
Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Wawan berpamitan. Dia mengatakan akan langsung ke kantor polisi untuk mencabut tuntutannya.
Setelah kepergian Wawan, Zee langsung menghubungi sang daddy dan pengacaranya. Pagi itu juga, semua urusan di kantor polisi akan diselesaikan oleh pengacara keluarga.
"Kamu tenang saja, Zee. Biar pengacara yang mengurus semuanya. Jangan kemana-mana dulu. Nanti, tunggu informasi dari Daddy. Kita masih menunggu perkembangan dari Surabaya," ucap Ken saat Zee menghubunginya.
"Iya, Dad. Aku juga masih menunggu informasi dari Om Juan."
"Bagus."
Setelahnya, panggilan telepon Zee dengan Ken terputus. Zee segera beranjak menuju ruang tengah tempat Kiara sedang menyusuii sang putra. Zee langsung mendudukkan diri di samping Kiara.
Sebuah kecupan mendarat pada pipi Kiara sesaat setelah Zee duduk di samping Kiara.
"Bagaimana, Mas?" tanya Kiara sambil menoleh ke arah Zee.
"Kamu tenang saja, Sayang. Semua sudah diurus oleh pengacara. Kita tinggal menunggu perkembangan selanjutnya."
"Kamu yakin jika Wawan itu jujur, Mas?"
"Kalau dilihat dari ekspresi wajahnya, aku yakin dia jujur, Yang. Terlihat sekali dia tertekan."
"Lalu, tadi yang dikatakan Wawan, apa benar semua itu perbuatan Daddy, Mas?"
__ADS_1
"Maksud kamu tentang pemberhentian kerja tadi?"
"Iya."
"Benar. Om Juan yang melakukan semuanya."
"Semuanya, Mas?" Kiara begitu terkejut mendengar jawaban Zee.
"Iya. Untuk melakukan hal seperti itu, bukan perkara sulit bagi Om Juan, Yang."
Kiara hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Dia mulai mengerti sampai sejauh mana kemampuan keluarga suaminya itu menyelesaikan masalah sampai akar-akarnya.
"Lalu, sekarang apa yang akan dilakukan oleh Daddy, Mas?" Kiara menarik wajah Zee dari tatapannya yang menatap lapar sumber nutrisi Gen.
Terdengar helaan napas berat saat Zee membenahi posisi duduknya.
"Eh, benarkah? Bagaimana bisa? Apa ada buktinya, Mas?"
"Ada. Beruntung sekali semua tanah itu sudah bersertifikat atas nama kamu, Yang. Untuk detailnya bagaimana, itu jadi urusan Daddy."
Kiara hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Dia merasa bersyukur saat mengetahui Ferdi akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Zee masih menatap wajah sang istri lekat-lekat. Setelah itu, dia mendekatkan wajahnya pada pipi Kiara. Beberapa kecupan pun didaratkan Zee pada pipi istrinya tersebut.
__ADS_1
Kiara langsung mengerucutkan bibir saat mendapati tindakan tiba-tiba Zee.
"Apa-apaan sih, Mas? Ada anak kamu ih."
"Memangnya kenapa jika ada Gen? Biarkan saja dia terbiasa dengan ini sejak kecil. Jadi, Gen tidak akan protes lagi nanti jika sudah besar."
"Cckkk. Mana ada yang seperti itu, Mas?"
"Tentu saja ada. Aku terbiasa melihat Daddy memberikan kecupan kepada Mommy sejak kecil."
"Lalu, kamu merasa biasa saja?" tanya Kiara penasaran.
"Ya, biasa saja sih. Tapi, kadang juga sebel." Zee mendengus kesal jika mengingat tindakan daddynya yang terkadang kelewatan.
"Sebel kenapa?"
"Ya, itu. Terkadang Daddy suka kelewatan memonopoli Mommy."
Kiara hanya bisa menggelengkan kepala. Untuk hal itu, dia masih sering melihat perdebatan kecil antara Zee dan daddynya di awal-awal pernikahan mereka. Jika Zee sedikit menempel kepada mommynya, sang daddy pasti akan berpidato panjang kali lebar. Hal yang sama juga sering dilakukan Zee jika melihat daddy dan mommynya sedikit mesra.
Namun, mereka akan tetap kompak saat membicarakan hal-hal yang cukup serius. Orang tua Zee selalu memberikan dukungan kepada putra semata wayangnya tersebut.
\=\=\=
__ADS_1
Sisakan satu vote buat Zee ya. Kasih like dan komen banyak-banyak buat Zee.
Sebentar lagi, si Ferdi akan terkena karmanya. Cuss kasih dukungan banyak-banyak buat othor juga.