
"Eh, pu-pupuk?" Bu Marni langsung mengerutkan kening. Dia masih belum mengerti ucapan Zee yang aneh tersebut.
Namun, hal berbeda justru dilakukan oleh Kiara. Dia langsung mencubit gemas pinggang Zee yang tengah menggendong Gen tersebut.
"Apaan sih, Mas. Jangan suka aneh-aneh kalau ngomong. Main pupuk-pupuk saja. Dikira Gen itu tanaman, apa." Kiara langsung menatap tajam ke arah Zee.
"Aduuhh, Yang. Kebiasaan deh suka cubit," Zee meringis sambil mengusap-usap pinggangnya bekas cubitan sang istri.
"Makanya, jangan suka aneh-aneh." Kiara masih mendelik ke arah Zee. Setelah itu, tanpa mempedulikan Zee dan Gen, Kiara mengapit lengan Bu Marni dan mengajaknya berjalan menuju rumahnya.
Gen yang melihat sang mommy meninggalkannya, langsung menatap ke arah Zee.
"Ami ana?" tanya Gen bingung.
"Mommy mau ghibah," jawab Zee asal sambil berjalan mengikuti Kiara dan Bu Marni menuju rumah Kiara.
"Ibah? Coyat?" tanya Gen. Dia berpikir jika sang mommy akan beribadah alias sholat.
"Bukan ibadah Gen, tapi ghibah. Sudah, kamu ikut Daddy saja. Kita minum susu oke?" Zee langsung menciumi pipi gembul sang putra dengan gemas
__ADS_1
"Cucu Ami, yyeeeyy." Gen tamoak bersemangat.
"Eh, bukan." Zee buru-buru meralat ucapan sang putra.
Setelah beristirahat, siang itu juga Zee, Kiara serta Gen langsung berangkat menuju pemakaman. Mereka ingin berziarah sebelum datangnya bulan suci Ramadhan.
Gen yang baru pertama kali ikut ziarah ke makam kakek dan neneknya, tampak antusias. Dia juga suka bertanya ini itu saat melihat hal yang baru pertama kali dilihatnya.
Beberapa warga yang melihat kedatangan Zee dan Kiara, sempat menyapa mereka. Saat ini, warga yang memang mengetahui siapa Zee sebenarnya, terlihat sangat segan dengan Kiara. Beberapa orang yang dulu suka menghina dan mengejek Kiara, tidak lagi berani mengganggu atau menyindir Kiara secara langsung. Mereka cukup sadar diri untuk tidak mencari masalah dengan Geraldy.
Selain itu, para warga juga sudah mengetahui bagaimana nasib ibu dan kakak tiri Kiara yang sudah berani mengusik keluarga Kiara.
Begitu sampai di rumah Kiara, Bu Marni dan Pak Warno menyambut kedatangan mereka. Mereka sempat mengobrol sebentar sebelum Zee dan Kiara berpamitan. Meskipun masih merasa kangen, tapi Kiara harus tetap mengikuti sang suami. Lagi pula, sebentar lagi juva sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Jadi, Kiara sudah harus menyiapkan semua keperluan untuk menyambut bulan suci.
Menjelang pukul empat sore, Zee, Kiara dan Gen berpamitan. Beruntung saat itu Zee memakai sopir. Jadi, dia tidak terlalu capek mengendarai mobil. Apalagi, Gen sedang aktif-aktifnya. Akan sangat merepotkan bagi Kiara jika harus menjaga Gen sendirian.
Setelah sempat mampir beberapa kali untuk beristirahat, mobil yang ditumpangi Zee sudah tiba di rumah yang berada di Surabaya sekitar pukul sembilan.
Gen yang sudah tertidur, langsung dipindahkan oleh Zee ke dalam kamar. Kiara mengikuti keduanya dengan berjalan di belakangnya. Malam itu, Zee dan Kiara tampak beristirahat dengan tenang sebelum esok hari mereka kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Hari berganti hari. Tak terasa bulan puasa sudah dimulai sejak beberapa hari yang lalu. Pagi ini, Zee sedang membantu Kiara mengasuh Gen. Zee menyuapi Gen di ruang tengah sambil menonton serial kartun.
"Gen, mamamnya dikunyah Sayang, jangan di **** begitu, nanti nggak selesai-selesai mamamnya," Zee sudah terlihat tidak sabar. Zee sudah menoleh ke arah dapur untuk menunggu kedatangan Kiara.
Tak berapa lama kemudian, Kiara sudah datang sambil membawa potongan buah apel untuk sang putra.
"Belum habis, Mas?" tanya Kiara saat melihat makanan Zee masih tersisa.
"Belum. Masih banyak, nih. Kamu lanjutin, Yang. Aku ada meeting pagi ini," ucap Zee sambil menyerahkan mangkuk sarapan Gen.
"Iya. Nanti pulang jam berapa, Mas?"
"Entahlah. Nanti ada janji sama El."
"Eh, Kak El? Pengantin baru mau apa?" tanya Kiara penasaran.
"Entahlah. Mungkin mau minta resep ngadon kali," jawab Zee asal.
"Cckkk. Ingat lagi puasa, Mas."
__ADS_1