Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 96


__ADS_3

"Kamu memang wanita mur*h**! Sudah bagus aku menerimamu untuk menjadi calon istri putraku, kamu masih berani-beraninya berselingkuh dengan lurah baru. Dan sekarang, kamu juga bermain-main dengan laki-laki kota ini. Dasar p*r*k!"


Plaakkkk. 


Terdengar suara tamp*ran. Zee yang saat itu berada di dekat Kiara tidak menyangka tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Yono, mantan lurah tersebut.


Kiara menangis tergugu. Dia masih memegangi pipinya yang terasa nyeri akibat pukulan tersebut.


"Apa yang kamu lakukan?!" Zee tampak geram saat melihat tindakan Yono yang main tangan terhadap perempuan.


Yono menoleh ke arah Zee dengan tatapan tidak suka. "Apa urusan kamu?"


"Meskipun bukan urusanku, tapi jangan seenaknya memukul perempuan. Coba bayangkan dia seusia putrimu. Apa kamu tega memukul putrimu, hah?"


"Aku tidak punya anak perempuan! Dan, aku juga tidak sudi mempunyai anak seperti dia." Yono menunjuk ke arah Kiara.


Belum sempat Zee bersuara, terdengar suara teriakan dari Kiara.


"Cukuuppp! Aku sudah muak dengan kalian semua. Kalian selalu semena-mena terhadapku. Apa salahku hingga kalian melakukan ini semua terhadapku, hah?" Kiara menatap ke arah Yono, dan Ferdi, kakak tirinya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Semenjak ayahku meninggal, kalian berdua selalu memaksaku melakukan semua yang kalian inginkan. Dan kamu, Pak Yono yang terhormat, aku tahu jika ayahku memiliki hutang kepadamu. Dan, aku juga sudah bersedia menjadi menantumu untuk membayar hutang tersebut. Tapi, bukan berarti kamu bisa menindasku terus menerus seperti ini."


"Dan kamu, Ferdi. Aku sudah menuruti semua keinginanmu dan ibu kamu. Bahkan, aku tidak mempermasalahkan semua warisan ayahku kamu jual. Tapi, kenapa kamu masih terus mengusikku. Kenapa kamu dan ibu kamu masih saja mengusik nenekku. Kenapa?!" Kiara tampak menangis tersedu-sedu.


Dia berjongkok dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Zee terlihat kasihan saat menatap Kiara. Namun, saat dia menoleh ke arah para laki-laki di sana, tidak ada sedikitpun dari mereka yang menunjukkan ekspresi kasihan. 


"Cckkk, pintar sekali kamu berpura-pura. Kamu pura-pura seolah-olah tertindas. Tapi kenyataannya, kamu memanfaatkan keadaanmu untuk menggoda lurah," ucap seorang laki-laki yang memakai kupluk.


"Aku bukan seperti itu! Kalian yang menyebarkan fitnah itu hingga membuat orang-orang sini menghinaku! Kalian semua jahaaat!" Kiara langsung berteriak-teriak.


"Masih berpura-pura. Kamu pikir, kami akan percaya kepadamu, hah?!" 


"Cukup!" Kali ini Yono kembali bersuara. Dia menoleh ke arah Kiara dan juga Zee bergantian. "Sudah cukup keributan ini. Kamu, jika tidak mau menuruti tuntutan warga, jangan harap akan dapat membeli tanah mereka." Yono menatap Zee dengan tatapan tajam.


Beberapa warga yang ada disana, tampak berbisik-bisik. Ferdi, kakak tiri Kira, juga tampak gelisah. Meskipun dia sedikit mabuk, tapi dia masih bisa melihat ekspresi serius pada wajah Zee. 


Tanpa berkata apa-apa lagi, Yono dan rombongan langsung beranjak pergi meninggalkan Zee dan juga Kiara yang masih menangis sesenggukan. Zee terlihat bingung saat itu. Dia memberanikan diri untuk bersuara.


"Hei, mau aku antar ke rumah?" tanya Zee sambil menatap tubuh Kiara yang bergetar karena tangis.

__ADS_1


Belum sempat Kiara menjawab, terdengar suara seorang perempuan paruh baya yang datang mendekat ke arah mereka. Seorang laki-laki yang sepertinya suami perempuan tersebut, berjalan di belakangnya.


"Ya Allah Kiara? Ayo, Nak. Kita pulang." Wanita tersebut memeluk tubuh Kiara yang berguncang-guncang karena tangis.


Belum sempat Kiara menjawab, tiba-tiba tubuhnya ambruk. Kiara pingsan dalam dekapan wanita paruh baya tersebut.


"Kiara!" Wanita dan laki-laki tersebut berteriak bersamaan.


"Aduh, Pak. Bagaimana ini? Dia pingsan. Bagaimana kita membawanya pulang?" Wanita tersebut tampak panik.


Zee yang melihat hal itu langsung berinisiatif untuk membantu.


"Biar saya bantu gendong, Bu. Dimana rumahnya?"


Kedua orang tersebut menoleh ke arah Zee dan menganggukkan kepala.


"Baiklah, Nak. Mohon bantuannya. Mari ikut kami."


Zee segera mengangguk dan berjongkok untuk membopong Kiara. Selanjutnya, dia berjalan hati-hati untuk mengikuti kedua orang tersebut.

__ADS_1


\=\=\=


Sabar dulu, lanjutannya masih otewe ngetik. Othor nyambi mengerjakan pekerjaan yg belum selesai. 🙏


__ADS_2