Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 146


__ADS_3

Malam itu, Kiara benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak. Entah mengapa pikirannya sudah mulai berkelana kesana kemari. Kiara menoleh ke samping kanan agak ke bawah dimana sang suami tengah menempel erat pada tubuhnya. Tangan Zee memeluk Kiara dengan posesif. Wajah Zee sudah nemplok pada bagian samping bukit gersang Kiara. Sesekali Zee masih uyel-uyel di sana sambil bergerak dalam tidurnya.


Kiara yang memang masih belum bisa tidur, mulai memikirkan apa yang terjadi pada tubuhnya akhir-akhir ini. Mulai dari Kiara yang sudah berani menggoda dan memancing sang suami, mulai berani minta 'tambah' saat adu gulat di atas ring empuk, bahkan Kiara sudah berani mencium Zee lebih dulu.


Kiara berpikir, apakah perubahan yang dialaminya itu dipengaruhi oleh hormon kehamilan? Jika iya, apakah keinginannya untuk bisa menyentuh dan berkeringat bersama sang suami itu juga merupakan salah satu pengaruh hormon kehamilan? Jika memang iya, Kiara harus mencari cara agar tidak selalu berada di dekat Zee.


Bagaimana tidak, Kiara selalu merasakan dorongan untuk bisa menyentuh sang suami. Apalagi setiap sehabis mandi, Kiara benar-benar harus berusaha mengalihkan perhatiannya dari Zee. Jika tidak, dia pasti akan secara tidak sadar mengeluarkan air liur saat melihat tubuh basah tersebut.


"Hhhmmmm hhmmmmm."


Kiara menoleh kembali dan menyadari sang suami sedang uyel-uyel di bagian samping tubuhnya. Kiara yang memang tidak memakai 'kacamata', bisa merasakan hidung Zee menempel pada bagian samping bukit menggemaskan miliknya. Sementara tangan kanan Zee, sudah menyabotase bukit satunya.


Menyadari tubuhnya bisa mendadak gelisah, Kiara memindahkan tangan Zee sedikit demi sedikit agar tidak memancingnya untuk mengajak duet maut suaminya tersebut. Setelah berhasil, Kiara mulai berusaha memejamkan mata hingga berhasil terlelap.


Keesokan hari, Mama Retta sudah heboh datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali dengan diantar oleh Papa Vanno. Mereka berdua benar-benar bahagia saat mendengar kabar Kiara tengah hamil.


Hari itu, Zee terpaksa meninggalkan Kiara bersama Mama dan Papanya. Zee harus ke kampus untuk menjalani ujian semesternya yang memang belum selesai. 

__ADS_1


Menjelang siang, Kiara sudah diperbolehkan pulang. Berhubung Zee masih berada di kampus, Kiara pulang bersama Gitta dan juga Mama Retta.


Ujian semester Zee hari ini ada dua mata kuliah pada jam pertama dan jam ketiga. Alhasil, pada jam kedua, Zee tidak ada ujian. Zee lebih memilih menghabiskan waktu di kantin untuk memesan sarapannya yang telat saat menunggu jam ketiga mulai.


Tak disangka, ternyata di kantin juga ada Revina dan teman-temannya. Zee yang awalnya tidak menyadari keberadaan Revina di kantin tersebut, masih sibuk bertukar pesan dengan Kiara yang saat itu sedang bersiap-siap untuk pulang dari rumah sakit.


Tiba-tiba, Revina sudah berdiri di dekat Zee dan menyapanya.


"Kak, boleh aku duduk di sini?" tanya Kiara.


Zee yang terkejut pun langsung menoleh. Dia segera mengangguk dan mempersilahkan Revina bergabung di mejanya. Zee juga segera meletakkan ponselnya saat Revina sudah duduk di depannya.


"Enggak, Kak. Tadi sudah sarapan, kok. Tadi sudah pesan minum, kok."


Zee mengangguk. Belum sempat Zee bersuara, pesanan sarapannya sudah datang. Revina menunggu hingga karyawan kantin tersebut berlalu, baru dia bisa ngomong dengan Zee.


"Aku sambil sarapan nggak apa-apa, ya?" tanya Zee sambil menunjukkan sarapannya.

__ADS_1


"Eh, nggak apa-apa, Kak. Silahkan." Revina mendadak jadi canggung dengan Zee setelah peristiwa pengakuannya beberapa waktu yang lalu.


Zee segera memulai aktivitas sarapannya. Sesekali dia juga mengajak ngobrol Revina di tengah-tengah aktivitasnya mengunyah makanan. Zee bukannya tidak menyadari jika Revina ingin membicarakan sesuatu, namun dia mencoba mengulur-ulur waktu hingga dia selesai sarapan.


Beberapa saat kemudian, Zee sudah selesai sarapan. Setelah menghabiskan jus jeruknya, Zee menoleh ke arah Revina.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Zee sambil memutar tubuhnya dan menatap Revina lekat-lekat.


"Eh, Kakak tau aku mau ngomong sesuatu?" Revina tampak kaget Zee bisa menebak gelagatnya.


"Tau, kok. Kelihatan banget kamu ingin ngomong sesuatu. Kamu gelisah begitu sejak tadi. Hehehe."


Revina semakin tidak enak dengan Zee. Namun, dia benar-benar harus menanyakan sesuatu kepadanya. Revina memberanikan diri untuk bertanya. "Ehm, sebenarnya, aku mau tanya, a-apa benar Kak Zee itu, ehm...,"


"Sudah menikah?"


\=\=\=\=

__ADS_1


Sudah ada jatah vote, kasih satu buat Zee ya 🤗


__ADS_2