
Zee yang mendengar perdebatan kakek dan neneknya langsung buru-buru menghampiri mereka yang tengah berada di ruang tengah tersebut. Dia melihat mama Retta tengah memangku Gen dengan papa Vanno menempel erat pada lengannya.
Zee hanya bisa mendesahkan napas berat melihat tingkah aki dan nini yang sepertinya tidak sadar usia tersebut.
"Astaga, Ma, Pa. Apa sih ribut-ribut terus? Nggak malu apa jika di dengar Gen. Nanti anak Zee jadi terbiasa dengar perdebatan aneh bin absurd dari kalian," Zee langsung protes.
"Cckkk. Apanya yang perdebatan absurd Zee? Jangan suka aneh-aneh. Palingan nanti kamu penyumbang suara absurd terbesar kepada Gen." Papa Vanno langsung menjawab ucapan sang cucu.
Belum sempat Zee menyahuti ucapan sang papa, Kiara sudah lebih dulu memanggilnya.
"Lho, Mas? Kok sudah pulang?" sapa Kiara yang langsung menghampiri sang suami.
"Iya, Yang. Ini baru saja sampai dan langsung menjadi penonton live show Papa dan Mama lagi duet," jawab Zee sambil melirik ke arah sang papa.
"Ccckkk. Live show apa? Kalau kami lagi show, kami juga bakal pilih-pilih untuk dilihat kamu, Zee." Papa Vanno langsung mendengus kesal sambil menatap ke arah sang cucu.
"Eh, memangnya kenapa, Pa?"
__ADS_1
"Takut kamu tiru."
Zee langsung mendengus sambil menatap kesal ke arah papa Vanno.
"Tiru apanya, Pa? Yang ada paling juga Papa tiru-tiru yang muda-muda," jawab Zee tidak terima.
"Eh, jangan salah, ya. Senior-senior begini, Papa masih sanggup buat Mama kamu ngompol berkali-kali, lho," jawab papa Vanno bangga.
"Cckkk, ngompol? Dikira sama dengan Gen kali, Pa."
Belum sempat papa Vanno menyahuti ucapan Zee, mama Retta sudah lebih dulu menghentikan obrolan unfaedah tersebut.
Zee hanya bisa berdecak kesal setelah mendengar mama Retta. Setelah itu, Kiara langsung menarik tangan suaminya menuju kamar. Jika dibiarkan terus berada di sana, bisa dipastikan perdebatan kakek dan cucu tersebut tidak akan ada habisnya.
Setelah makan siang, papa Vanno dan mama Retta langsung berangkat menuju makam kedua orang tua papa Vanno. Hari itu, mereka memang berniat untuk menziarahi makam orang tua mereka tersebut.
Sepeninggal papa Vanno dan mama Retta, kini giliran Kiara berusaha menidurkan putranya. Gen yang sejak tadi bermain-main dengan mama Retta dan papa Vanno, langsung terlelap setelah beberapa saat mendapatkan asupan nutrisi dari mommynya.
__ADS_1
Kiara segera menidurkan Zee ke dalam boxnya setelah dirasa sudah terlelap. Tak lupa juga dia segera merapikan selimut dan juga guling agar putranya tersebut merasa nyaman.
Zee yang menunggu Kiara sambil melihat beberapa email dari ponselnya, langsung bersiap-siap saat Kiara berjalan mendekat ke arahnya. Kening Kiara berkerut mendapati suaminya tersebut menepuk-nepuk bantal.
"Mau apa, Mas?" tanya Kia saat masih berdiri di samping Zee.
"Mau boksi, Yang. Kelonin, ih. Masa hanya Gen saja yang dikelonin." Zee memasang wajah seimut mungkin.
Kiara hanya bisa melongo sambil menatap horor ke arah Zee.
"Astaga, Mas! Masih juga iri sama Gen. Sudah jadi ayah juga masih suka ngawur, ih."
Belum sempat Zee menjawab ucapan Kiara, terdengar ketukan pintu yang memanggil nama Zee.
"Mas Zee, ada tamu di depan."
\=\=\=
__ADS_1
Kiara be like: Alhamdulillah, anak oertama nggak jadi rewel 🤧