Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 48


__ADS_3

Malam itu, Ken dan Dino sudah menunggu pihak Tirta Omega di sebuah restoran. Tak begitu lama kemudian, Terlihat tiga orang yang datang menghampiri mereka. Ketiganya dipersilahkan untuk menempati kursi yang sudah tersedia.


"Kita makan malam dulu. Setelah itu, kita bisa melanjutkannya dengan pembicaraan kita." Ken berucap setelah semua orang duduk di kursinya masing-masing.


"Baik," jawab mereka bersamaan. Setelah itu, mereka semua memesan makan malam. Ada beberapa obrolan ringan selama makan malam. Hingga beberapa saat kemudian, makan malam tersebut sudah selesai.


"Baiklah Bapak-bapak semua, saya kira Anda semua sudah mengetahui apa maksud pertemuan kita malam ini," ucap Ken memulai pembicaraan. "Saya tidak akan bertele-tele. Seperti kesepakatan awal, sumber air yang ada di lokasi pembangunan resort tersebut akan digunakan untuk keperluan resort. Kita sudah sepakat sebelum ini, kan? Dan untuk sumber air perusahaan kalian, kami mengizinkan kalian tetap memakai di sumber air bagian utara."


"Meskipun itu masih di kawasan resort, tapi kami tidak mempermasalahkannya. Silahkan jika kalian atau penduduk setempat memakai sumber air yang di sebelah utara. Untuk akses jalan menuju lokasi tersebut, kami juga sudah mulai membangunnya. Tentunya, Anda semua sudah mengetahui dengan pasti hal itu. Saat ini, pembangunan jalan menuju lokasi sudah berjalan." Ken menjelaskan kembali kesepakatan beberapa bulan yang lalu.


"Selanjutnya, untuk masalah pembangunan resort dan warga setempat, seharusnya tidak ada masalah. Kami dan pemerintah setempat sudah mencapai kesepakatan. Pihak kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin tetap memberikan kemudahan bagi warga setempat. Tapi, sejak beberapa hari yang lalu, ada sedikit masalah di lapangan. Apa kalian bisa menjelaskan hal itu?"


Ken menatap satu persatu laki-laki yang ada di depannya tersebut. Bukan maksud Ken mengintimidasi, namun Ken harus menegaskan jika kesepakatan yang sudah diputuskan bersama, tidak bisa seenaknya dilanggar. 


Terlihat wajah ketiga orang tersebut sedikit tegang. Mereka menoleh saling pandang dengan ekspresi tak terbaca.


"Ehem, sebelumnya kami mohon maaf, Pak. Apa maksud Anda mengatakan hal itu? Kami perwakilan dari Tirta Omega, dan kami juga mengetahui kesepakatan yang sudah disepakati bersama beberapa waktu yang lalu."


Ken sudah menduga jika mereka akan mengakui perbuatannya. Dia menyunggingkan senyuman sekilas dengan tatapan yang masih tajam menatap ke arah mereka.


"Bagus. Kami juga sangat berharap pihak kalian menepati kesepakatan tersebut. Kami pun juga sudah menjalankan bagian kami dengan baik," ucap Ken.


"Tentu saja, Pak. Kami juga sudah menjalankan bagian kami dengan baik," jawab salah satu dari mereka.


Ken tampak mencibir. Tentu saja dia sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kali ini, bukan hanya dugaan atau asumsi semata. Ken sudah punya bukti tentang hal itu. Bukan Keenan Alexander jika hal sekecil ini tidak bisa diatasi.

__ADS_1


"Baiklah. Kami senang jika kalian menjalankan kesepakatan ini dengan baik. Tapi, jika sampai kejadian kemarin terulang kembali, aku pastikan perusahaan kalian tidak akan ada lagi." Ken masih menatap ketiga laki-laki di depannya tersebut dengan tatapan tajam. Jangan tanyakan bagaimana aura Ken saat itu. Entah bagaimana dia bisa memiliki aura garang seperti sang daddy jika tengah di usik.


Glek. Glek. Glek.


"Ma-maksud, Anda?" Salah satu dari mereka tergagap bertanya.


"Jangan kalian pikir kami tidak tahu jika kejadian demo kemarin adalah perbuatan kalian."


Jedeeerrrrr. 


Ketiga orang tersebut cukup terkejut. Mereka mendadak pucat pasi setelah mendengar perkataan Ken. 


"A-anda bercanda? Mana mungkin kami melakukan tindakan seperti itu."


Ken mendengus kesal. "Ckckck. Kalian masih butuh bukti? Perlukah aku keluarkan semua buktinya disini?"


"Ka-kami…," belum sempat mereka menyelesaikan perkataannya, Ken sudah lebih dulu menyela.


"Aku tidak akan mengambil tindakan atas kejadian kemarin. Tapi, aku pastikan jika kejadian seperti kemarin terulang lagi, perusahaan kalian akan aku beli." Ken menatap ketiga laki-laki tersebut dengan tatapan menusuknya.


Glek. Lagi-lagi nyali ketiga orang tersebut menciut. Ya, sejak saat itu, mereka cukup mengetahui siapa Keenan Alexander Geraldy sebenarnya.


Ketiga orang tersebut mengangguk-anggukkan kepala. Mereka sudah tidak bisa mengelak lagi. 


"Kami pegang janji kalian. Jika kejadian seperti kemarin terulang lagi, jangan harap kalian bisa tetap bekerja. Ini sebagai pengingat bagi kalian," ucap Ken sambil memberikan beberapa lembar foto kepada ketiga orang tersebut.

__ADS_1


Seketika mereka mendadak panik. Terlihat mereka sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa orang. Salah satunya adalah Imron, kaki tangan mereka.


"I-iya, Pak. Kami minta maaf."


"Ingat, jangan di ulangi lagi. Kami tetap mengawasi gerak gerik kalian."


Ketiga laki-laki tersebut mengangguk bersamaan. Setelah itu, Ken beranjak berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Dino. Beberapa pengawal yang sejak tadi mengikuti Ken juga beranjak dari restoran tersebut. Tim kuasa hukum Ken yang juga berada di sana mengikuti Ken keluar dari restoran


Setelah berbincang sebentar, malam itu juga Ken dan Dino segera kembali ke Surabaya. Ken bersyukur semua agenda hari ini bisa berjalan sesuai rencana.


Menjelang pukul satu dini hari, Ken dan Dino sudah sampai di rumah papa Evan. Ken meminta Dino menginap di rumahnya. Mau tidak mau, Dino mengiyakan permintaan Ken.


Ken segera berjalan menuju kamarnya. Terlihat jika istri dan putranya tertidur dengan lelap. Gitta menyadari kedatangan sang suami dan langsung beranjak dari tempat tidur.


"Sudah pulang, Mas?"


"Iya. Maaf aku membangunkanmu, Yang." Ken mencium bibir Gitta sekilas.


"Nggak apa-apa. Bersih-bersih dulu, gih. Aku siapkan baju gantinya."


"Mandiin, Yang. Aku capek seharian ini tadi." Ken sudah mulai dengan mode 'ngalem' on.


Belum sempat Gitta menjawab perkataan Ken, terdengar rengekan Zee dari arah tempat tidur. 


"Ami, mimi cucu."

__ADS_1


\=\=\=


Tinggalkan vote buat Zee, dong 🤧


__ADS_2