Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 27


__ADS_3

"Siapa namanya, Vit?" Gitta menoleh ke arah Vita untuk meminta jawaban.


"Namanya Adira Syafira Putri."


"Wuaahhh, nama yang cantik, seperti pemiliknya." Gitta kembali mengecupi pipi bayi perempuan mungil tersebut.


Vita hanya bisa tersenyum melihat sang sahabat. "Kemana Zee, Git? Kenapa tidak diajak?" tanya Vita.


"Dia ikut Mama dan Papanya."


"Beli mobil-mobilan lagi?"


Kali ini, Gitta dan Ken hanya bisa menghembuskan napas berat sambil mengangguk. Mereka juga heran mengapa sang putra suka sekali dengan mobil-mobilan. Bahkan, di bagian belakang, ada sebuah ruangan untuk menyimpan 'bengkel mobil' milik Zee.


"Sepertinya iya," jawab Gitta.


Vita yang juga sudah mengetahui hal itu hanya bisa terkekeh. "Ya biarkan saja Zee suka mobil-mobilan, Git. Dari pada suka make up-make up an. Kamu pasti akan repot nanti."


Gitta hanya bisa mengangguk mengiyakan. Hari itu, Gitta berada di rumah sakit hingga menjelang siang. Mereka segera pamit saat Gilang, suami Vita, sudah kembali.


"Mas, kita mampir ke minimarket sebentar ya," ucap Gitta saat berada di dalam kendaraan.


"Iya."


Tak butuh waktu lama bagi Gitta untuk memilih barang belanjaan. Sekitar satu jam kemudian, Gitta sudah selesai berbelanja. Setelah itu, mereka segera melanjutkan perjalanan menuju rumah.


"Yang, nanti aku ke tempat Om Axcell sebentar ya," ucap Ken saat membantu sang istri membawakan barang belanjaannya.


"Eh, mau ngapain? Awas saja jika mau modifikasi kendaraan." Gitta langsung melotot ke arah Ken.


"Enggak, Yang. Ada yang mau aku bahas. Ada beberapa yang butuh bantuan Om Axcell."


Gitta hanya bksa mengangguk-anggukkan kepala.


***


Sementara di tempat lain, Zee terlihat tengah berada di dalam gendongan mommy Retta.


"Sayang, sama papa dulu, ya. Mama mau ke toilet sebentar," kata mama Retta sambil menurunkan Zee dari gendongannya.


Batita tersebut mengangguk dengan antusias. Dia langsung berjalan menuju sang kakek yang tengah menerima telepon di dekat lift. Mama Retta membuntuti sang cucu hingga sampai pada kakeknya.


"Mas, aku tinggal ke toilet sebentar ya. Jaga Zee. Awas jangan sampai lepas!" Peringat mama Retta.


Seketika Zee langsung menoleh menatap sang papa sambil mendongakkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya, Yang. Tenang saja. Aku akan menjaga Zee." Jawab papa Vanno sambil mematikan panggilan teleponnya.


"Papa, ndong." Kata Zee sambil merentangkan kedua tangannya ke arah papa Vanno.


"Uuhhh, cucu papa sudah besar minta gendong. Nggak mau jalan sendiri nih," ucap papa Vanno sambil mengangkat tubuh sang cucu ke dalam gendongannya.


"Ndak au. Ji apek," jawab Zee sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher sang kakek. 


Saat itu, terlihat seorang laki-laki dan berjalan untuk menghampiri papa Vanno dan juga Zee.


"Pak Vanno? Waahh, kebetulan sekali bertemu dengan Anda di sini. Apa kabar?" Sapa seorang laki-laki yang berusia sekitar lima puluh tahun tersebut.


"Selamat siang. Saya baik, pak Bram. Anda bagaimana kabarnya? Kebetulan bertemu di sini. Sendirian Pak?"


"Saya baik, Pak. Saya sedang menemani istri belanja di dalam sana," jawab pak Bram sambil menunjukkan sebuah gerai baju.


Papa Vanno hanya mengangguk-angguk mengiyakan.


"Waahh, ini putra Anda, pak Vanno? Tidak disangka Anda yang sudah berusia diatas empat puluh tahun masih bisa menggoyang pulau kapuk hingga membuat bu Vanno melahirkan lagi, hehehe." Kata pak Bram setelah menatap wajah Zee yang bisa dikatakan mirip dengan papa Vanno.


"Anda bisa saja, pak Bram. Kalau untuk menggoyang pulau kapuk saja tidak harus melihat usia, Pak. Yang harus diperhatikan adalah stamina dan pandai-pandai memberikan rangsangan kepada pasangan. Dijamin, hal itu pasti akan membuat kita puas lahir batin." Jawab papa Vanno sambil berbisik kepada pak Bram.


Seketika pak Bram tertawa lepas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Vanno akan mengatakan hal seperti itu. Pasalnya, saat mereka bertemu di kantor, hal yang dibahas adalah seputar pekerjaan.


"Banyak-banyak olahraga, mengkonsumsi makanan sehat, dan yang paling penting, jangan terlalu stress, Pak."


"Saya sudah melakukannya dengan baik, Pak. Bahkan, saya juga sudah konsultasi dengan dokter. Namun, hasilnya tetap saja sama. Perlu perjuangan lebih keras agar bisa hidup, Pak."


"Oh ya? Kira-kira kenapa bisa begiti ya, Pak?" Gumam papa Vanno.


"Entahlah, Pak. Atau mungkin, saya membutuhkan power socket baru ya Pak? Hehehe."


"Waahh mungkin perlu dicoba itu, Pak. Siapa tahu dengan power socket yang baru bisa berubah dari perjuangan hidup menjadi pandangan atau pegangan hidup. Hehehe." Canda papa Vanno.


Belum sempat pak Bram menjawab candaan papa Vanno, terdengar suara istri pak Bram memanggil namanya. Pak Bram buru-buru berpamitan kepada papa Vanno untuk menghampiri sang istri.


Setelahnya, papa Vanno segera berbalik. Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat keberadaan mama Retta di belakangnya.


Glek.


Papa Vanno benar-benar kaget melihat mama Retta berdiri di belakangnya dengan tatapan tajamnya.


"Yang?"


"Apa yang yang segala? Mau nyoba colokan baru, iya?!"

__ADS_1


"Eh, enggak kok. Kata siapa? Aku nggak mau coba-coba yang baru, kok." Jawab papa Vanno sambil menggelengkan kepalanya.


Mama Retta langsung berjalan mendekati papa Vanno dan mengambil alih Zee ke dalam gendongannya.


"Ayo Zee, kita pulang. Kita tinggalkan papa kamu jika dia mau cari colokan baru."


"Olokan?" Tanya Zee sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher mama Retta.


"Colokan Zee, bukan olokan."


"Tuk asak Ami?"


"Itu ulekan Zee yang dipakai masak mommy kamu," jawab mommy Retta sambil berjalan meninggalkan daddy Vanno. Dia bahkan tidak menggubris saat daddy Vanno memanggil-manggilnya.


***


Menjelang sore, Zee sudah pulang dengan diantar oleh daddy Vanno dan juga mommy Retta. Ken juga terlihat sudah pulang dan sedang memakan potongan buah mangga di mini bar yang ada di dekat meja makan. Dia menoleh ke arah ruang depan saat mendengar suara sang putra.


"Tediii!" Teriak Zee sambil mengulurkan kedua tangannya. Dia berjalan tergopoh-gopoh menuju Ken.


Hap. Ken langsung meraup Zee ke dalam gendongannya. Ken menciumi pipi gembil Zee sambil menggendongnya.


"Zee capek?" 


"Apek."


"Mau mandi sekarang?" 


"Tak au." Zee langsung menggelengkan kepalanya. Dia menoleh ke arah dapur, namun tidak mendapati sang mommy di sana. "Ami ana? (Mommy dimana?)"


"Mommy mandi Zee. Zee mau mandi?"


"Andi Ami? (Mandi sama mommy?)"


"Iya. Mau?"


"Au." Zee mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat. Begitu mendapat persetujuan sang putra, Ken segera beranjak menuju kamarnya.


Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar perkataan daddy Vanno. "Astaga, mangga masam begini kamu makan, Ken! Mau sakit perut kamu?" gerutu daddy Vanno.


"Mana ada mangga masam, Dad. Manis begitu."


"Masam ini, Ken."


"Itu bukan masam, Mas. Mangganya memang manis. Mulut kamu saja yang kebanyakan merasakan mayonise alami," ucap mommy Retta dari arah dapur.

__ADS_1


__ADS_2