Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 217


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Ken begitu panggilan telepon tersebut sudah terhubung.


"Saya sudah mendapatkan bukti komplit, Pak. Bagaimana? Anda ingin kita segera bertindak?" tanya Juan dari seberang sana.


"Tidak. Jangan dulu. Aku masih ingin melakukan satu hal lagi."


Juan sepertinya mengerti dengan apa yang dikehendaki oleh Ken.


"Anda ingin ke Surabaya?" tanya Juan.


"Iya. Ini sudah di perjalanan."


"Anda butuh bantuan saya, Pak Ken?" tawar Juan.


"Tentu saja. Aku ingin semua data dari beberapa orang dan harus segera masuk ke emailku. Aku akan kirimkan nama-nama dan dari mana mereka berasal. Kamu bisa mencari data orang-orang tersebut dari kelurahan xxx. Sepertinya, mereka bekerja di kelurahan tersebut."


"Baik, Pak. Saya akan segera mencari tahu begitu data masuk ke email saya," ucap Juan dengan suara penuh keyakinan.


"Hhmmm."

__ADS_1


Setelahnya, panggilan telepon terputus. Mobil yang ditumpangi Ken, masih melaju membelah jalanan padat menuju bandara. Hingga kurang dari satu jam kemudian, Ken sudah berada di bandara. Setelah bersiap, pesawat pribadi Ken langsung lepas landas menuju Bandara Juanda.


Tidak sampai dua jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Ken sudah mendarat dengan selamat di bandara Juanda. Ken yang masih memakai celana pendek dan sandal jepit andalannya, langsung berjalan memasuki mobil yang sudah menunggunya.


Mobil yang membawa Ken langsung melaju ke sebuah daerah yang ada disekitar salah satu kampus ternama di Surabaya. Ken sudah membuat janji dengan seseorang di sana.


Hingga menjelang makan siang, mobil yang ditumpangi Ken sudah sampai di sebuah restoran. Ken langsung bergegas memasuki restoran tersebut dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan seseorang.


Hingga beberapa saat kemudian, netra Ken melihat seseorang yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Ken yang melihat hal itu, langsung berjalan menuju meja tempat dimana orang tersebut berada.


"Hallo, Pak Ken. Selamat siang," sapa seorang laki-laki yang langsung mengulurkan tangannya kepada Ken.


Dengan senang hati Ken menyambut uluran tangan tersebut. Laki-laki tersebut juga langsung meminta Ken untuk menempati sebuah kursi yang berada tepat di depannya.


Ya, laki-laki yang ditemui Ken saat itu adalah Pratama, salah satu orang yang sudah membeli tanah Kiara. Kebetulan, Pratama ini cukup kenal dengan Ken karena dulu mereka pernah bekerja sama di Kota M. Hanya saja, sekarang Pratama sudah pindah ke Surabaya dengan keluarganya.


"Baik, Pak Ken. Bagaimana kabar Anda dan keluarga?"


"Alhamdulillah kami sehat, Pak."

__ADS_1


Setelahnya, obrolan ringan mereka lakukan sambil menyantap makan siang. Ken dan Pratama juga saling membahas pekerjaan mereka masing-masing. Hingga akhirnya, makan siang mereka sudah selesai.


Ken langsung mengambil tisu dan membersihkan bibirnya dari sisa-sisa makanan. Setelah itu, dia juga menenggak air minumnya sebelum memulai pembicaraan yang serius dengan Pratama.


"Jadi, apa Anda yakin akan menjual tanah itu kepada kami, Pak?"


\=\=\=


Mohon bantu dukung cerita baru othor, ya. Bantu like, komen dan sisakan satu vote juga. Jika berkenan, bisa bantu promosikan kepada teman, pacar, kekasih, simpanan, bribikan, ataupun selingkuhan.🤧


Othor kasih bocoran sedikit ya cerita baru othor 'Tetangga Kamar'


Beberapa saat kemudian, Nayra sudah selesai membantu mengancingkan baju pasien Rainer. Ya, dia terpaksa memakai baju pasien karena tidak ada baju ganti selain itu.


"Nah, sekarang sudah selesai. Saya akan menghubungi Pak Budi dulu," ucap Nayra sambil hendak beranjak menuju sofa untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


Namun, langkah kaki Nayra terhenti saat Rainer memanggilnya.


"Tunggu dulu. Bantu aku ke kamar kecil. Aku ingin buang air kecil." Wajah Rainer terlihat memerah saat mengatakan hal itu. Ya, meskipun dia terkesan sangat arogan, namun Rainer masih memiliki rasa malu jika berhubungan dengan aktivitas pribadinya.

__ADS_1


Nayra hanya bisa mendesahkan napas berat ke udara. Setelahnya, dia kembali berjalan mendekati brankar dan berniat membantu Rainer. Nayra membuka selimut yang sejak tadi menutupi tubuh Rainer. Hingga sebuah pemandangan tak biasa terlihat oleh mata polosnya.


"Astaga, Pak! Lo-lontongnya tidak dibungkus?!"


__ADS_2