjelaskan penyebab pingsannya Ken.
"Begini, Nyonya. Setelah kami melakukan pemeriksaan, Tuan Ken terkena usus buntu. Karena nyeri pada perutnya tersebut, menyebabkan Tuan Ken tidak sadarkan diri tadi."
"U-usus buntu?" Gitta tampak terkejut setelah mendengar penjelasan Dokter Robin.
"Benar, Nyonya. Apa Tuan Ken tidak pernah mengeluh sebelum ini?"
"Ehm, Mas Ken sering mengeluh sakit perut sih, Dok. Dia juga tidak pernah mau diperiksa. Dan, saya pikir hal itu karena Mas Ken memang sering telat makan."
"Tuan Ken tidak pernah periksa?"
__ADS_1
Gitta menggelengkan kepala. "Tidak. Dia sangat anti dengan dokter. Suami saya takut jarum suntik, Dok."
Dokter Robin hanya terkekeh sebentar sebelum kembali menjelaskan upaya yang harus segera diambil untuk mengatasi penyakit usus buntu Ken. Dan, upaya tersebut adalah dengan melakukan operasi sesegera mungkin. Gitta menyetujui saran dokter. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan sang suami.
Malam itu juga, diputuskan untuk dilakukan operasi untuk Ken. Gitta sudah merasa sedikit tenang setelah mendengar penjelasan dokter.
Gitta memutuskan untuk tidak memberitahu keluarganya lebih dulu agar tidak membuat mereka panik. Gitta akan memberitahu mereka setelah Ken selesai menjalani operasi dan sudah sadar kembali. Gitta berniat akan melakukan video call saat itu.
Kurang lebih sekitar satu jam kemudian, operasi Ken sudah selesai. Namun, dia masih belum dipindahkan ke ruang perawatan karena harus menjalani observasi.
Menjelang pukul sebelas malam, Ken baru bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Gitta yang sudah menyiapkan semua kebutuhannya di sana. Dia meminta asisten rumah tangga untuk membawakan semua keperluannya dan Ken selama berada di rumah sakit.
Setelah memberikan penjelasan kepada Gitta, dokter dan beberapa perawat yang membantu Ken segera undur diri. Kini, hanya tinggal Gitta dan Ken yang berada di dalam ruang perawatan tersebut.
Gitta yang masih berdiri di samping brankar sang suami langsung terisak. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan sang suami meskipun sudah mendapat penjelasan dari dokter.
Gitta mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami yang masih terlelap tersebut. Dia mendaratkan ciumann bertubi-tubi pada wajah suaminya tersebut tanpa melewatkan bagian yang tersisa.
Saat sedang mendaratkan ciumann pada pucuk hidung Ken, tiba-tiba kedua bola mata Ken terbuka. Sontak saja Gitta terkejut melihatnya.
"Mas? Kamu sudah siuman?"
Ken tersenyum dan dengan suara seraknya dia berkata, "Kamu kok cium-cium hidung sih, Yang? Bibir, dong," ucap Ken sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
Satu kata buat Ken....
__ADS_1