Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 239


__ADS_3

Kiara langsung mendelik kesal ke arah sang suami. Bisa-bisanya dia dengan sigap membantu Kiara mengganti baju padahal Gen sedang nangis kejer.


"Sudah, sudah. Aku bisa sendiri, Mas. Aku tenangin Gen dulu." Kiara beranjak berdiri meninggalkan Zee yang masih mengerucutkan bibir kesal. Dia berusaha menimang-nimang Gen agar kembali terlelap.


Sementara Zee, hanya bisa menghembuskan napas berat dengan pasrah. Setelah itu, Zee bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hari-hari berlalu. Kini, hari wisuda Zee sudah di depan mata. Sejak pagi, Zee dan keluarganya sudah bersiap-siap untuk pergi menghadiri acara wisuda kampus Zee.


Ken yang kini sedang menggendong sang cucu, juga sudah siap sambil menunggu yang lainnya. Ken mengajak cucunya tersebut berjalan-jalan di teras depan sambil sesekali menciumi pipi Gen yang sudah sangat gembul tersebut.


"Gen, nanti jika sudah besar, ikut Papa ke kantor, ya. Nanti Papa belikan mainan limited edition yang banyak di kantor, okay?" ucap Ken sambil berjalan kesana kemari.


Ya, Ken dan Gitta membiasakan Gen untuk memanggil mereka papa dan mama seperti Zee memanggil kakek dan neneknya. Sementara untuk papa Vanno dan mama Retta, mereka membiasakan Gen untuk memanggil opa dan oma. Hadewwhhh, benar-benar menolak tua ini, mah. 🤧


Gitta yang tiba-tiba muncul di depan Ken, langsung mencubit pinggang suaminya itu.


"Aduuhh, Yang. Kebiasaan sekali suka nyubit, ih." Ken langsung protes.

__ADS_1


"Jangan suka ngajarin cucuku aneh-aneh ya, Mas. Mau belikan mainan apa yang limited edition, coba?" tanya Gitta sambil merapikan baju Gen.


"Ehm, itu yang robot-robot limited itu, Yang."


Gitta langsung memutar kepalanya dan menoleh ke arah Ken. "Robot? Robot buat Gen apa buat kamu, Mas? Jangan-jangan kamu mau beli robot perempuan itu, ya?"


"Astaga! Ngapain aku harus beli robot-robotan macam itu, Yang. Ini saja sudah yang asli. Bisa mengeluarkan suara aahh aahhh eehhmmm teruusss maass dengan manja. Ngapain cari yang robot," Ken langsung mendengus kesal.


Gitta sampai melotot mendengar ucapan Ken. 


"Kamu mau tau apa isi otakku, Yang?"


"Iya," Gitta menjawab dengan serius.


"Isinya sudah penuh, Yang."


"Penuh dengan iya-iya, begitu?"

__ADS_1


"Cckkk. Bukan. Isinya sudah penuh dengan kamu seorang, Yang. Aku sudah nggak bisa mikirin apa-apa lagi jika ada kamu," ucap Ken sambil mencuri sebuah kecupan pada pipi Gitta.


Mendengar ucapan Ken, Gitta hanya bisa melongo.


"Kamu kursus dimana sih, Mas?" tanya Gitta nggak nyambung.


"Eh, kursus? Maksudnya kursus apa?" Ken bingung menanggapi pertanyaan sang istri.


"Itu, gombalan kamu semakin hari semakin garing tau, nggak." Gitta mencebikkan bibir. Hampir setiap hari dia mendengarkan gombalan aneh-aneh sang suami. Dan, ujung-ujungnya juga pasti minta bayaran.


Ken langsung mendengus kesal. "Cckkk. Sembarangan. Mana ada aku buat gombalan aneh, Yang."


Belum sempat Gitta menyahuti ucapan Ken, Zee dan Kiara sudah terlihat berjalan keluar dari rumah sambil membawa perlengkapan Gen. Mereka sudah bersiap untuk acara wisuda Zee.


Setelah semua siap, Zee dan keluarganya langsung berangkat menuju tempat acara. Hari itu, adalah puncak dari perjuangan Zee selama kuliah. Setelah ini, giliran Zee akan memberikan kesempatan kepada Kiara untuk melanjutkan kuliah. 


Habis gini, siap-siap baca kekonyolan Zee dan Kiara sebagai orang tua muda dengan satu anak balita. Akankah sama dengan cerita masa kecil Zee? Bisa dilihat nanti 🤭

__ADS_1


__ADS_2