
Malam itu juga, Khanza dan Al langsung kembali ke Surabaya. Kini, rumah Ken kembali sepi seperti semula. Ken yang saat itu sedang berada di dapur untuk mengekori sang istri yang sedang membuatkannya kopi, langsung menoleh saat Zee memanggilnya.
"Ada apa, Zee?" Ken langsung melepaskan belitan tangannya pada pinggang Gitta dan berjalan menghampiri Zee yang sudah menarik kursi di dekat pantry.
"Aku dan Kia balik ke rumah ya, Dad, Mom?" tanya Zee. Ya, dia memang sudah sepakat dengan Kiara untuk kembali ke rumahnya jika Gen sudah cukup besar.
"Kenapa? Kalian nggak suka tinggal bareng Mommy dan Daddy?" Kali ini Gitta yang menyahuti ucapan sang putra.
"Eh, bukan begitu, Mom. Ya, kami mau belajar mandiri juga. Masa iya kami masih numpang terus di sini padahal sudah punya rumah sendiri juga," ucap Zee sambil mengerucutkan bibir.
"Cckkk. Kamu ngomong apa sih, Zee. Menumpang apanya? Ini juga rumah kalian. Jangan pernah ngomong seperti itu lagi, Mommy nggak suka ya." Gitta langsung mengeluarkan ekspresi kesal. Ditatapnya wajah sang putra dengan wajah marah.
Melihat hal itu, Zee sudah tidak berani membantah lagi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ken. Jika dia menyahuti ataupun membantah ucapan Gitta, bisa dipastikan hujan-hujan begini dia akan kedinginan lahir batin.
__ADS_1
"Mommy kamu benar, Zee. Jangan berpikiran jika kalian menumpang di sini. Ini juga rumah kalian. Kamu kan tahu jika Mommy dan Daddy hanya punya kamu, Zee. Jadi, semua yang kami miliki, itu berarti juga sudah menjadi milik kamu." Ken buru-buru menimpali ucapan Gitta.
"Iya, Dad."
Rupanya, Zee sudah bisa melihat jika dia tidak akan mendapatkan apa yang diinginkan dalam waktu dekat ini. Apalagi, sang daddy juga sepertinya belum berani membantunya.
"Lalu, kapan kami boleh pindahan? Kalau disini kami kan jadi nggak enak Mom mau ngapa-ngapain," Zee berusaha untuk mencairkan suasana.
"Memang kamu mau ngapain sih, Zee? Mau aneh-aneh sama Kia? Kia juga baru melahirkan. Jangan mengganggunya dulu sebelum dia benar-benar siap," ucap Gitta sambil menyerahkan kopi untuk Ken. Setelah itu, dia ikut bergabung dengan kedua lelakinya tersebut.
Ken dan Gitta saling pandang. Mereka benar-benar tidak menyangka jika Zee sudah mulai berpikiran seperti itu.
"Memang kamu mau ngapain sampai takut ganggu tidur Gen Zee?" tanya Gitta.
__ADS_1
"Ya, i-itu, Mom. Biasa lah, mau lihat-lihat pabriknya Kia. Sudah lama juga nggak beroperasi. Hehehe."
"Cckkk. Baru segitu saja kamu sudah bingung, Zee. Memang kamu mau pakai gaya apa sampai takut ganggu Gen? Mau teriak-teriak sampai jejeritan dan glubak glubuk begitu?" Kali ini Ken yang menyahuti.
"Cckkk, apaan sih, Dad. Ya, bukan begitu juga, sih. Aku hanya nggak mau Gen keganggu aja, kok."
"Gen nggak bakalan keganggu. Dia kan juga tidur di dalam box nya sendiri. Heran deh, ngapain harus khawatir sih?" Gitta masih menatap ke arah sang putra.
"Ya, kalau ada Gen, rasanya harus nahan-nahan gitu, Mom." Zee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau kamu khawatir, nanti biar Gen tidur bareng Mommy dan Daddy," ucap Gitta.
"Eh, kok gitu sih, Yang?"
__ADS_1
\=\=\=
Hayo lho, protes nih si bapack-bapack yang nggak mau ngalah sama anak dan cucu.