Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 218


__ADS_3

Setelah pembicaraan yang cukup lama dengan Pratama, akhirnya Ken bisa mendapatkan tanah Kiara yang sudah dijual oleh Ferdi.


Ya, Pratama adalah salah satu orang yang membeli tanah Kiara dari Ferdi. Ken cukup beruntung saat mendengar jika Pratama mau menjual kembali tanah itu kepadanya. Oleh karenanya, Ken datang langsung ke Surabaya untuk menemui beliau.


Menjelang pukul dua siang, pembicaraan antara Ken dan Pratama sudah selesai. Untuk pembayaran dan urusan administrasi lainnya, akan diselesaikan oleh pengacara Ken.


Setelah itu, Ken dan Pratama langsung berpisah. Ken langsung menemui beberapa kepercayaannya. Dia menerima beberapa bukti tentang jual beli tanah Kiara.


Ken merasa cukup bahagia setelah mendapatkan bukti tersebut. Sore itu juga, Ken memberikan beberapa perintah untuk melakukan pekerjaan. Tentu saja kali ini Ken tidak akan melakukannya dengan santai. Ken juga menutup akses damai untuk keluarga tiri Kiara.


"Aku mau, semua laporan besok harus sudah masuk. Pastikan semua bukti dan saksi sudah siap."


"Baik, Pak Ken. Kami akan pastikan semuanya berjalan dengan baik. Kami juga akan pastikan tidak akan ada lagi yang berani mengusik keluarga Anda."

__ADS_1


Ken mengangguk setuju. Setelahnya, dia segera bergegas menuju bandara. Sore itu juga, Ken harus segera pulang. Jika tidak, bisa dipastikan Gitta akan marah-marah. Sebenarnya, Gitta ingin ikut tadi pagi. Tapi, Ken memintanya untuk tetap tinggal di rumah membantu Kiara.


Mau tidak mau, Gitta hanya bisa menuruti ucapan Ken. Dia mengurungkan niatnya asal Ken juga berjanji untuk pulang sebelum waktunya mereka istirahat. Jika Ken melanggar, bisa dipastikan dia harus rela 'kedinginan' selama tiga hari.


Tentu saja Ken tidak akan mau jika sampai hal itu terjadi. Oleh karena itu, menjelang pukul lima sore, pesawat pribadinya sudah lepas landas dari bandara Juanda.


Sebenarnya, Gitta bukan tipe orang yang selalu mengikuti kemanapun suaminya pergi. Bahkan, untuk urusan pekerjaan pun Gitta jarang ikut jika Ken hanya pergi ke luar kota selama satu atau dua hari. Dia baru akan ikut serta jika kepergian Ken memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Kenapa begitu? Othor juga nggak tahu. 🤧


Namun, untuk kepergian Ken ke Surabaya kali ini, Gitta sedikit merasa tidak tenang. Hal itu karena keadaan yang masih belum begitu baik. Ada orang yang mengincar keluarganya. Dan, Gitta cukup merasa was-was dengan hal itu.


"Mas, sudah datang?" tanya Gitta saat Ken mendaratkan tubuh di sampingnya. Tak lupa juga sebuah kecupan mendarat pada pipi Gitta bertubi-tubi.


"Hhmmm."

__ADS_1


Zee yang melihat tingkah orang tuanya hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Meski sudah sangat hafal dengan tingkah orang tuanya, Zee masih tetap saja merasa malu sendiri.


"Bagaimana, Dad? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Zee.


"Hhhmm. Kita tinggal menunggu hasilnya besok."


"Alhamdulillah. Aku berharap, semuanya berjalan dengan lancar dan tidak diperpanjang lagi."


"Daddy juga berharap seperti itu, Zee. Daddy hanya tidak mau kamu dan Kiara terusik lagi. Apalagi, kalian sudah punya Gen. Kasihan Kia jika masih kepikiran."


"Iya, Dad. Aku juga berpikir seperti itu. Terima kasih untuk semuanya, Dad. Aku benar-benar beruntung punya Daddy dan Mommy," ujar Zee sambil mengulas senyumannya.


"Tentu saja kamu harus bersyukur punya Daddy yang tampan dan hebat seperti ini. Mommy kamu saja bersyukur hingga setiap hari minta nambah-nambah terus, kok."

__ADS_1


"Enak saja! Siapa bilang, Mas?!" Gitta langsung mendelik tajam ke arah suami yang duduk di sampingnya. Jangan lupakan ekspresi kesalnya dengan bibir cemberut.


"Aku barusan yang bilang, Yang."


__ADS_2