Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 108


__ADS_3

Malam itu juga, nenek Kiara langsung dikebumikan. Kiara masih menangis histeris karena kehilangan keluarga satu-satunya yang masih ada. Gitta masih menemani yang menantu. Dia terus memeluk dan memberikan kekuatan kepada Kiara.


Menjelang pukul dua dini hari, seluruh prosesi pemakaman sudah selesai. Nenek Kiara dimakamkan di pemakaman desa mereka. Dengan bantuan pak Idkandar dan pak Warto, semua prosesi pemakaman berjalan dengan lancar.


Malam itu, Zee dan semuanya memilih langsung kembali ke hotel. Mereka tidak mungkin menginap di rumah orang tua pak Iskandar karena tidak membawa perlengkapannya.


Sepanjang perjalanan, Kiara hanya bisa menangis di dalam dekapan mommy Gitta. Wajahnya masih dipenuhi air mata dan terlihat sangat lelah sekali. Zee benar-benar tidak tega melihatnya.


Sesampainya di hotel, mereka semua segera berjalan menuju kamar. Namun, langkah kaki Kiara benar-benar sudah tidak stabil. Dia berjalan terhuyung-huyung dan sesekali hampir terjatuh. Zee melihat hal itu buru-buru memegang bahu Kiara agar tidak terjatuh.


"Zee, kamu gendong istri kamu. Kasihan dia capek sekali. Mommy tidak mau Kia sampai terjatuh," pinta Gitta kepada sang putra.


Tanpa membantah lagi, Zee segera mengangguk. Dia langsung membopong Kiara. Mendapati perlakuan tiba-tiba dari sang suami, Kiara benar-benar terkejut. Dia merasa canggung saat Zee tiba-tiba membopongnya menuju kamar. Namun, karena mommy Gitta yang meminta Zee melakukannya, Kiara tidak membantah lagi. 


Dengan sedikit canggung, Kiara memberanikan diri mengalungkan kedua tangannya pada leher Zee. Dia juga menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.


Zee bisa merasakan hembusan napas Kiara pada ceruk lehernya. Hal itu membuat jantungnya berdegup cukup berantakan.


Setelah sampai di kamar, Zee meminta Kiara untuk membersihkan diri dulu sebelum tidur. Mau tidak mau, Kiara menuruti perkataan sang suami karena merasa tubuhnya juga sudah sangat lengket. Setelah semua selesai membersihkan diri, Kiara dan juga Zee langsung terlelap karena tubuh mereka benar-benar merasa lelah. 


Keesokan siang, Zee dan keluarganya berkumpul untuk makan siang. Hari itu, akan diputuskan apa yang akan dilakukan setelah ini.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu tidak punya keluarga lain selain nenek kamu?" tanya mommy Gitta disela-sela aktivitas makan siang mereka.


Kiara menggelengkan kepala. "Tidak ada, Mom."


Semua yang berada di sana mengangguk-anggukkan kepala. "Begitu. Lalu, apa kamu tidak apa-apa jika ikut kami kembali ke Jakarta?" lanjut mommy Gitta.


Kiara menatap wajah sang mertua dan menggelengkan kepala. Ya, dia sudah memutuskan hal itu sejak semalam. Kiara sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain suami dan keluarga barunya tersebut. Dia pasti akan ikut kemanapun suaminya pergi.


"Iya, Mom. Aku akan ikut kemanapun mas Zee pergi," ucap Kiara dengan kepala menunduk.


Melihat hal itu, semua orang merasa lega. Mommy Gitta bahkan langsung memeluk tubuh Kiara. Dia merasa sangat bahagia sekali.


Sore itu, diputuskan semua keluarga Zee langsung kembali ke Surabaya. Mereka akan kembali ke Jakarta malam harinya. Kiara juga sudah membawa semua surat-surat berharga miliknya, seperti ijazah dan sertifikat tanah terakhir yang dimilikinya. 


Hal yang sama juga dilakukan oleh Ken dan Gitta. Gitta segera beranjak menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Dia benar-benar ingin segera membersihkan tubuh yang terasa sangat lengket.


Namun, begitu Gitta memasuki kamar mandi, tiba-tiba Ken ikut nyelonong masuk. Gitta langsung menoleh ke arah sang suami.


"Gantian ih, Mas. Ngapain masuk ke sini sekarang?" Gitta masih menggerutu kesal.


"Kelamaan, Yang. Aku sudah gerah banget ini. Lengket sekali rasanya tubuh ini." Ken langsung melucuti bajunya hingga membuat tubuhnya benar-benar polosan.

__ADS_1


Melihat hal itu, mendadak perasaan Gitta menjadi tidak enak. Dia bisa memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apalagi, saat melihat Kj sudah melambai-lambai dengan sempurna.


"Kamu niat mau mandi apa niat mau celup-celup sih, Mas?" tanya Gitta dengan tatapan masih mengarah ke bagian menegang tersebut.


Ken langsung nyengir saat mendengar pertanyaan sang istri. "Tentu saja mandi, Yang. Tapi, mandiin Kj dulu di sumur pribadinya, ya? Kasihan dia sudah lama belum mandi. Hehehe," ucap Ken sambil berjalan mendekati Gitta.


Melihat tingkah sang suami, Gitta hanya bisa mendengus kesal. Namun, gerakan tangannya berkata lain. Gitta bahkan dengan cepat membuka kancing bajunya sendiri dengan suka rela.


Ken yang melihat hal itu menjadi semakin gemas. "Nah, begitu, dong. Aku kan jadi nggak ribet lagi buka-bukaan. Hehehe."


Gitta masih mengerucutkan bibirnya. "Itu sih maunya kamu, Mas."


Alis Ken terangkat. "Yakin kamu juga nggak mau, Yang?"


"Nggak!"


"Beneran, nih?"


"Nggak nolak maksudnya. Hehehe,"


Belum sempat Gitta berbalik, Ken sudah langsung menyerangnya. Gitta benar-benar gelagapan dengan ulah sang suami.

__ADS_1


"Astaga, Mas! Jangan langsungan, ih. Seret, Mas. Kegedean."


🙄🙄🙄


__ADS_2