Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 23


__ADS_3

Malam itu, entah mengapa Zee terlihat belum mengantuk. Gitta yang berusaha untuk membujuk sang putra pun tetap tidak berhasil.


"Zee, ini sudah malam, lho. Bobo, yuk?" bujuk Gitta saat melihat Zee tengah mendorong mobil-mobilannya.


"Indak au. Ji beyyum antuk (Tidak mau. Zee belum ngantuk)"


Entah bujukan Gitta tersebut sudah keberapa kali. Namun, sang putra masih belum juga mau tidur. Beberapa saat kemudian, balita laki-laki tersebut langsung menoleh ke arah Gitta.


"Teddi ana? (Daddy kemana?)"


"Daddy belum pulang, Sayang. Daddy masih kerja."


"Keja?"


"Iya. Daddy masih kerja. Zee bobok dulu, ya."


"Indak au. Au ama Tedi."


"Zee tidak capek?"


"Indak."


"Nggak mau mimi cucu?"


"Anti, Mi."


"Nanti jika Daddy pulang, mimi cucu Zee diminta lho. Zee mau?" Gitta masih berusaha membujuk sang putra. Gitta hanya bisa berharap jika sang putra mau menuruti perkataannya.


Dan, benar saja. Zee langsung meninggalkan mainan mobil-mobilannya dan beranjak menuju sang mommy. Zee langsung menubruk Gitta dan melingkarkan kedua tangannya pada leher Gitta. Jangan lupakan kecupan basahnya pada pipi sang mommy.


"Au mimi cucu, Mi."


Gitta tersenyum saat melihat sang putra menggelayutinya. Dia langsung memeluk dan menghujami putra kecilnya tersebut dengan banyak kecupan.


"Ayo, kita mimi cucu dan bobo," ucap Gitta sambil beranjak berdiri. 


Gitta langsung membawa Zee ke dalam kamar mereka. Setelah membaringkan sang putra, secepat kilat Zee langsung menyambar asupan nutrisinya. Entah apa memang karena Zee adalah anak laki-laki, dia tidak bisa diam. Selalu ada saja tingkah polahnya saat sedang mengenyot asupan nutrisinya tersebut.


Saat ini, posisi Zee tengah tidur tengkurap dengan Gitta miring ke arahnya. Zee tengah mengenyot satu pabrik nutrisi, sedangkan tangan kanannya memainkan sumber nutrisi yang lain, hingga membuatnya langsung mengeluarkan nutrisinya.


Hap. Hap. Hap.


Zee berpindah-pindah dari satu pabrik nutrisi ke pabrik nutrisi yang lainnya. Gitta hanya bisa pasrah dengan tingkah sang putra. Namun, aktivitas tersebut terhenti saat mereka mendengar pintu kamar terbuka.


Ceklek.


Zee dan Gitta menoleh ke arah pintu. Terlihat Ken baru saja pulang dengan baju yang sudah cukup berantakan. Secepat kilat Zee duduk dan menatap tajam ke arah sang daddy.


"Tedi benti. Ji tak au bagi. (Daddy berhenti. Zee tidak mau berbagi)" ucap Zee sambil menggerak-gerakkan tangannya untuk mencegah Ken mendekat.

__ADS_1


Ken yang memahami maksud sang putra pun berniat menggodanya. "Eh, kenapa? Itu kan ada dua. Satu-satu, ya. Satu buat Zee, satu buat Daddy. Okay?"


"Indak auuu! Huaaa huaaaaa." Zee langsung menangis dengan keras. Dia juga langsung melompat ke arah Gitta dan memonopoli pabrik nutrisinya.


Gitta hanya bisa menghembuskan napas berat. Hampir setiap malam, Ken selalu berhasil menggoda sang putra. Sementara Ken, dia hanya bisa mencebikkan bibirnya sambil berjalan menuju kamar mandi setelah mendapatkan tatapan tajam dari Gitta.


***


Keesokan hari, Gitta masih harus ada jadwal ujian di kampus. Dia kembali menitipkan sang putra ke tempat mommy Retta. Hari ini, Ken tidak bisa menjaga Zee karena dia harus ke Bandung. Sementara orang tua Gitta, sedang berada di Makassar sejak satu minggu yang lalu.


"Maaf aku harus menitipkan Zee lagi, Mom." Gitta menitipkan Zee dan meletakkan perlengkapannya di sofa.


"Kamu ini ngomong apa sih, Sayang. Zee kan cucu Mommy. Jangan ngomong seperti itu, ih. Kamu fokus pada ujian kamu saja dulu."


"Tapi ini Mommy tidak apa-apa jika mengajak Zee?" 


"Nggak apa-apa, Sayang. Nanti juga bareng Daddy kamu."


Gitta mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia segera berangkat ke kampus. Mommy Retta dan juga Zee segera berangkat ke kantor daddy Vanno.


Beberapa saat kemudian, mommy Retta dan juga Zee sudah sampai di kantor. Mereka langsung menuju ruang kerja daddy Vanno.


"Selamat siang, Bu." Sapa Dinda, sekretaris daddy Vanno.


"Siang. Bapak ada?"


"Terima kasih. Ehm, ngomong-ngomong, kamu belum mengajukan cuti? Sepertinya sudah hampir waktunya melahirkan."


"Ehm, belum Bu. Saya baru mengajukan cuti awal bulan depan, mendekati HPL, Bu."


"Jangan-jangan mas Vanno yang meminta kamu tetap bekerja, ya?"


"Eh, bu-bukan, Bu. Sa-saya…," belum sempat Dinda menyelesaikan perkataannya, terlihat pintu ruang kerja Vanno terbuka.


Ceklek.


Dinda dan juga mommy Retta yang berada di dekat pintu pun langsung menoleh ke arah pintu terbuka. Terlihat wajah daddy Vanno yang langsung sumringah saat mendapati sang istri dan cucunya berada di sana.


"Papa, ndong." Kata Zee yang langsung mengulurkan kedua tangannya ke arah daddy Vanno.


"Ouuwwhh, cucu Papa jadi ikut ke sini. Kok nggak langsung masuk, hhmmm," ucap daddy Vanno sambil menciumi pipi gembul Zee.


"Uuhhhh, jauh-jauh. Papa au." Kata Zee sambil menahan wajah daddy Vanno saat berniat untuk menciuminya.


Suara gelak tawa daddy Vanno langsung menyusut saat mendapati tatapan tajam dari mommy Retta. Daddy Vanno pun mengernyitkan keningnya sambil menatap wajah Dinda dan mommy Retta bergantian.


"Ada apa, Yang?" Tanya daddy Vanno masih tak bergerak di depan kedua wanita tersebut.


"Kamu masih tanya ada apa, Mas? Kamu nggak lihat ini Dinda lagi hamil besar ini?" 

__ADS_1


"Lihat kok, Yang. Aku juga tahu jika Dinda sedang hamil tua. Orang buncit begitu. Memangnya ada apa?" Tanya daddy Vanno dengan santainya.


"Lalu, jika kamu sudah tahu perut Dinda sudah buncit begini, kenapa tidak kamu suruh ambil cuti? Kamu yang melarangnya, Mas?"


"Eh, enggak, Yang. Aku nggak melarangnya kok." Kata daddy Vanno sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


Mommy Retta masih tidak mempercayai perkataan sang suami. Dia masih mengamati ekspresi daddy Vanno.


"Besok, kamu berikan cuti untuk Dinda. Dengan usia kehamilan sebesar ini, dia seharusnya sudah mulai mempersiapkan kelahiran putrinya, bukan malah sibuk kamu suruh-suruh, Mas."


"Eh, tapi Yang, tiga hari lagi kita kedatangan Mr. Oemar. Jika Dinda cuti, siapa nanti yang akan membantuku, Yang?"


"Minta bantuan yang lain. Jika kamu nggak mau, siap-siap saja aku akan tinggal di rumah Ken!"


"Eh, eh jangan, dong! Iya, iya. Din, besok kamu sudah bisa mengajukan cuti melahirkan." Kata daddy Vanno buru-buru. Dia tidak mau mendapat masalah dengan mommy Retta.


"Tapi Pak, nanti…,"


"Sudah, sudah. Kamu bereskan saja semua barang-barang kamu. Nanti aku akan minta yang lain untuk mengerjakan tugas kamu. Sekarang, kamu boleh pulang."


"Ini kan masih siang, Pak?"


"Kamu ini ngebantah saja. Mau pagi kek, siang kek, itu keputusan saya. Sekarang, kamu bisa pulang." Kata daddy Vanno sedikit meninggikan suaranya. Ya, memang seperti itu lah daddy Vanno jika di tempat kerja. Dia sama sekali nggak ada manis-manisnya. Yang ada, jutek terus. Tapi, jika sudah di rumah dia akan berubah menjadi spesies buciner yang sangat akut terhadap mommy Retta.


Mommy Retta yang melihat tingkah sang suami langsung mencubit pinggangnya.


"Auuwwhhh, Yang. Masih demen banget sih cubit-cubit terus," gerutu daddy Vanno sambil mengerucutkan bibirnya.


"Biarin. Itu mulut kalau ngomong diperhatikan dong, Mas. Nggak usah ketus-ketus juga, kasihan Dinda juga sedang hamil. Tuh liat, dia mengusap-usap perutnya pasti dalam hati berdoa semoga anaknya nggak seperti kamu." Gerutu mommy Retta.


"Eh, ti-tidak begitu, Bu." Elak Dinda.


"Tuh kan, Yang. Dinda saja nggak masalah. Lagipula, malah bagus kan jika seperti aku. Bibit unggul ini," jawab daddy Vanno sambil kembali menciumi Zee yang tengah mengenyot susu botolnya sejak tadi.


"Kamu nggak ikut urunan yang ada diperut Dinda kan, Mas?!"


"Eh, sembarangan. Urunan apa maksud kamu?" Daddy Vanno menatap tajam kearah mommy Retta.


Mommy Retta tidak menyahuti perkataan daddy Vanno. Namun, dia langsung meraup kembali Zee ke dalam gendongannya.


"Ayo, Zee kita berangkat sekarang. Kita tinggalkan Papa sendirian di sini."


"Ciaoo."


"Eh, Yang."


\=\=\=


Mohon bantu dukung cerita ini ya. Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor. Klik like, komen dan vote. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2