Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 191


__ADS_3

Setelah menyelesaikan aktivitasnya, Zee menarik tubuh Kiara untuk istirahat dalam pelukannya. Kali ini, benar-benar istirahat. Zee tidak ingin Kiara tambah kelelahan.


Dua hari berlalu, Zee baru saja selesai mengadakan penelitian untuk skripsinya. Entah mengapa, dia sangat ingin cepat pulang siang itu. Zee bahkan menolak permintaan sang daddy untuk menemaninya meeting di kantor.


Menjelang makan siang, Zee sudah tiba di rumah. Dia langsung bergegas memasuki rumah untuk mencari keberadaan sang istri.


"Kia dimana, Bi?" tanya Zee saat berpapasan dengan Bi Ani yang terlihat baru saja datang dari teras belakang.


"Eh, Mas Zee sudah datang. Mbak Kia di belakang, Mas. Perutnya sudah mulas-mulas sejak pagi."


Zee terdiam mematung setelah mendengar jawaban Bi Ani. Mulas? Gumam Zee sebelum bergegas menghampiri sang istri setelah meletakkan tas ranselnya sembarangan di atas sofa.


Zee langsung mencari keberadaan Kiara yang ternyata saat itu tengah memegangi perutnya. Kedua bola mata Zee langsung membulat saat melihat Kiara tengah menahan sakit.


"Yang? I-ini kenapa? Mau lahiran?" Zee buru-buru menghampiri Kiara sambil berjongkok di depannya dan mengusap-usap perut.


Kiara masih meringis menahan sakit saat menatap Zee. Dia juga menggigit bibir bawahnya agar tidak kelepasan berteriak. Setelah beberapa saat kemudian, Kiara merasakan perutnya sudah lebih rileks. Dia mulai bisa menegakkan tubuhnya seperti biasa.

__ADS_1


"Iya, Mas. Sepertinya Adik sudah mau lahir ini." Kiara masih mengusap-usap perutnya.


"Kenapa tidak memberitahuku sejak tadi? Kita ke rumah sakit sekarang." Zee langsung beranjak berdiri.


Tanpa menunggu persetujuan Kiara, Zee langsung berjalan cepat menuju kamar untuk menyiapkan keperluan Kiara untuk melahirkan. Dia segera memasukkan barang-barang yang diperlukan ke dalam mobil. Saat itu, Bi Ani sudah kembali menemani Kiara setelah mengambilkan air minum.


Tak berapa lama kemudian, Zee sudah berada di depan Kiara. Dia berniat menggendong Kiara menuju mobil, namun seketika Kiara merasakan kontraksi kembali. Dia mencengkeram lengan Zee dengan kuat. Sedikit rintihan yang berhasil lolos dari bibir Kiara, berhasil membuat Zee mematung seketika. 


Setelah tersadar, Zee langsung panik. "Kia, Sayang, tahan dulu sebentar. Kita akan segera ke rumah sakit. Bi, tolong bawakan air minum untuk Kia!"


"Baik, Mas Zee."


"Ma-masss, sa-sakittt." Kiara merintih sambil memgangi perutnya.


Secepat kilat, Zee langsung melepaskan cengkraman tangan Kiara dan membopongnya menuju mobil. Sambil berjalan, Zee kembali berteriak-teriak meminta bantuan Bi Ani.


"Bi, tolong hubungi Mommy. Bilang Kia sudah mau melahirkan. Aku akan membawanya ke rumah sakit!"

__ADS_1


Bi Ani yang tengah membawa botol minum untuk Kia, langsung berjalan tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Zee yang tengah menggendong Kiara.


"Iya, Mas. Saya akan segera mengubungi Ibu. Awas, Mas. Hati-hati," Bi Ani membantu Zee membukakan pintu mobil.


Setelah mendudukkan Kiara dengan nyaman, Zee langsung bergegas mengitari mobil menuju bagian kemudi. Zee segera menyalakan mobil dan melajukannya menuju rumah sakit.


Selama perjalanan, Kiara masih merasakan kontraksi. Wajahnya sudah sangat pucat saat menahan bibirnya agar tidak berteriak. Melihat hal itu, Zee semakin panik.


"Sayang, tahan sebentar lagi, ya. Ini sudah hampir sampai. Kalau mau teriak, teriak saja. Kalau mau cubit, ini nih, cubit saja tanganku," ucap Zee sambil menyodorkan lengannya di depan Kiara.


Kiara yang saat itu masih memejamkan mata, hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemah. Namun, tangan kanannya langsung menyambar kemeja bagian kiri bawah Zee dan mencengkeramnya dengan kuat.


Kiara tidak mau memegang tangan Zee karena akan sangat berbahaya jika sedang menyetir. Zee membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Kiara. Dia harus benar-benar fokus menyetir agar mereka bisa segera sampai di rumah sakit.


\=\=\=


Otewe jadi Daddy nih si Zee 🤭

__ADS_1


Ada yang masih ingat gemoynya Zee kecil nggak nih 🤗


__ADS_2