Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 262 - Telepon Sahabat


__ADS_3

Setelah mendengar permintaan Ken, Gitta mengurungkan niatnya untuk menidurkan Gen di butik. Jika dia menemani sang cucu tidur di sana, sudah dipastikan Ken juga akan ikut. Tidak masalah jika hanya tidur biasa, tapi Ken pasti tidak akan membiarkan Gitta tidur dengan tenang.


Oleh karena itu, mau tidak mau Gitta mengikuti Ken ke mall yang akan diresmikan minggu depan. Gitta juga mengajak Gen sekalian, karena tidak mungkin dia meninggalkan sang cucu di butik sendirian.


"Kamu nggak ke kantor, Mas?" tanya Gitta saat berada dalam perjalanan menuju mall.


"Enggak. Aku harus memastikan peresmian mall ini sebelum puasa Ramadhan tiba."


Gitta mengangguk-anggukkan kepala. Ya, dia memang mengetahui jika peresmian mall tersebut akan dilakukan satu hari sebelum puasa Ramadhan. Tepatnya, hari selasa minggu depan.


"Nggak ada meeting?" Gitta menoleh ke arah sang suami yang sedang menyetir. Gen sudah tidur dengan nyaman diatas car seatnya belakang.


"Nggak ada. Aku sudah mengosongkan jadwal untuk hari ini. Aku ingin menunjukkan kepada Gen jika ada wahana permainan baru yang bisa dia kunjungi nanti," jawab Ken.


Gitta mencebikkan bibir. "Kamu seperti tidak mengenal cucumu, Mas. Mana bisa Gen bertahan lama main-main di tempat seperti itu. Gen paling tidak nyaman bermain di mall. Dia lebih suka bermain di alam terbuka."


Ken mengedikkan bahu. "Ya, setidaknya biar dia bisa punya referensi lain, Yang."


Gitta hanya bisa pasrah. Jika sang suami sudah punya keinginan, jarang baginya bisa menolak. Hingga tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Ken sudah memasuki area parkir mall tersebut. Siang itu, bisa dipastikan waktu Ken, Gitta dan sang cucu akan dihabiskan di mall tersebut.


Sementara di kantor Zee, dia masih memeriksa laporan beberapa proyek yang di handlenya. Namun, perhatiannya teralihkan oleh sebuah panggilan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


"Hallo, Om. Bagaimana?" tanya Zee begitu panggilan telepon tersebut terhubung.


"...."


"Begitu? Jadi nomor telepon tersebut dimiliki oleh orang yang sama?"


"...."


"Dia di Jakarta juga?"


"...."


"Hhhmmm. Berarti benar jika dia mengenalku. Bisa kirimkan semua data-data orang itu, Om?"


"...."


Zee segera mematikan panggilan tersebut setelah mendapat kepastian akan menerima informasi terkait orang yang menghubunginya tersebut. Tak menunggu lama, ada sebuah pemberitahuan dari email Zee. Dia segera membukanya dan memeriksa informasi yang baru saja dikirim. 


Zee tidak terlalu kaget saat melihat informasi tersebut. Ternyata, dia cukup mengenal siapa orang yang mengiriminya pesan. Bahkan, dia pernah berada di organisasi yang sama dengan Zee saat masih kuliah.


Orang tersebut adalah Riko. Dia salah satu anggota BEM seangkatan Zee saat kuliah. Dia dan salah satu temannya, Ferdi, memang sering bersilang pendapat dengan Zee. Bahkan, tak jarang mereka selalu mencari gara-gara dengan Zee.

__ADS_1


"Ternyata dia masih mau mengusik kehidupanku. Bukankah si Riko ini melanjutkan kuliah di luar negeri? Apa dia sudah kembali ke Indonesia?" gumam Zee.


Ketika Zee sedang membaca beberapa informasi yang ada, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini, Zee melihat nama sang sahabat tertera pada layar ponselnya.


"Hallo, El."


"Zee, lo dimana?"


"Gue di kantor. Ada apa?"


"Gue mau mampir sebentar bisa? Ada yang mau gue omongin," tanya El.


Zee mengerutkan kening bingung. Dia merasa heran dengan sahabatnya tersebut. Pasalnya, El lebih nyaman mengobrol dan bercerita di luar kantor Zee. Dia lebih memilih menghampiri Zee di rumah, atau di luar untuk sekedar mengobrol.


"Boleh. Memang ada apa sih, El? Sepertinya penting." Zee cukup penasaran.


"Gue mau nikah."


"Eh, serius? Perempuan mana yang mau sama lo?"


•••

__ADS_1


Ada yang masih ingat part El nikah di The CEO's Proposal?


__ADS_2