
Setelah berpamitan dengan Kiara, Gitta dan Ken segera bergegas ke rumah sakit. Mereka ingin sekali segera sampai ke sana.
"Apa kamu yakin ini murni kecelakaan, Mas?" tanya Gitta setelah mobil yang dikendarai Ken keluar dari kompleks perumahan mereka.
Ken menoleh sekilas ke arah Gitta. "Aku juga belum tau, Yang. Tapi, aku sudah meminta Juan untuk menyelidiki masalah ini."
Gitta hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Ya, Gitta cukup tahu siapa Juan sebenarnya. Dia mengikuti jejak sang ayah, Hansen, dengan menjadi detektif handal yang bekerja dengan GC. Jangan ditanya jaringan yang dimiliki oleh Juan. Jaringan yang dimilikinya sudah tersebar hampir diseluruh belahan dunia.
Tak butuh waktu lama, Ken dan Gitta sudah tiba di rumah sakit. Mereka langsung bergegas menuju IGD tempat dimana Zee sudah menunggunya.
Beberapa saat kemudian, Ken dan Gitta sudah berada di depan IGD. Mereka melihat Zee yang tengah berhadapan dengan beberapa orang laki-laki. Ken dan Gitta buru-buru menghampiri putranya tersebut.
"Ada apa ini?" Ken langsung bertanya begitu mereka sudah berada di samping Zee.
Sontak saja semua orang, termasuk Zee, langsung menoleh ke arah Ken. Gitta yang saat itu melihat sang putra, langsung berjalan mendekat dan memeluk tubuh Zee. Tangisnya hampir luruh saat kedua tangan Zee balas memeluknya. Namun, sekuat tenaga Gitta menahan agar tidak menangis. Dia tidak ingin membuat putranya semakin khawatir.
"Mom?" Zee masih cukup terkejut saat melihat sang mommy berada di sana. Pasalnya, Ken bilang jika mereka harus menyembunyikan semuanya dari mommy dan istrinya.
__ADS_1
Zee menoleh ke arah sang daddy untuk meminta penjelasan. Namun, bukannya menjelaskan kepada Zee, Ken hanya mengedipkan sebelah matanya ke arah sang putra.
Laki-laki yang tadi berbicara dengan Zee, langsung menoleh ke arah Ken. Tatapan matanya langsung menghunus tajam ke arah Ken.
"Kamu siapa?" tanya laki-laki tersebut.
Ken langsung menoleh ke arah sumber suara. Seperti biasa, tatapan mata Ken langsung menghujam dalam-dalam ke arah laki-laki tersebut.
"Aku ayah Zee. Kalian siapa?" tanya Ken balik.
Laki-laki tersebut tampak mengamati Ken dan Gitta yang saat itu masih memeluk Zee.
Zee hendak protes, namun Ken buru-buru menghentikan niat putranya tersebut.
"Apa maksudnya tidak bertanggung jawab? Aku kira, putraku bukan orang seperti itu. Lagi pula, jika Zee tidak bertanggung jawab, dia pasti sudah pergi dan tidak lagi berada di sini," jawab Ken.
Laki-laki tersebut mengumpat kesal. Dia menatap wajah Ken dengan tatapan tidak terima.
__ADS_1
"Dengar, jika bukan karena anak kamu yang menyetir sembarangan, keponakanku pasti tidak akan mengalami hal seperti ini!" Bentak laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut adalah Wawan, paman dari perempuan yang tidak sengaja tertabrak oleh Zee.
Mendengar ucapan Wawan, Zee tentu saja tidak terima. Dia bukannya tidak berhati-hati. Bahkan, saat itu laju kendaraannya cukup pelan karena posisi Zee saat itu tengah berbelok.
"Jangan bicara sembarangan, ya. Aku sudah jelaskan tadi jika aku tidak menyetir sembarangan. Aku mematuhi tata tertib berlalu lintas. Keponakan kami saja yang suka menyeberang seenaknya."
"Lagian, sudah tau lampu hijau, seenaknya saja menyeberang. Mana lari-lari lagi. Memang di kira jalanan itu lapangan yang bisa main kejar-kejaran apa?" Zee kembali mengomel. Dia sudah cukup lelah menghadapi Wawan yang ngomong tidak ada habisnya tersebut.
Ken yang memang masih menyimak ucapan sang putra pun langsung mengernyitkan kening. Sepertinya, ada yang terlewatkan.
Belum sempat Ken menanggapi ucapan Zee dan Wawan, terdengar suara dari ponselnya. Ken langsung menerima panggilan telepon tersebut.
"Hallo, bagaimana?"
\=\=\=
__ADS_1
Ehm, apa lagi sih ini?