
"Ke-keramas?" Kiara masih terengah-engah saat Zee semakin bersemangat.
"Iyaahh, Yang. Biar rambutnya lebath, uughhhh. Harus pakai conditioner."
Kiara tidak mampu lagi menjawab ucapan Zee. Zee masih terus bergerak di bawah sana. Kiara hanya bisa mencengkeram sprei di bawahnya sambil merem melek. Bibirnya tak berhenti mendesahh saat Zee dengan semangat menggencarkan aktivitasnya.
Semakin lama, gerakan Zee semakin cepat. Hingga beberapa saat kemudian, Kiara benar-benar tidak tahan lagi.
"Ma-maasss, a-aakuuu….," Kiara bahkan tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Dia sudah tidak bisa menahan keinginan untuk meledak.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Zee. Dia juga merasakan keinginan untuk meledak. Dengan penuh semangat, Zee mulai menekan dalam dan semakin dalam.
"A-aku juga, Yangg." Zee menggeram dengan tubuh menghentak dalam-dalam di bawah sana.
Kiara dan Zee sama-sana bergetar hebat merasakan pijatan dan semburan conditioner alami Zee. Napas keduanya memburu seolah saling berkejaran. Tubuh keduanya masih bergetar merasakan sisa-sisa aktivitas sore hari mereka.
Hingga beberapa saat kemudian, Zee dan Kiara saling berguling. Tubuh mereka benar-benar lengket penuh dengan keringat.
"Huh huh hah hah, aku caprk sekali, Mas." Kiara masih mengatur napasnya.
"Hhhmmm, sama, Yang. Terima kasih." Zee langsung meraup Kiara ke dalam pelukannya. Wajahnya langsung menelusup pada ceruk leher sang istri. Tak peduli jika tubuh mereka terasa lengket.
Kiara berusaha mendorong wajah Zee dari lehernya. Jika dibiarkan, Zee pasti sudah ancang-ancang untuk ronde kedua, ketiga, dan, ah sudahlah.
__ADS_1
"Lengket, Mas. Gerah, ih." Kiara masih berusaha mendorong wajah Zee.
"Icip-icip sedikit lagi boleh, Yang. Masih kurang ini," ucap Zee sambil mulai melakukan gerakan tusuk menusuk kembali.
Kiara langsung membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia benar-venar geram dengan tingkah sang suami yang seolah tidak ada capeknya tersebut.
"Nggak usah aneh-aneh deh, Mas. Ini sudah sore mau maghrib. Mandi dan langsung pulang. Nggak enak sama Mommy nanti."
Wajah Zee langsung di tekuk dengan bibir cemberut. Namun, dia segera mengikuti permintaan Kiara dan membantu sang istri untuk beranjak menuju kamar mandi.
"Mandi bareng ya, Yang." Zee masih merengek sekaligus memulai modusnya.
"Gantian, ih. Aku nggak percaya jika hanya mandi, Mas."
Kiara tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Dia menyetujui permintaan Zee untuk mandi bersama agar lebih cepat. Namun, ucapan Zee tinggalah ucapan. Mereka kembali melakukan episode lanjutan dari aktivitas yang masih berlanjut tersebut.
Setelah keluar dari kamar mandi, Kiara benar-benar kesulitan bergerak, bahkan hanya untuk berjalan. Dengan telaten, Zee membopong sang istri ke luar kamar mandi. Dia juga membantu mengeringkan tubuh dan rambut Kiara. Zee juga membantu memakaikan baju Kiara yang baru saja di ambil dari lemari baju. Dia juga segera mengganti baju dan mengajak Kiara keluar kamar setelah semua siap.
Baru beberapa langkah mereka keluar kamar, langkah kaki keduanya terhenti saat sebuah suara mengisi indera pendengar mereka.
"Mommy kan sudah bilang jangan sering-sering mengganggu istri kamu, Zee. Kia sedang hamil. Mommy nggak mau jika Kia dan calon cucu Mommy kenapa-napa karena ulah kamu." Suara Gitta langsung menyambut Zee dan Kiara setelah keduanya keluar kamar.
Zee dan Kiara tampak malu saat mendapati sang mommy menatap mereka dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Zee nggak gangguin Kia kok, Mom. Suer. Tanya saja Kia jika nggak percaya. Benar kan, Yang?" tanya Zee sambil menoleh ke arah Kiara.
Kiara semakin malu. Dia hanya bisa menganggukkan kepala sambil merapatkan tubuh kepada sang suami. Melihat reaksi Kia, Gitta menjadi semakin gemas dengan sang putra.
"Cckkk. Mana berani istri kamu mengaku, Zee. Kamu itu persis seperti Daddymu."
Belum sempat Zee menjawab ucapan sang mommy, terdengar sebuah suara dari arah dapur.
"Tentu saja Zee mirip denganku, Yang. Bibitku unggul dalam segala hal." Ken tiba-tiba ikut nimbrung saat pembicaraan absurd tersebut masih dilakukan.
"Cckkk. Bibit unggul apanya. Coba, bagian mana yang Mas Ken unggulkan?" Kali ini, Gitta menoleh sambil menantang sang suami.
"Lhah, kok masih tanya? Itu, yang setiap malam berhasil buat kamu kelojotan, bahkan selalu minta bolak balik posisi atas bawah, karena apa coba?"
Gitta langsung melongo saat mendengar jawaban sang suami. Dia melirik putra dan menantunya yang sedang berusaha menahan tawa.
"Karena capek, Mas. Keju boyokku." Gitta menjawab sekenanya.
"Baiklah, baiklah. Nanti nggak usah tiduran jika capek. Duduk saja sambil aku pangku, bagaimana?" tanya Ken sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
\=\=\=
Boyok, oh boyok.
__ADS_1