
Sepanjang perjalanan menuju kantor cabang Surabaya, Ken masih terlihat begitu kesal saat mengingat percakapan Dino dan putranya tadi di rumah. Bisa-bisanya Dino menanyakan hal seperti itu kepada zee. Ken masih menggerutu tidak jelas.
Dino semakin salah tingkah saat mendengar gerutuan sang atasan. Dia menjadi serba salah ketika hendak berbicara.
"Maaf, Pak. Tadi saya benar-benar tidak bermaksud apa-apa." Dino akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. Dia tidak ingin Ken menjadi semakin kesal.
Ken menoleh ke arah Dino sekilas sambil mencebikkan bibir. "Lain kali, jangan suka aneh-aneh saat berbicara dengan Zee. Dia sangat cepat menyerap informasi apapun yang didengarnya."
Dino mengangguk-anggukkan kepala. "Baik, Pak. Saya akan mengingatnya."
Setelah itu, obrolan antara Ken dan Dino kembali berlangsung hingga sampai di kantor cabang Surabaya. Pagi itu, Ken harus menyelesaikan permasalahan kemarin yang sempat membuat pembangunan proyek mereka terhenti. Ken dan Dino langsung mengumpulkan beberapa pihak terkait dan mulai untuk membahas langkah selanjutnya.
Sementara di rumah papa Evan, Gitta sedang bersiap untuk pergi ke supermarket bersama dengan Zee. Menjelang pukul sepuluh, Gitta dan Zee sudah siap untuk berangkat. Dengan diantar sopir, Gitta dan Zee sudah berada di dalam kendaraan menuju supermarket terdekat.
"Ami, anti beyyi itan?" Zee yang saat itu tengah mengenyot botol susunya, menoleh ke arah sang mommy.
"Eh, Zee mau beli ikan?"
"Ja! Ji au beyyi itan anyak (Iya. Zee mau beli ikan banyak)"
Gitta tersenyum sambil mengecup pucuk kepala sang putra. "Baiklah. Nanti kita beli ikan yang banyak. Sekalian, beli ikan untuk aquarium di rumah, okay?"
"Ote!"
Zee tampak bersemangat. Dia masih saja mengoceh tentang segala sesuatu yang dilihatnya di sepanjang jalan. Dengan sabar, Gitta menjawab segala rasa penasaran sang putra.
Tak berapa lama kemudian, Gitta dan Zee sudah sampai di supermarket. Zee sudah langsung nangkring pada trolley yang tengah didorong oleh Gitta. Saat sedang memilih barang belanjaan, terdengar suara ponsel Gitta. Saat itu, Zee sedang memainkan botol madu yang sudah diambil Gitta langsung mendongakkan kepala.
"Capa?" Zee rupanya cukup penasaran dengan telepon sang mommy.
"Eh, ini Daddy, Sayang. Zee mau ngomong?"
__ADS_1
Zee langsung mengangguk-anggukkan kepala. Dia cukup bersemangat menerima telepon yang diberikan oleh sang mommy. Terlihat Gitta sudah menyambungkan panggilan video tersebut. Tampak wajah Ken sudah terlihat di sana.
"Hallo, Boy. Sedang apa ini jagoannya Daddy?"
"Beyanja. Tedi cini? (Belanja. Daddy tidak kesini?)"
"Iya, Sayang. Ini Daddy mau menjemput Zee. Tungguin Daddy, ya."
"Ja!" Zee mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh antusias.
"Baiklah, Daddy tutup teleponnya dulu. Kasih kiss dong buat Daddy." Ken memonyongkan bibirnya mendekati layar ponsel.
Zee yang sudah mengerti pun langsung mendekatkan wajahnya pada layar ponsel. Dia segera memberikan kecupan basahnya di sana. "Eemuuuaaahh."
Setelahnya, panggilan video tersebut terputis. Zee memberikan ponsel sang mommy kembali. Setelah itu, mereka kembali menyusuri rak untuk mencari barang yang Gitta perlukan.
Beberapa saat kemudian, Zee minta turun dari trolley. Dia ingin berjalan saja. Gitta menurunkan Zee namun tetap mengawasi sang putra. Gitta pasti akan langsung memanggil sang putra jika Zee berjalan terlalu jauh darinya. Gitta juga tak berhenti mengajak berbicara putranya tersebut.
"Eh, mau apa?" Gitta menghentikan langkah kakinya saat melihat sang putra tengah menunjuk sesuatu.
"Au tu."
Kening Gitta berkerut saat melihat Zee tengah menunjuk kumpulan wortel.
"Wortel? Zee mau wortel?"
"Ja. Au otel." Zee tampak mengangguk-anggukkan kepala.
"Buat apa wortel, Sayang?"
"Ji au beyican Nyedit. (Zee mau belikan Nyedit)"
__ADS_1
Oh astaga, Nyedit mau dicekokin wortel sama Zee 😪
"Eh, nggak bisa, Sayang. Nyedit tidak makan wortel."
"Tak mamam otel?"
"Tidak, Sayang. Nyedit itu kucing Syang. Dia makan daging."
"Tenapa? Ji mamam otel."
Gitta tampak bingung saat mendengar pertanyaan sang putra. Namun, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi keduanya.
"Kucing tidak makan wortel, karena matanya sudah bagus. Anak kecil harus makan wortel agar matanya bagus."
Baik Zee dan Gitta langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka tidak mengenal laki-laki yang berada di belakang mereka tersebut.
"Ata Ji badus. Nih Ji bica tedip-tedip. (Mata Zee bagus. Nih Zee bisa kedip-kedip)"
Laki-laki tersebut tampak mengulas senyuman. Dia menatap Zee dengan tatapan lembutnya.
"Putranya pinter. Cakep lagi seperti mamanya," ucap laki-laki tersebut.
Belum sempat Gitta menjawab perkataan laki-laki tersebut, terdengar suara dari arah belakang mereka.
"Dia cakep bukan hanya karena Momnynya, tapi juga karena Daddynya tak kalah cakep."
\=\=\=\=
Ayo, bayangin Zee kedip-kedipÂ
__ADS_1