
Malam itu, Zee akhirnya menemani Kiara dengan melakukan panggilan video hingga istrinya tersebut terlelap. Menjelang pukul sepuluh malam, kedua mata Kiara sudah benar-benar mengantuk. Dia sudah merebahkan diri di atas tempat tidur. Zee yang sudah cukup hafal dengan tingkah sang istri pun hanya bisa mengulas senyumannya.
Zee masih menunggu dan membiarkan panggilan videonya terhubung hingga Kiara sudah benar-benar terlelap. Setelah memastikan Kiara terlelap, Zee baru berani mematikan panggilan video tersebut.
Setelah itu, Zee langsung mengirimkan pesan kepada sang mommy yang sedang berada di Jepang bersama dengan daddynya tersebut. Zee ingin menanyakan sesuatu.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara panggilan telepon Zee dari sang mommy. Zee langsung menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo, Mom. Maaf mengganggu Mommy malam-malam begini," ucap Zee begitu panggilan telepon tersebut terhubung.
"Nggak apa-apa, Sayang. Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Gitta di seberang sana. Terdengar suara air dituangkan ke dalam gelas. Sepertinya, Gitta sedang berada di dapur.
"Ehm, nggak ada sih, Mom. Aku hanya mau bertanya. Ini tentang Kiara sebenarnya."
"Kia? Ada apa dengan Kia? Apa terjadi sesuatu? Kandungannya tidak apa-apa kan, Zee?" Suara Gitta terdengar panik di seberang sana.
Zee harus buru-buru menjelaskan sebelum sang mommy semakin khawatir. "Nggak ada apa-apa, Mom. Semua baik, kok."
"Lalu, ada apa?" Terdengar helaan napas lega dari seberang sana.
__ADS_1
"Ehm, begini, a Mom. Tadi siang aku kan ada rapat untuk menggantikan Papa. Karena cukup sibuk, aku lupa memberi kabar kepada Kia hingga aku selesai rapat. Aku cukup kaget saat melihat ada puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari Kia, Mom. Dan, saat kami melakukan panggilan video, aku baru tahu jika dia menangis."
"Ehm, apa memang seperti itu wanita hamil, Mom?" Zee yang memang belum pernah sedekat itu dengan perempuan, merasa cukup bingung dengan sikap Kiara yang mendadak berubah-ubah.
Terdengar helaan napas di seberang sana. Zee masih mendengarkan apa yang akan disampaikan ileh sang mommy.
"Zee, dengarkan Mommy. Wanita hamil itu, biasanya memang memiliki perubahan mood. Kita tidak bisa menebak saat ini dia sedang memiliki mood yang bagaimana. Banyak hal yang memicu perubahan hormon pada wanita hamil dengan cepat."
"Dulu, Mommy juga merasakan hal yang sama. Kamu tau Zee, dulu Mommy bahkan tidak mau drkat-dekat dengan daddy kamu. Mommy selalu merasa mual saat berada di dekat daddy. Tapi, Mommy akan merasa gelisah jika tidak melihat atau mendengar kabar daddy kamu," jrlas Gitta sambil terkekeh. Hayo, siapa yang masih ingat masa-masa ini?
Zee yang memang belum mengetahui hal itu merasa cukup terkejut.
"Mommy nggak mau dekat drngan Daddy?"
"Kok bisa? Mengapa begitu?"
"Ya, mana Mommy tau, Sayang. Hal itu tiba-tiba saja muncul."
"Lalu, berapa lama itu terjadi?"
__ADS_1
"Seingat Mommy nggak lama, kok. Karena ya itu tadi, perubahan hormon itu cepat sekali."
"Oh," Zee hanya bisa ber oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Gitta kembali bersuara. "Sayang, Mommy tau kamu masih sangat muda dan juga masih memerlukan adaptasi pada pernikahan mendadak ini. Tapi, Mommy mohon, kamu juga bisa mengerti dan memahami apa yang dirasakan oleh istri kamu. Kia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Dua hanya memiliki kamu dan keluarga kita sebagai keluarga barunya sekarang."
"Mommy minta, kamu jangan terlalu keras, ya. Berusahalah untuk mengerti istri kamu. Siapa tau, itu juga salah satu keinginan putra kamu."
"Ehm, maksudnya ngidam begitu, Mom?"
"Bisa jadi. Biasanya, ada janin yang ingin selalu ada di dekat calon ayahnya. Namun, ada juga yang tidak ingin di dekati. Percaya saja, hal itu tidak akan berlangsung selamanya."
"Iya, Mom. Aku akan berusaha."
Belum sempat Gitta menanggapi perkataan Zee, terdengar sebuah suara.
"Siapa yang kamu telepon malam-malam begini, Yang? Kamu selingkuh?"
"Eh?"
__ADS_1
\=\=\=
Satu part dulu, ya. Maaf masih ada kerjaan. 🙏