
Zee benar-benar mendengarkan perkataan sang daddy. Sesekali keningnya berkerut dengan wajah terasa panas saat daddynya tersebut memberitahukan cara menyenangkan istri. Bahkan, belum selesai Ken menjelaskan semuanya, otak Zee sudah mulai traveling ke antah berantah. Ken hanya bisa menggeleng melihat tingkah Zee tersebut.
Hari berganti hari. Tak terasa, kini usia pernikahan Zee memasuki bulan ketiga. Menurut Zee, semakin hari istrinya tersebut terlihat semakin cantik dan benar-benar menggoda.
Benar apa yang dikatakan papa Vanno dulu, dia bertaruh jika Zee pasti akan jatuh cinta kepada sang istri dengan cepat. Dan, semua itu terbukti. Kini, Zee sudah benar-benar jatuh hati kepada istrinya tersebut.
Sifat Zee juga sama persis dengan Ken. Dia benar-benar posesif terhadap sang istri. Zee pasti akan uring-uringan jika tidak mendapatkan kabar dari sang istri. Namun, mood nya akan langsung membaik saat Kiara melakukan panggilan video.
Pagi ini, Kiara sudah bersiap-siap. Dia akan ikut ke butik mertuanya. Kiara mulai belajar membatu di sana.
Sejak pagi, Kiara juga sudah menyiapkan semua keperluan Zee untuk berangkat ke kampus. Minggu ini adalah minggu ujian di kampus Zee. Kiara juga sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah tahun ajaran baru nanti.
"Kamu pulang jam berapa? Nanti biar aku jemput." Zee yang sedang memakai sepatunya menoleh ke arah Kiara yang sedang berjalan membawakan jaket dan sarung tangan Zee.
"Eh, mau jemput ke butik?"
"Hhhmmmm."
"Sorean mungkin, Mas. Hari ini mulai persiapan acara butiknya mommy."
Zee berdiri setelah menyelesaikan aktivitasnya memakai sepatu. Dia berjalan menghampiri Kiara. Zee langsung menarik tubuh sang istri dan memeluknya. Mau tidak mau, Kiara mendongakkan kepala menatap wajah Zee.
"Ma-mass," Kiara panik saat kedua lengan Zee melingkar pada pinggangnya. Tatapan mata Zee juga seperti hendak menerkamnya bulat-bulat.
"Rasanya aku mau bolos kuliah saja." Zee masih tidak mengalihkan tatapannya pada wajah polos sang istri.
__ADS_1
"Eh, ke-kenapa?"
"Mau di rumah saja, celap-celup beternak kecebong," ucap Zee tanpa dosa.
Kiara memukul bahu sang suami dengan lembut sambil mengerucutkan bibirnya. Satu kesalahan Kiara yang tidak disadarinya. Zee langsung melahap suguhan pagi yang berada di depannya tersebut.
Hap. Ehhmmpphhhh, eehmmmmpphh.
Zee tidak membiarkan Kiara menjauhkan wajahnya. Tangan kiri Zee bahkan sudah menekan tengkuk Kiara dengan erat dan tidak membiarkannya menjauh. Kiara hanya bisa pasrah dan menuruti tindakan Zee. Bahkan, Kiara juga ikut larut dalam permainan laki-laki tersebut.
Setelah cukup lama bertukar saliva, Zee melepaskan pagutan bibirnya. Hal itu membuat napas keduanya terengah-engah. Zee mengusap sisa saliva yang ada di bibir Kiara sambil tersenyum.
"Sudahkah aku jujur kepadamu?" tanya Zee sambil masih menatap kedua manik sang istri
Kiara tampak mengerutkan kening bingung. "Ju-jujur tentang apa, Mas?"
"Tempat? Memangnya tempat apa itu?"
"I see you"
"ICU? Kenapa kesana? Kamu sakit, Mas?" Kiara langsung panik.
Zee menggelengkan kepala. "Bukan ICU, tapi 'I See You'. Dengan melihatmu, sudah cukup bagiku untuk mendapatkan semua obat penenang."
Kiara yang awalnya masih belum mengerti maksud perkataan Zee, langsung memalingkan wajahnya saat mulai mengerti maksud godaan suaminya tersebut.
__ADS_1
"A-apaan sih, Mas. Nggak usah aneh-aneh, deh." Kiara memukul bahu Zee dengan lembut.
"Nggak aneh-aneh, Yang. Aku ngomong apa adanya, kok."
Kiara tampak tidak terlalu menggubris perkataan Zee. Dia sudah mulai hafal dengan sifat gombale mukiyo sang suami. Kiara buru-buru melepaskan pelukan Zee. Jika dibiarkan terlalu lama, bisa dipastikan suaminya tersebut akan membolos kuliah.
Zee yang masih belum puas pun langsung protes. "Apaan sih, Yang? Kenapa di lepas, ih?"
"Sekarang sudah waktunya berangkat kuliah, Mas. Aku juga harus berangkat ke butik."
Zee hendak protes, namun Kiara buru-buru berjinjit dan mendaratkan sebuah kecupan pada bibir sang suami.
Cup.
Kedua bola mata Zee langsung membulat dengan sempurna. "Kamu sudah berani menggodaku sekarang, ya?" Tatapan mata Zee menghunus tajam pada wajah Kiara.
Secepat kilat, Kiara langsung menggeleng. "Ti-tidak. I-itu kan bisa dilanjutkan nangi, Mas. Sekarang waktunya beraktivitas."
Zee mendesahkan napas berat ke udara. "Baiklah. Tapi ingat, nanti malam tidak ada pemanasan atau apalah itu namanya. Langsung acara inti."
"Eh, yakin nggak mau lihat koleksi terbaru dari butik Mommy?"
Sontak saja kedua bola mata Zee membesar. Dia menggeram karena benar-benar sudah terpancing. Bisa dipastikan, sepanjang hari itu Zee akan uring-uringan karena penasaran.
\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak buat Zee ya. Mohon maaf slow up hari ini 🙏