
Setelah berpamitan dengan Kiara dan sang putra, Zee langsung bergegas ke kantor. Pagi itu, dia memang ada meeting dengan klien bersama dengan daddynya.
Tak butuh waktu lama, Zee sudah sampai di kantor. Dia segera menemui daddynya untuk membahas beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk meeting tiga puluh menit lagi.
Pak Doni, sekretaris daddy Ken, juga turut membantu menyiapkan bahan meeting pagi itu. Hingga setelah semua siap, Zee dan daddnya langsung beranjak menuju ruangan meeting.
Meeting hari itu berjalan cukup lancar. Tidak lama, klien yang menemui Zee dan daddynya langsung tertarik mempelajari tawaran yang diberikan oleh Geraldy Corp. Mereka seolah tidak sabar untuk melihat gebrakan apa yang akan ditawarkan oleh perusahaan di bawah pimpinan Ken tersebut.
Setelah meeting selesai, Zee masih mengobrol dengan beberapa perwakilan dari klien tadi yang masih tinggal untuk membahas beberapa proyek yang sedang mereka tangani sebelumnya. Zee tidak tahu jika sang sahabat sudah menunggu di luar ruangan sejak beberapa waktu yang lalu.
Hingga beberapa saat kemudian, Zee dan daddynya tampak sudah selesai. Zee berniat memberikan laporan kepada sang daddy setelah pembicaraan dengan klien tersebut.
Ketika sedang berjalan menuju ruangan Ken, Zee melihat sang sahabat sudah berada di ruang tunggu. Zee buru-buru menghampiri sahabatnya tersebut.
"Lhah, kenapa lo sudah datang jam segini? Ngebet banget mau tahu resep rahasia huh hah huh hah," ucap Zee sambil berjalan menghampiri El.
El menoleh menatap wajah Zee dan mendengus kesal.
"Ccckkk, sembarangan. Pemikiran apa itu," gerutu El.
"Ya, habisnya gue kaget kenapa lo sudah datang. Tunggu sebentar, gue kasih laporan ke daddy dulu. Atau, lo mau masuk?" tawar Zee untuk mengajak sahabatnya tersebut masuk ke dalam ruangan Ken.
__ADS_1
"Nggak usah deh. Gue tunggu disini saja."
Setelahnya, Zee langsung berjalan menuju ruangan sang daddy. Disana terlihat pak Doni menunggu dokumen yang diperiksa oleh daddy Ken.
"Lho, mas Zee sudah di tunggu mas El di sebelah," ucap pak Doni.
"Iya, Pak. Tadi sudah ketemu sebentar. Ini mau kasih laporan ke daddy dulu."
Pak Doni mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Temannya mau dipesankan minuman apa, Mas?" tanya pak Doni sambil menoleh ke arah Zee.
"Hah, siapa Pak?" Zee pun tampak bingung setelah mendengar pertanyaan Pak Doni.
"Lhah, memangnya El nggak puasa, Zee?" kali ini Daddy Ken yang bertanya sambil menoleh ke arah Zee.
"Pasti puasa lah, Dad. Emangnya dia halangan," jawab El sambil mencebikkan bibir.
"Lho, Mas El itu Muslim?" kali ini Pak Doni benar-benar terkejut.
"Iya, Pak. El itu Muslim. Jangan-jangan Pak Doni melihat wajah bule nya dan berpikiran dia non muslim, ya?" tebak Zee sambil menahan tawanya.
__ADS_1
"Hehehehe, iya, Mas. Tadi bahkan saya sempat menawarkan minuman kepada Mas El," jawab pak Doni sambil tersenyum kikuk.
Seketika Zee dan daddy Ken tertawa terbahak-bahak. Tak berapa lama kemudian, Zee sudah selesai dengan laporannya. Dia segera pergi menemui El.
"Tau nggak, El. Tadi pak Doni kira lo itu nggak puasa. Dikiranya lo non muslim karena wajah bule lo," ucap Zee setelah duduk di depan El.
"Gue tahu. Tadi gue sempat ditawari minum sama dia. Ya gue jawab nanti saja, nanti waktu buka, lanjut gue dalam hati."
"Hahahaha, masih ada yang menganggap lo seperti itu gara-gara wajah bule lo."
"Ya mau gimana lagi, wajah gue sudah terlanjur oke soalnya," jawab El pongah.
"Heleh, wajah oke kok nggak laku-laku." Cibir Zee.
"Lah, sama saja. Lo kan juga seperti itu."
"Siaaalllaan." Gerutu Zee sambil menendang kaki El. Setelahnya mereka tertawa bersama-sama.
"Ngomong-ngomong, apa yang mau lo tanyain ke gue?" tanya Zee setelah beberapa saat kemudian.
"Ehm, itu…" El terlihat bingung bagaimana cara memulainya. Dia hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Ada yang masih ingat part ini?