
"Tidak usah repot-repot, Pak. Zee bisa melakukannya sendiri. Bisa kan, Zee?" tanya Ken sambil menoleh ke arah sang putra.
"Eh, bisa kok, Dad."
Sialan. Jika Zee sendiri yang melakukan survei, akan sangat sulit aku memanipulasi data. Sharma juga pasti akan kesulitan menggodanya, batin Prasojo.
Ya, Prasojo memang mempunyai rencana untuk melakukan sedikit permainan. Sebenarnya, dia tidak berbohong dengan semua yang disampaikan. Tapi, ada beberapa bagian yang tidak dijelaskannya secara keseluruhan.
Memang benar semua lahan itu adalah milik Prasojo. Namun, di bagian barat lahan tersebut yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga, terjadi sengketa. Entah siapa yang benar dan siapa yang salah, para warga yang memiliki lagan dan berbatasan langsung dengan lahan milik Prasojo, mengajukan gugatan. Mereka menuduh pihak Prasojo menggeser batas lahan milik mereka.
Menurut warga, hal itu terjadi karena adanya pembangunan pelebaran sungai oleh pemerintah setempat yang membuat lahan milik Prasojo menjadi ikut terkena imbasnya. Padahal, dia juga sudah mendapatkan uang ganti rugi dari pemerintah setempat.
Setelah cukup lama berdiskusi, akhirnya Prasojo dan Sharma, putrinya, segera pamit undur diri. Sepeninggal Prasojo dan Sharma, Zee langsung menoleh ke arah sang daddy.
"Jadi ini maksud Daddy memintaku datang ke kantor?" tanya Zee.
Ken beranjak berdiri untuk mengambil air minum sebelum menjawab pertanyaan Zee. "Salah satunya, Zee."
__ADS_1
"Lalu, salah duanya apa?"
Papa Vanno kini yang menjawab pertanyaan Zee. "Bukan salah dua, tapi salah tiganya."
Zee semakin mengerucutkan bibir. "Apalagi ini maksudnya, Pa?"
Ken kembali duduk di depan Zee dan meletakkan air minum yang tadi di bawanya. Dia bersiap untuk menjelaskan maksud memanggil Zee ke kantor.
Ken menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan maksudnya kepada sang putra. "Daddy minta kamu ke kantor, karena Daddy butuh bantuan kamu, Zee. Kamu tahu perusahaan kita baru saja mengalami guncangan. Sebenarnya, masih banyak yang belum stabil."
Zee langsung membulatkan mulut dan kedua bola matanya. "Bagaimana caranya itu aku ngurus semuanya, Dad?"
"Ya seperti biasa. Seperti yang kamu lakukan dulu."
"Cckkk, mana bisa aku sibuk seperti dulu, Dad. Kia sedang hamil. Mana mungkin aku ajak keliling, apalagi sampai ke luar negeri?" Zee masih bersungut-sungut kesal.
"Iya, Daddy juga tau itu. Tapi Zee, untuk masalah perusahaan, jangan hanya kamu pikirkan tentang untung atau rugi saja. Pikirkan juga tentang para karyawan dan juga keluarganya. Mereka banyak yang bergantung pada pekerjaan ini. Mereka mencari nafkah di tempat kita. Jadi, kita berkewajiban untuk memikirkan kesejahteraan karyawan juga."
__ADS_1
Zee yang mendengar nasehat sang daddy pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, aku harus menggantikan Daddy begitu?"
"Nggak hanya Daddy kamu, Zee. Tapi kamu juga harus menggantikan Papa untuk rapat pemegang saham di puncak minggu depan." Papa Vanno langsung menjawab pertanyaan Zee.
Zee hanya bisa mendesahkan napas beratnya. "Jadi itu alasan Papa memintaku untuk sekalian memeriksa lahan Pak Prasojo tadi?"
"Itu juga salah satunya, Zee."
"Hhhh, kenapa nggak minta tolong asisten Papa saja sih?"
"Papa bisa saja meminta tolong asisten Papa atau asisten Daddy kamu, Zee. Tapi, Papa nggak yakin jika Prasojo nggak akan bertingkah. Jika kamu turun tangan sendiri, kecil kemungkinan dia akan bertingkah nanti."
"Maksudnya?"
\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak dulu, ya.
__ADS_1