
Keesokan pagi, Zee dan Kiara sudah bersiap untuk beraktivitas. Setelah babak baru pernikahan mereka semalam sudah mulai berubah, Zee dan Kiara mulai tampak semakin dekat.
Pagi itu, Kiara sedang menyiapkan sarapan untuk Zee seperti biasa. Hari ini, Zee ada jadwal kuliah siang. Sebelum kuliah, Zee akan ke kantor sebentar.
"Mau kopi, Mas?" tanya Kiara saat meletakkan piring berisi sarapan untuk Zee.
"Boleh, deh."
Biasanya, Zee akan ditanya dulu mau kopi atau tidak. Dia memang tidak setiap pagi minum kopi seperti daddy dan papanya. Setelah itu, Kiara segera beranjak untuk membuatkan kopi sang suami. Saat itu, terdengar suara ponsel Zee. Zee melihat layar ponselnya ternyata ada nomor sang daddy yang tertera di layar ponselnya.
"Hallo, Dad."
"Hallo, Zee. Kamu masih di rumah?" tanya Ken di seberang sana.
"Iya, ini mau ke kantor dulu. Ada apa, Dad? Tumben pagi-pagi telepon?"
"Kamu nanti bisa ke Singapura, Zee?"
"Eh, ada apa, Dad?"
"Papa sudah terlanjur berada di Dubai. Ternyata, ada pertemuan rutin yang harus dihadiri. Sebelum itu, ada undangan nanti malam untuk acara amal. Kamu wakilin Daddy, ya."
"Harus banget ya, Dad?"
__ADS_1
"Iya, Zee. Kalau untuk acara biasa, nggak apa-apa nggak usah hadir. Tapi ini untuk acara amal. Kamu tau sendiri papa kamu nggak main-main untuk acara seperti itu."
Zee mendesahkan napas beratnya. Dia memang tahu jika sang papa sangat aktif untuk acara amal seperti itu. Apalagi, acara amal kali ini berskala internasional.
"Baiklah. Aku nanti akan berangkat ke sana."
"Nak, begitu kan bagus. Dino sudah menunggu di sana."
"Iya."
Saat itu, Kiara sudah mengantarkan kopi pesanan Zee. Dia meletakkan kopi tersebut di samping sang suami.
"Kopinya, Mas," ucap Kiara sambil meletakkan cangkir kopi tersebut.
Kiara yang menyadari panggilan sang suami pun cukup terkejut. Entah mengapa wajahnya langsung memerah. Zee juga tidak terlalu menyadari panggilannya tersebut, hingga suara sang daddy di seberang sana terdengar di telinga Zee.
"Yang, itu anak kamu kok sudah mulai panggil yang yang an sama istrinya? Memang sudah jinak dia?" teriak Ken. Sepertinya, dia bertanya kepada Gitta.
Terdengar suara balasan dari Gitta dengan sedikit berteriak. "Mungkin pawangnya sudah pas kali, Mas."
Zee yang menyadari percakapan kedua orang tuanya pun cukup terkejut pasalnya, dia tidak menyangka jika akan keceplosan seperti itu. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Bisa dipastikan, sang daddy akan menggodanya habis-habisan jika sudah kembali nanti.
Setelah menutup panggilan telepon, Zee kembali melanjutkan sarapan bersama dengan Kiara. "Ehm, nanti sore ikut aku berangkat ke Singapura, ya." Zee mengutarakan keinginannya sambil berjalan menuju pintu depan. Kiara masih mengikuti Zee untuk mengantarnya menuju pintu depan.
__ADS_1
"Ehm, nanti malam, Mas?"
"Iya."
"Tapi, nanti malam aku kan harus menggantikan mommy untuk acara santunan anak yatim di masjid kompleks. Bagaimana, Mas?" Kiara tampak bingung.
Zee yang baru ingat pun langsung menepuk keningnya. Dia benar-benar lupa dengan acara tersebut.
"Aku lupa. Ya sudah, kamu di rumah saja kalau begitu."
Kiara menatap Zee dengan kening berkerut. "Tidak apa-apa, Mas?"
"Tidak apa-apa. Memang semuanya penting, kok."
Kiara mengangguk-anggukkan kepala. Zee berjalan mendekat ke arah Kiara. Dia menarik tubuh sang istri hingga kini menempel pada tubuhnya.
"Eh," Kiara benar-benar terkejut dengan tindakan Zee. Dia langsung mendongakkan kepala menatap wajah sang suami.
"Nggak apa-apa kamu nggak ikut. Tapi aku berharap setelah pulang dari Singapura, aku benar-benar bisa segera mengolah 'tusuk sate alamiku'," ucap Zee sambil menekan bagian bawah tubuhnya.
Sontak saja Kiara menjadi panik karena tindakan Zee. "Eh, ma-mass,"
"Tenang saja. Kamu bisa bersiap-siap selama dua hari ini." Zee mengucapkannya sambil tersenyum miring.
__ADS_1
Tubuh Kiara benar-benar meremang hebat hanya dengan menatap senyuman jahil sang suami.