Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 186


__ADS_3

"Ti-tidak benar. Kami sama sekali tidak seperti itu. Kami sudah menganggapmu seperti keluarga sendiri. Bahkan, aku juga yang telah membiayai biaya pengobatan nenek kamu, kan?" ucap Narti sambil menatap ke arah Kiara.


Sontak saja Kiara dan Zee langsung mendengus kesal setelah mendengar ucapan Narti. Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu.


"Membiayai pengobatan? Apa tidak salah?" Kiara menatap sinis ke arah Narti. "Kamu memang membiayai rumah sakit nenekku. Tapi, itu hanya biaya kamar selama kurang lebih tiga minggu. Untuk obat dan biaya lainnya, aku yang mencari sendiri untuk pengobatan nenek. Masih mau mengaku jika sudah membiayai pengobatan nenek? Bahkan, kamu sudah menghentikan pembayaran ruang perawatan nenek."


Narti dan Ferdi tampak pucat. Entah mengapa mereka tidak berani menjawab ucapan Kiara. Rencana yang mereka susun sejak dari rumah, langsung berantakan begitu mereka berhadapan langsung dengan Zee dan Kiara.


"Ti-tidak. Bu-bukan se…," belum selesai Narti menyampaikan pembelaannya, Zee sudah menyahuti. Dia terlihat sudah sangat kesal.


"Sebagai suami Kia, aku mengucapkan terima kasih karena sudah membantu biaya pengobatan nenek Kia meski hanya sedikit. Aku akan mengganti biaya rumah sakit yang sempat kalian keluarkan untuk nenek Kia," ucap Zee.


Tak perlu menunggu lebih lama, Zee langsung beranjak dan berjalan menuju ruang kerjanya yang terletak di samping ruang tamu. Dia mengambilkan uang untuk ganti rugi biaya pengobatan nenek Kiara.


Begitu Zee menghilang dari pandangan, Ferdi langsung mengubah ekspresi wajahnya. Dia menoleh dan menatap Kiara dengan wajah menahan amarah.

__ADS_1


"Oh, rupanya sekarang kamu sudah mulai bertingkah, ya? Setelah menikah dengan orang kaya, kamu sudah mulai berani menjawab perkataan kami, hah?!" Ferdi masih menatap tajam ke arah Kiara.


Bukannya takut, Kiara balas menatap wajah Ferdi dan Narti bergantian.


"Sebenarnya, aku tidak takut dengan kalian. Aku menuruti keinginan kalian dulu, karena aku tidak mempunyai apa-apa untuk memberikan pengobatan kepada nenek. Bahkan, aku tidak mempermasalahkan saat kalian mengambil alih tanah ayah."


"Namun sekarang, aku tidak akan tinggal diam lagi jika kalian menindasku. Aku bukan Kiara yang selalu menuruti keinginan kalian seperti dulu lagi." Kiara tampak menahan emosi saat menjawab ucapan Ferdi.


Belum sempat Ferdi dan Narti menjawab Kiara, Zee terlihat keluar dari ruang kerjanya. Ditangannya, ada sebuah amplop yang cukup besar berwarna coklat, dan tampak tebal. Ferdi dan Narti yakin, jika amplop tersebut berisi sejumlah uang.


"Itu uang sebagai ganti biaya rumah sakit nenek Kia. Aku rasa, itu lebih dari cukup untuk mengganti biaya ruang perawatan selama kurang lebih tiga minggu," ucap Zee.


Narti dan Ferdi tampak saling pandang. Mereka sama sekali tidak menduga jika Zee akan dengan mudahnya memberi mereka uang.


"I-ini, sebenarnya tidak usah…," Narti hendak menolak, tapi Ferdi buru-buru menepuk tangan sang ibu dengan pelan agar menghentikan ucapannya.

__ADS_1


Zee dan Kiara yang melihat hal itu, tampak jengah. Zee sudah menduga apa yang mereka inginkan saat mendatangi rumahnya hari itu.


"Uang ini, bukan hanya sebagai ganti rugi untuk pengobatan nenek Kia. Tapi juga, sebagai ganti biaya Kia hidup menumpang di rumah kalian setelah ayahnya meninggal. Uang itu, ada dua ratus juta pada amplop tersebut. Dan, aku kira itu lebih dari cukup untuk biaya semuanya." Zee masih menampilkan ekspresi datarnya.


Keterkejutan tampak pada wajah Ferdi dan juga Kiara. Namun, mereka buru-buru mengubah ekspresi wajahnya. Secepat kilat, Narti segera mengambil amplop tersebut dan memasukkannya ke dalam tas.


Tak perlu basa basi lagi, Narti dan Ferdi langsung beranjak pamit. Mereka berpikir, jika harus segera pergi dari rumah Zee. Mereka takut jika Zee akan berubah pikiran.


Setelah berada di dalam mobil, Ferdi langsung bersuara.


"Bu, apa rencana kita selanjutnya? Sepertinya, suami Kiara itu orang kaya."


\=\=\=


Ehhmm, orang kaya? 🤔

__ADS_1


__ADS_2