
Zee benar-benar geram dengan orang yang telah mengusiknya. Dia segera menghubungi Juan dan memintanya untuk mencari informasi orang yang telah berani mengusiknya. Zee juga langsung mengirimkan nomor orang tersebut kepada Juan.
"Aku tidak akan tinggal diam jika kamu berani mengusikku," geram Zee sambil melanjutkan langkah kakinya.
Sementara itu, Ken baru saja tiba di butik Gitta. Dia tentu saja datang menjemput sang istri bersama dengan cucu tersayang.
"Gen, mau mamam lagi?" tanya Ken sambil berjalan dan menggendong cucunya tersebut.
"Indak au," Gen menggelengkan kepala dengan cepat sambil mengeratkan pelukan pada leher sang kakek.
"Nggak lapar lagi?"
"Indak. Au mimi." Gen langsung menarik-narik kerah kemeja Ken.
"Eh, Gen haus? Mau mimi susu?"
__ADS_1
"Ja." Gen langsung menganggukkan kepala dengan antusias.
Setelahnya, Ken bergegas menghampiri Siska, asisten sang istri untuk meminta bantuan membuatkan susu untuk Gen.
"Sis, tolong buatkan susu untuk Gen, ya. Bawa ke ruangan Ibu," ucap Ken saat sudah berada di depan meja Siska.
"Eh, iya, Pak."
Setelahnya, Siska langsung beranjak untuk membuatkan susu Gen. Sementara itu, Ken melanjutkan langkahnya menuju ruangan Gitta. Ketika Ken hendak mengetuk pintu ruangan tersebut, terdengar suara obrolan dari dalam ruangan. Ken mengurungkan niatnya sebentar untuk menelinga obrolan tersebut.
"Jadi, bagaimana Bu Gitta? Apa sekiranya putri saya bisa bekerja di kantor suami Ibu? Dia seusia putra Ibu lho. Tapi, dia sudah melanjutkan S2. Sekarang, dia tinggal menunggu wisuda," ucap sebuah suara.
"Ma ma ma," celoteh Gen riang sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah sang nenek.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Gitta segera beranjak dan langsung mengambil alih Gen dari gendongan Ken. Balita gemoy tersebut langsung nemplok pada ceruk leher sang nenek.
__ADS_1
Ken melihat sekilas tamu Gitta tersebut sebelum mengambil tempat duduk di sofa yang berada di sebelah kiri meja Gitta. Tatapan matanya masih meneliti tamu Gitta tersebut dengan ekspresi datarnya.
Melihat kedatangan Ken, si tamu tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung berbalik dan menghampiri Ken dengan senyum terkembang.
"Pak Ken, saya beruntung sekali bisa bertemu dengan Anda langsung di sini. Perkenalkan, saya Fika. Saya adalah peelanggan setia butik Bu Gitta," ucap wanita tersebut sambil mengulurkan tangan ke arah Ken.
Ken melihat sekilas ke arah Gitta yang sedang menerima botol susu untuk Gen yang baru saja diberikan oleh Siska, sang asisten.
"Oh, terima kasih, Bu, Anda sudah menjadikan butik ini tempat langganan Anda." Ken menjawab sambil membalas uluran tangan Fika.
"Sama-sama, Pak Ken. Saya sangat puas sekali dengan pelayanan di butik ini. Dan, produk yang dihasilkan juga tidak diragukan lagi."
Ken hanya bisa mengangguk sambil mengulas senyuman tipisnya. Selanjutnya, Fika tampak salah tingkah. Ken sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan oleh wanita yang ada di depannya tersebut.
"Ehm, Pak Ken, sebenarnya saya…," belum sempat Fika menyelesaikan ucapannya, Ken sudah lebih dulu bersuara.
__ADS_1
"Bu Fika, saya memang bekerja di GC. Tapi, saya tidak memiliki wewenang untuk menerima ataupun memasukkan karyawan sesuka hati. Ada bagian tersendiri yang memang mengurusi penerimaan karyawan baru. Dan, perusahaan kami menerapkan seleksi ketat terkait hal itu. Siapa yang memang kompeten, dia pasti akan diterima. Pun juga sebaliknya. Jadi, mohon maaf saya tidak bisa membantu."
Sialan.