
Kiara hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Tatapannya beralih ke arah Gen yang sudah sibuk dengan mainannya. Kiara memilih untuk tidak menanggapi ucapan Zee karena dia yakin apa yang disampaikan suaminya itu kepada El, pasti tidak akan jauh-jauh dari urusan ranjang.
Hingga tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Zee sudah tiba di rumah keluarga El. Tidak banyak tamu undangan yang hadir saat itu. Hanya ada beberapa kerabat dan orang-orang penting kenalan orang tua El.
Zee segera membantu sang istri turun dari mobil, dan mengambil alih Gen ke dalam gendongannya.
"Gen jalan sendiri atau gendong Daddy?" tanya Zee setelah Kiara keluar dari mobil.
Gen tampak melihat sekeliling. Dia merasa tempat itu masih baginya. Seketika Gen langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Zee.
"Ndong."
Gen lebih memilih digendong karena masih merasa asing dengan tempat tersebut. Apalagi, Gen tidak melihat ada anak kecil di sana.
Kiara menempel di samping kiri Zee. Dia melihat sekeliling dan tidak menemukan seseorang yang dikenalnya.
"Mas, aku sama sekali tidak mengenal para tamu undangan disini," bisik Kiara di dekat telinga Zee.
__ADS_1
"Ini semua tamu undangan Om Kenzo, daddynya El. Jadi wajar jika tamunya seusia Daddy dan Papa," jawab Zee sambil menarik tangan Kiara menuju pintu utama rumah El.
"Teman dan sahabat Kak El? Masa iya nggak ada yang diundang."
"Setahuku tidak ada. Tapi, mungkin Revina juga datang. Kamu bisa ikut bergabung dengannya nanti."
Seketika Kiara menoleh dan menatap wajah Zee dengan tatapan tajamnya. Awalnya, Zee tidak menyadari tatapan sang istri. Namun, setelah Zee menoleh ke arah Kiara, dia baru menyadari jika istrinya itu tengah kesal.
"Eh, a-ada apa, Yang?"
Kening Zee berkerut saat mereka melangkah menaiki undakan di teras rumah utama. Belum sempat Zee bersuara, sebuah sapaan langsung terdengar di telinga Zee dan juga Kiara.
"Kak Zee, Kia, Gen? Kalian sudah datang?"
Sontak saja Zee dan Kiara langsung menoleh ke arah pintu. Terlihat seorang perempuan yang terlihat sangat cantik dengan dress berwarna pastel tersebut. Rambut yang di gelung ke atas dan menyisakan beberapa helai di bagian kanan kirinya, membuat perempuan tersebut terlihat sangat cantik.
Zee dan Kiara langsung memasang senyuman saat melihat perempuan itu berjalan mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Sudah dari tadi, Rev?" tanya Zee. Ya, perempuan yang menyapa Zee dan Kiara tersebut adalah Revina.
"Dari pagi sih, Kak. Nemenin Mama bantuin Tante Vanya," jawab Revina sambil masih mengulas senyuman. Tatapan matanya masih memandang ke arah balita yang berada di dalam gendongan Zee.
"Boleh aku gendong Gen?" pinta Revina sambil menoleh ke arah Kiara dan Zee bergantian.
"Boleh, Kak. Tapi, berat badan Gen sudah naik, lho. Apa tidak merepotkan Kak Revina nanti?" tanya Kiara.
"Tenang saja. Aku cukup kuat untuk menggendong anak gemoy ini," jawab Revina sambil menoel pipi gembul Gen.
Apakah Gen kesal? Jawabannya adalah tidak. Dia langsung tergelak saat mendapat godaan dari Revina. Jangan lupakan tangannya juga langsung terulur menyambut uluran tangan Revina ke arahnya.
"Antik (cantik)," ucap Gen sambil langsung nyosor pipi kiri Revina.
Sontak saja hal itu langsung membuat Zee dan Kiara kaget. Kiara tidak menyangka jika Gen akan melakukan hal itu. Kiara merasa tidak enak dengan Revina karena khawatir jika Revina beranggapan dirinya dan Zee yang mengajari Gen.
"Hahaha. Rupanya Gen jauh lebih agresif dari daddynya, ya," ucap Revina sambil masih tergelak.
__ADS_1