Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 72


__ADS_3

Suara celotehan Zee dari dalam kamar mandi terdengar hingga keluar. Mommy Retta yang sedang menyiapkan baju ganti untuk sang cucu pun berjalan menuju pintu kamar mandi dan langsung membukanya.


"Kalian ngapain sih, Mas? Dari tadi masih berisik di dalam kamar mandi. Sudah, ayo selesaikan mandinya." Mommy Retta menatap daddy Vanno dan Zee bergantian.


Kali ini, bukan daddy Vanno yang menjawab perkataan mommy Retta. Namun, Zee yang menjawabnya.


"Ain buca, Ma. Papa ajalin Ji buat buca. (Main busa, Ma. Papa ajarin Zee buat busa)" Zee menunjukkan tangannya yang sudah penuh dengan busa.


Mommy Retta hanya bisa mendesahkan napas beratnya saat melihat sang suami sedang mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower. Sedangkan sang cucu, tengah berendam di dalam bak mandi bebeknya.


Mau tidak mau, mommy Retta turun tangan untuk membantu sang cucu membilas tubuh. Mommy berjalan memasuki kamar mandi yang super besar tersebut.


"Ayo sini, Mama bantuin bersihkan busa sabunnya."


"Tenapa becih-becih? (Kenapa dibersihkan?)"


"Zee sudah lama bermain air. Nanti bisa kena flu. Zee mau nanti nggak bisa bobo karena hidungnya 'buntet'?"


"Utet?"


"Mampet, Sayang. Tersumbat. Zee jadi nggak bisa napas."


Seketika Zee menggelengkan kepala. "Indak au. Ji ndk au utet."


Zee merentangkan kedua tangannya minta gendong untuk dikeluarkan dari bak mandi. Mau tidak mau, mommy Retta menuruti keinginan sang cucu. Mommy Retta langsung menurunkan Zee dan segera membilas tubuhnya.

__ADS_1


Zee menoleh ke arah daddy Vanno yang terlihat sudah selesai membilas tubuhnya.


"Ma, anti Ji becal uja cepelti Papa? (Ma, nanti jika Zee besar juga seperti papa?)"


"Eh, seperti papa bagaimana, Sayang?"


"Tu!" Zee menunjuk ke arah daddy Vanno yang masih setengah polosan.


Mommy Retta menoleh ke arah daddy Vanno, dan menyadari yang dimaksud oleh sang cucu.


"Astaga, kenapa cucu kamu sudah mikir yang tidak-tidak sih, Mas?" Mommy Retta menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Eh, bagus dong. Zee sudah pintar itu namanya," daddy Vanno mencebikkan bibirnya.


Setelah itu, mommy Retta segera menggendong sang cucu dan membawanya keluar dari kamar mandi. Sore itu, Zee sudah melupakan keinginannya untuk menemui Ken dan Gitta.


"Papa ana, Ma? (Papa mana, Ma?)"


"Papa masih kerja, Sayang. Sebentar lagi kesini kok. Zee bobok dulu, ya." Mommy Retta mengusap-usap surai sang cucu sambil menciumi pucuk kepalanya.


"Au teyyon Papa, Ma. (Mau kelon papa, Ma)"


"Nanti, ya. Mau mama keloin?"


"Tak au. Au teyyon Papa."

__ADS_1


Mommy Retta hanya bisa menghembuskan napas berat. Jika sudah seperti itu, Zee pasti tidak akan mau tidur sebelum daddy Vanno datang. Mau tidak mau, mommy Retta beranjak untuk memanggil daddy Vanno.


Ceklek.


Pintu ruang kerja tersebut terbuka. Daddy Vanno yang sedang menatap laptopnya langsung mendongakkan kepala saat mendengar pintu terbuka.


"Ada apa, Sayang?"


"Kamu masih lama, Mas?" Mommy Retta berjalan ke arah daddy Vanno dan ikut menatap layar laptop tersebut. 


"Sudah selesai, kok. Ini baru mau kirim email." 


"Cepat selesaikan, Mas. Zee nggak mau tidur."


"Zee atau kamu yang nggak mau tidur nih?" tanya daddy Vanno sambil tersenyum ke arah mommy Retta dan menaik turunkan alisnya.


Mommy Retta mencebikkan bibir sambil menatap tajam ke arah daddy Vanno. "Cucu kamu, Mas. Kalau aku, pasti memilih untuk tidak tidur." Mommy Retta berjalan meninggalkan daddy Vanno.


Mendengar jawaban mommy Retta, sontak saja wajah daddy Vanno langsung berbinar bahagia. 


"Yakin nih nggak mau tidur? Aku siap menemani, Yang." Daddy Vanno bersemangat dan segera menyelesaikan pekerjaannya.


Beberapa saat kemudian, dia sudah selesai. Daddy Vanno segera beranjak menuju kamar. Namun, hal pertama yang dilihatnya adalah Zee sudah duduk di atas tempat tidur dengan mainan helikopter miliknya. Wajahnya langsung ceria saat melihat kedatangan daddy Vanno.


"Ao ain heyicopel, Pa."

__ADS_1


"Astaga, kalau ini mah tidak tidurnya beda."


__ADS_2