
Sepanjang perjalanan pulang, Kiara masih mengerucutkan bibir. Dia benar-benar kesal dengan Zee. Setelah seluruh ucapannya tidak dihiraukan sang suami, Kiara lebih memilih untuk diam, meskipun sang suami sudah mengajaknya mengobrol sejak keluar dari rumah sakit.
Menyadari jika sang istri tengah ngambek, Zee masih berusaha membujuknya.
"Yang, kok diam saja sih? Aku kan sudah minta maaf tadi. Aku hanya penasaran tadi, Yang. Makanya aku bertanya kepada Dokter Andara." Zee masih menampakkan wajah memelas. Biasanya, jika sudah seperti itu, Kiara pasti akan langsung luluh.
Namun, kini usaha Zee terlihat tidak mempan. Kiara bahkan tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Tidak menyerah, Zee kembali membujuk Kiara.
"Yang, lihat sini, dong. Gelap hariku tanpa senyuman di wajahmu ini, Yang."
"Bodo amat," ucap Kiara tanpa menoleh. Dia benar-benar kesal dengan sang suami. Bukan hanya kesal, tapi lebih tepatnya, dia malu dengan Dokter Andara.
Kiara benar-benar malu saat mendengar pertanyaan Zee saat di rumah sakit. Bahkan setelah itu, Zee masih terus bertanya.
Zee mencebikkan bibir. "Mana boleh bodo amat sama suami, Yang. Nggak boleh itu, dosa."
Mendengar ucapan Zee, Kiara langsung menoleh dan menatap tajam ke arah sang suami. "Lalu, apa yang Mas Zee lakukan di rumah sakit tadi? Malu, Mas. Mana ada tanya ukuran si junior segala lagi."
Tidak mau kalah, Zee malah semakin gencar. "Aku kan penasaran tadi, Yang. Apa memang ukuran itu bisa bertambah besar? Kan kasihan nanti jika nggak bertambah."
Kiara semakin geram dengan ucapan sang suami. "Seharusnya, hal seperti itu nggak usah ditanyakan, Mas. Dulu, saat masih kecil, ukuran punya kamu pasti juga hanya sebesar kelingking. Sekarang hampir sebesar lengan itu apa nggak tumbuh?" Kiara langsung sewot.
Zee mengangguk-anggukkan kepala. Dia tampak menyadari sesuatu.
"Kamu benar, Yang. Tapi, punyaku dulu saat kecil nggak sebesar jari kelingking, kok." Zee masih tidak menyerah.
Kiara memutar bola matanya dengan jengah. "Lalu sebesar apa? Pulpen?"
"Sebesar jari jempol kaki." Zee menjawab dengan
Halah embuh Zee. Othor mumet 🤧
Sepanjang sisa perjalanan menuju rumah, perdebatan absurd tak lepas dari Zee dan Kiara. Hingga sekitar lima belas menit kemudian, mobil Zee sudah memasuki garasi rumahnya.
Sejak saat memasuki halaman rumah, kening Zee dan Kiara berkerut. Mereka melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah.
__ADS_1
"Siapa, Mas?" tanya Kiara sambil menoleh ke arah sang suami.
"Entahlah, Yang. Aku juga nggak tau. Aku juga nggak ada janji dengan siapapun."
"Kak El?"
"Bukan. El nggak mungkin pakai mobil keluarga seperti itu," jawab Zee sambil membalas tatapan sang istri. "Ayo turun. Kita lihat siapa tamu yang sudah menunggu kita."
Zee kemudian membantu sang istri turun dari mobil. Setelah itu, mereka langsung bergegas menuju ruang tamu. Zee dan Kiara melihat ada sosok laki-laki dan perempuan sudah menunggu di sana.
Namun, langkah kaki Kiara terhenti saat keduanya menoleh ke arahnya.
"Ka-kalian?"
\=\=\=\=
Hheeemm, siapa?
***
Untuk lengkapnya, bisa dibaca di The CEO's Proposal.
Siang harinya, Bian ke kantor GP. Hari itu, dia ada tugas survey lapangan untuk menggantikan Kaero. Karena suasana hatinya memburuk akibat insiden pagi tadi, Bian meminta bantuan Angga untuk menemaninya. Kenapa harus Angga? Karena Angga juga ikut terlibat dalam proyek baru tersebut.
Saat sudah kembali ke kantor, Bian meminta Angga untuk menunjukkan hasil review terakhir proyek tersebut. Karena terburu-buru hendak ke kamar kecil, Angga salah memberikan flashdisk. Bukannya memberikan flashdisk hasil Review, tetapi Angga justru memberikan flashdisk milik Revina yang berisi film, foto dan lagu-lagu favoritnya. Angga memang membawa flashdisk Revina untuk memindahkan beberapa foto hasil survey lapangan.
Bian langsung membuka flashdisk yang bernama "Rev_n" tersebut. Namun, dia sama sekali tidak menemukan file apapun terkait dengan proyek terbaru. Dia hanya menemukan beberapa file dengan nama yang cukup membuat kening berkerut.
File pertama berjudul 'Drama baper, jangan dilihat jika sedang galon'.
File kedua berjudul 'Drama bucin dan konyol'.
File ketiga berjudul 'Drama plus plus (Aku sudah berumur 23 tahun, jadi boleh nonton, dong)'. Memang ada file berjudul begitu 🤦
File keempat berjudul 'Lagu baper, sedih dan galon'.
__ADS_1
File keempat berjudul 'Lagu Jawa hok a hok e".
File kelima berjudul 'Foto kompilasi Angga'
Dan yang paling menarik perhatian Bian adalah file keenam yang berjudul 'My Future Husband"
Entah mengapa jari tangan Bian begitu saja langsung mengklik file keenam tersebut. Dia penasaran dengan isi file keenam tersebut.
Saat file tersebut sudah terbuka, kedua bola mata dan mulut Bian langsung membulat seketika. Bagaimana tidak, file tersebut berisi puluhan, bahkan ratusan foto dirinya yang sepertinya diambil secara diam-diam. Bian memeriksa foto-foto tersebut yang sepertinya semua diambil saat dirinya sedang melakukan survey atau meeting bersama dengan Revina.
Bian masih memeriksa foto-foto tersebut hingga beberapa saat kemudian Angga datang setelah kembali dari kamar kecil. Angga langsung meminta maaf saat mengetahui flashdisk yang diberikannya ternyata keliru.
Angga cukup panik saat melihat Bian sudah memeriksa foto-fotonya berada di sana. Dengan terpaksa Angga menjelaskan jika sebenarnya Revina menyukainya. Sejak saat itu, Bian diam-diam mulai memperhatikan Revina.
Revina begitu terkejut saat mendengar penjelasan Bian. Dalam hati, Revina mengutuk mulut Angga yang benar-benar sudah membuatnya mati kutu di hadapan Bian. Revina merasa sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan Bian. Dia bahkan sudah mulai tidak berkonsentrasi untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bian. Hingga Bian berkali-kali memanggilnya.
"Hallo, apa kamu masih disana?" Tanya Bian yang saat itu sedang menghubungi Revina.
"Hallooo, halloo." Bian kembali bersuara.
"Hallo, Dek?"
Seketika Revina tersadar dari lamunannya. Dia gelagapan karena telah mengabaikan Bian.
"I-iya, Mas."
"Bagaimana? Kamu bersedia?"
"Iya, Mas. Aku bersedia menjadi istri kamu." Jawab Revina.
"Hhaah?"
\=\=\=
Sudah ada jatah vote, sisakan 1 buat Zee ya. 🤗
__ADS_1
Terima kasoh.