
Sekitar lima menit perjalanan, Zee dan kedua orang tersebut sudah sampai di depan rumah yang sangat sederhana. Wanita yang berada di depan Zee, tampak merogoh saku dasternya untuk mengeluarkan sebuah kunci. Setelah itu, dia membukakan pintu tersebut.
"Bawa masuk, Nak." Wanita paruh baya tersebut meminta Zee membawa Kiara masuk.
Zee mengangguk dan melangkahkan kaki menuju sebuah kamar mengikuti wanita tersebut. Zee menidurkan Kiara diatas sebuah dipan dengan kasur seadanya.
"Astaghfirullah. Punggung badan kamu luka begini, Nak?" Wanita paruh baya tersebut tampak terkejut saat melihat punggung Zee yang penuh dengan luka.
"Tidak apa-apa, Bu. Tadi memang sempat terjatuh."
"Itu, wajah kamu juga memar begitu. Ada darah juga. Ayo, Ibu obati dulu." Wanita paruh baya tersebut langsung menarik lengan Zee tanpa menunggu persetujuannya. Dia membawa Zee ke ruang tengah.
"Pak, ambilkan obat di rumah. Ini Mas nya banyak luka di tubuhnya." Si Ibu sedikit berteriak karena sang suami sedang memeriksa pintu di bagian belakang rumah.
Tak lama kemudian, terlihat si Bapak muncul dari arah dapur. Dia cukup terkejut saat melihat luka punggung Zee.
"Kenapa bisa luka begini? Bapak ambilkan obat dulu." Si Bapak beranjak menuju pintu depan setelah melihat keadaan Zee.
__ADS_1
"Tidak usah, Pak. Saya tidak mau merepotkan." Zee terlihat tidak enak hati.
"Tidak merepotkan. Di rumah memang ada obat-obatan. Anak kami bekerja di puskesmas. Jadi, di rumah memang ada beberapa obat." Kali ini si ibu yang berbicara. Zee hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Tunggu sebentar ya, Nak. Ibu akan melihat keadaan Kia." Si Ibu beranjak berdiri setelah Zee menganggukkan kepala.
Zee mengamati keadaan rumah tersebut. Rumah yang sangat sederhana. Ada dua kamar di rumah tersebut. Di bagian depan, ada ruang tamu. Dibelakangnya, ada ruang keluarga yang saat ini Zee berada, dan di belakangnya lagu, Zee yakin adalah sebuah dapur.
Tidak ada barang-barang mewah di rumah tersebut. Bahkan, Zee juga tidak melihat adanya televisi. Tempat duduk yang diduduki Zee juga hanya kursi yang terbuat dari rotan.
Tak berapa lama kemudian, terlihat si Bapak datang dengan membawa sekotak obat. Zee berniat untuk membersihkan lukanya sendiri, namun si Bapak melarangnya.
Mau tidak mau, Zee menuruti perkataan tersebut. Tak berapa lama kemudian, si Ibu terlihat keluar dari kamar Kiara. Dia langsung mengambil alih kotak tersebut dan mulai membersihkan luka Zee. Si Bapak juga menunggui di samping mereka.
"Oh iya, kita belum berkenalan. Siapa nama kamu, Nak?" Si Bapak bertanya.
"Saya Zee, Pak."
__ADS_1
"Perkenalkan, saya Pak Warto, dan ini istri saya, Marni."
Zee menganggukkan kepala sambil meringis. Si Ibu membersihkan luka Zee dengan cairan pembersih luka.
"Kalau boleh tau, apa tujuan Nak Zee datang kemari?" Pak Warto bertanya. Pasalnya, dia cukup penasaran kepada Zee. Pak Warto belum pernah bertemu dengannya sebelum ini.
Setelah itu, Zee mulai menceritakan siapa dia dan apa tujuannya datang ke desa tersebut. Pak Warto dan Bu Marni cukup kaget mendengarnya. Mereka tidak menduga jika ada yang memprovokasi warga. Dan, orang tersebut adalah mantan lurah dulu.
Selanjutnya, giliran Zee yang bertanya tentang keadaan Kiara.
"Lalu, bagaimana ceritanya Kiara bisa berada di posisi seperti ini, Pak? Tadi, saya dengar dia dihina oleh orang-orang. Apakah semua itu benar?" Zee benar-benar penasaran.
"Tidak benar, Nak. Semua yang mereka tuduhkan sama sekali tidak benar."
"Kalau boleh tau, bagaimana ceritanya, Pak?" tanya Zee sambil menahan perih karena lukanya sedang diobati.
\=\=\=
__ADS_1
Ceritanya masih di ketik ya. Sabar dulu.