Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 229


__ADS_3

Setelah sarapan, Zee sudah berangkat ke kampus. Dia keluar rumah bersamaan dengan sang daddy yang juga akan mengantar Gitta ke butik. Kini, Kiara hanya tinggal di rumah bersama dengan Gen dan para asisten rumah tangga. Namun, jangan dikira Ken akan membiarkan anggota keluarganya tanpa pengawasan. Ken masih menempatkan beberapa pengawas untuk putra dan menantunya tersebut.


Menjelang makan siang, mama Retta dan papa Vanno datang berkunjung. Seperti biasa, mama Retta langsung menggendong cicit pertamanya tersebut yang terlihat sedang bermain di ruang tengah.


"Gitta belum pulang, Kia?" tanya mama Retta sambil mengangkat Gen.


"Belum, Ma. Sepertinya, Mommy akan pulang agak sore. Akan ada tamu penting di butik hari ini."


Mama Retta mengangguk-anggukkan kepala. Papa Vanno juga terlihat beringsut ke samping sang istri. Dia ikut mengajak cicitnya bermain.


Mama Retta menoleh ke arah Kia yang sesekali menyuapkan beberapa potong kue ke dalam mulut. Mama Retta tahu jika Kia pasti sudah sangat lapar.


"Kia, sebaiknya kamu makan dulu. Jangan dibiasakan menunda-nunda makan. Mumpung Gen ada temannya, sebaiknya kamu segera makan," ucap mama Retta.


"Ehm, tidak apa-apa, Ma?" Kiara tampak kikuk dan merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Mama tahu jika ibu menyusui itu membutuhkan jauh lebih banyak makanan. Jangan sampai anak kamu kekurangan asi nanti."

__ADS_1


"Iya, Ma."


Setelah itu, Kiara segera beranjak dan berjalan menuju ruang makan. Mumpung Gen masih ada temannya, Kiara ingin mengisi perutnya yang sudah protes sejak tadi.


Sementara itu, papa Vanno masih asyik menoel-noel pipi gembul Gen. Sesekali papa Vanno juga menciumi pipi Gen hingga membuat sang cicit merasa risih.


"Mas, jauh-jauh, ih. Jangan diganggu terus. Cicit kamu nggak nyaman ini," protes mama Retta.


Sontak saja papa Vanno langsung mengerucutkan bibir sambil melirik mama Retta. "Aku kan gemes, Yang. Maunya uyel-uyel You."


"Gen, Mas. Namanya Gen. Sudah dibilangin juga." Mama Retta langsung mengoreksi panggilan papa Vanno yang masih saja suka memanggil sang cicit dengan nama You.


"Biarkan dia anteng nggak direcokin buyutnya." Mama Retta menatap wajah sang cicit sambil sesekali menciumi pipi gembulnya.


"Kok rasanya aneh ya, Yang. Masa aku masih muda begini sudah jadi buyut. Berasa tua banget aku." Papa Vanno langsung protes.


Mama Retta langsung menoleh ke arah sang suami dengan mata menyipit.

__ADS_1


"Memang sudah jadi buyut, kan? Ingat umur, Mas. Awas saja jika masih ngaku-ngaku muda kalau ketemu model-model cantik," ucap mama Retta sambil mendengus kesal.


"Cckkk. Apaan sih, Yang. Mana pernah aku ngaku-ngaku muda, orang aku masih muda beneran kok." Papa Vanno membela diri karena tidak terima dengan ucapan sang istri.


"Muda apanya, bangkotan sih iya, Mas." Mama Retta langsung sewot saat mendengar jawaban sang suami.


"Lhah, kok nggak percaya sih, Yang. Mau bukti?" Tantang papa Vanno.


Mama Retta menoleh ke arah papa Vanno dengan mata menyipit. "Apa?"


Dengan pedenya papa Vanno menggeser posisi duduknya hingga kini jadi duduk bersila menghadap ke arah mama Retta. 


"Tuh lihat. Jika sudah tua, pasti akan susah bangunnya. Aku kan enggak. Kamu senggol sedikit saja sudah 'greng',Yang." Papa Vanno langsung menarik tangan mama Retta dan membawanya untuk menunjukkan apa yang dimaksudkan.


Sontak saja mama Retta langsung mencubit sesuatu di bagian bawah papa Vanno dengan kesal. Dan, tentu saja hal itu membuat papa Vanno langsung menjerit karena kaget.


"Astaga, Yang! Helmku, lepas ini."

__ADS_1


\=\=\=


Satu bab dulu ya, belum selesai ngetik.


__ADS_2