Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 75


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah Ken dan daddy Vanno menerima paket. Hari ini, Ken sudah kembali ke kantor seperti biasa. 


Pagi itu, Ken sedang menunggui sang putra sarapan, sementara Gitta sedang bersiap-siap untuk pergi ke butik. Gitta akan berangkat bersama dengan Ken, dan akan membawa Zee sekalian.


Zee yang sudah selesai sarapan pun langsung dibawa Ken ke wastafel untuk mencuci tangannya. Dia sudah terbiasa melakukan hal itu, jadi sudah tidak protes lagi.


"Teddi, Ji au ana? (Daddy, Zee mau kemana?)"


"Zee ikut mommy ke butik, Sayang."


"Tenapa te butik?"


"Eh, Zee nggak suka ikut mommy ke butik?"


Zee menggelengkan kepala sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Ken.


"Tak cuka. Ji au itut Teddi." Zee langsung mengeratkan pelukannya pada leher Ken.


Ken terlihat bingung. Bukannya tidak mau mengajak Zee ke kantor, tapi hari ini dia harus melakukan sesuatu dengan daddy Vanno. Bisa dipastikan, mereka akan seharian berada di luar kantor.


Ken membawa Zee ke dalam kamar untuk menemui Gitta yang sedang bersiap-siap. Dia langsung nyelonong masuk dan berjalan menghampiri Gitta yang sedang berada di depan meja rias.


Gitta menoleh sedikit ke arah Ken dan Zee. "Ada apa?"


"Yang, Zee mau ikut aku ke kantor. Bagaimana ini?"

__ADS_1


Gitta menolehkan kepala. Dia yang tahu jadwal sang suami pun langsung berbalik dan menatap ke arah sang putra dengan lembut.


"Sayang, nanti ikut Mommy ke butik, ya? Mommy mau belikan Zee bakso Mang Abin yang jualan di depan butik. Mau?" 


Gitta memang sengaja menawari Zee bakso yang ada di depan butiknya. Dia tahu jika sang putra sangat menyukai bakso tersebut. Namun, Gitta memang membatasi Zee untuk tidak selalu makan bakso setiap kali diajak ke butik.


Dan, benar saja. Zee sudah langsung antusias mendengar perkataan sang mommy. Dia langsung mengulurkan tangan ke arah Gitta.


"Ja. Ji au, Mi. Ji au tempol aco." 


Ken merasa lega saat sang putra tidak lagi merengek minta ikut dengannya. Beberapa saat kemudian, Ken, Gitta, dan Zee langsung berangkat. Ken akan mengantarkan Gitta dan Zee ke butik terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor pusat GC.


Tak berapa lama kemudian, mobil Ken terlihat berhenti di depan butik Gitta. Dia membantu sang istri menurunkan barang-barang keperluan Zee.


"Jangan kemana-mana. Jika mau pulang, minta jemput Mamang," ucap Ken setelah mengecup kening Gitta.


Ken mengangguk mengiyakan. Setelah itu, dia segera beralih kepada Zee yang saat itu sedang berada di gendongan Gitta.


"Boy, jangan nyusahin Mommy, okay?" ucap Ken sambil menciumi pipi gembul sang putra.


"Ote!"


Setelah itu, Ken segera bergegas menuju kantor sang daddy. Dia sudah ada janji dengan daddy Vanno untuk membereskan masalah paket kemarin.


Tak berapa lama kemudian, Ken sudah memasuki area parkir khusus di GC. Dia langsung bergegas menuju ruangan daddy Vanno.

__ADS_1


Di depan ruangan daddy Vanno, Ken sudah disambut oleh Delan, asisten pribadi daddy Vanno, yang saat itu juga merangkap menjadi sekretarisnya, karena Dinda, sang sekretaris sedang cuti melahirkan.


"Selamat pagi, Mas Ken." Delan langsung berdiri dan mengangguk hormat ke arah Ken.


"Pagi. Daddy ada?"


"Ada, Mas. Pak Arya juga sudah ada di dalam."


Ken menganggukkan kepala. Setelah itu, dia segera beranjak memasuki ruang kerja sang daddy.


Ceklek.


Ken melongokkan kepala ke dalam. Terlihat daddy Vanno dan juga om Arya sedang menoleh ke arahnya.


"Masuk, Ken." Daddy Vanno melambaikan tangan ke arah Ken.


"Pagi, Om. Maaf aku terlambat." Sapa Ken sambil menggeser kursi di sebelah om Arya.


"Pagi. Ngantar Gitta dulu?"


"Iya, Om. Zee juga sempat rewel tadi."


"Zee atau daddynya yang rewel?" Om Arya langsung meledek Ken karena sudah sangat hafal dengan tingkah laki-laki itu yang sangat mirip dengan daddynya.


Ken hanya mencebikkan bibirnya sambil menoleh ke arah Om Arya. "Zee, Om. Aku mah rewelnya kalau malam saja."

__ADS_1


"Hoax"


__ADS_2