Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 83


__ADS_3

Malam itu, Ken benar-benar merutuki mulutnya yang keceplosan. Karena ulah Zee, dia jadi belum bisa mendapatkan hadiahnya. Gitta sudah pergi tidur lebih dulu. Melihat hal itu, Ken hanya bisa pasrah. Dia juga tidak ingin sang istri kecapekan. Mau tidak mau, Ken hanya bisa beringsut di samping Gitta. Ken hanya bisa berdoa semoga besok pagi dia bisa mendapatkan hadiahnya. Setidaknya, satu atau dua kali sudah cukup bagi Ken. 🙄


Keesokan hari, seperti biasa Ken dan Zee akan berangkat ke kantor dan ke sekolah setelah sarapan. Namun, pagi itu Gitta akan nebeng sekalian dengan Ken untuk pergi ke sebuah mall. Akan ada acara di sana yang melibatkan butiknya.


Zee, yang hampir setiap pagi berangkat ke sekolah hanya dengan menggunakan motor R15 biasa seperti kebanyakan motor yang dipakai anak-anak seusianya sekolah, menggerutu karena kesal. Pasalnya, dia tidak menyadari jika ban motornya kempes. Kemarin, Zee memang tidak keluar rumah, jadi dia tidak mengetahui jika ban motornya kempes.


Ken yang melihat sang putra sedang menggerutu pun menghampiri.


"Ada apa? Kenapa belum berangkat?" tanya Ken sambil berjalan menghampiri sang putra.


"Lihat tuh, Dad. Ban motorku bocor. Bagaimana aku berangkat sekolah. Sudah setengah tujuh juga ini," Zee masih menggerutu.


"Bawa mobil."


"Macet, Dad."


"Ya sudah, pakai motor Daddy."


"Cckkk, aku nggak mau menarik perhatian, Dad. Bisa-bisanya semua orang mengira aku mencuri motor seharga lima kali mobilku." Zee masih menggerutu tidak jelas.


Ken mencebikkan bibirnya. Ya, Geraldy memang menutupi semua informasi tentang siapa mereka sebenarnya. Ken memang meminta pihak sekolah untuk tidak menyebutkan nama Geraldy pada daftar absen Zee. Nama itu hanya akan terpampang pada raport dan ijazah saja. Dan, untuk melakukan hal itu, tidak sulit bagi Geraldy.

__ADS_1


Tidak banyak yang tahu siapa Zee sebenarnya. Hanya El, Revina dan beberapa guru yang telah dipercaya. Daddy Vanno juga memberikan bodyguard untuk semua keluarganya, termasuk untuk Zee. Daddy Vanno tidak ingin kejadian masa lalu terulang.


"Ya sudah, kamu pakai motor matic mommy kamu." Ken memberikan usul kepada sang putra.


Lagi-lagi Zee mencebikkan bibirnya. Bukannya tidak mau, tapi Zee geli sendiri membayangkan dirinya memakai motor matic sang mommy. Bukan karena motornya, tapi karena warnanya. Pink. Entah mengapa mommynya tersebut membuat motor matic tersebut menjadi berwarna pink.


"Ogah. Mending aku pakai motor Daddy saja. Geli aku pakai motor Mommy ke sekolah, Dad. Bisa-bisa turun nanti pamorku." Zee berlalu memasuki rumah untuk mengambil kunci motor sang daddy.


"Lhah, memangnya kamu sudah naik, Zee?"


Gitta yang baru saja keluar dari arah ruang tamu, bersimpangan dengan putranya dan mendengarkan sekilas perkataan sang suami.


Sontak saja Zee yang mendengar perkataan sang mommy menghentikan langkahnya. "Apaan sih, Mom. Daddy itu yang resek," kata Zee sambil mengerucutkan bibir.


Gitta langsung beralih menatap sang suami dengan tatapan penuh tanya. Ken hanya mengedikkan bahu sambil berlalu. Setelah itu, Ken dan Gitta segera berangkat. Tak berapa lama kemudian, Zee juga berangkat ke sekolah.


Zee terpaksa menggunakan motor sang daddy untuk berangkat ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Zee hanya bisa menggerutu. Dia menyesal tidak punya motor cadangan lain.


"Sepertinya, aku harus ambil motor lagi nih. Jika sampai ini terjadi lagi, aku pasti akan kerepotan," gumam Zee.


Dia masih berada di perjalanan menuju sekolah. Sebenarnya, Zee sudah sering menggunakan motor sang daddy. Namun, dia tidak terlalu suka jika menarik perhatian banyak orang.

__ADS_1


"Sebenarnya motor daddy lumayan sih, tapi terlalu mencolok. Coba deh nanti aku minta belikan papa motor seperti ini yang tidak mencolok," gumam Zee lagi.


Tak berapa lama kemudian, Zee sudah sampai di sekolah. Dan, benar saja. Kedatangannya dengan motor daddynya tersebut menarik perhatian. Zee hanya bisa mendesahkan napasnya.


Zee memarkirkan motor tersebut di tempat biasa dia parkir. Setelah itu, dia langsung berjalan menuju kelas sambil menenteng helm miliknya. Zee bahkan tidak menoleh ke arah para siswa yang berbisik-bisik saat dia lewat. Sesekali Zee menyapa teman-teman cowoknya hanya dengan menaikkan alis atau memanggil 'oey'. (Yakali cowok saling menyapa dengan rempongnya seperti cewek 🤧)


El yang melihat kedatangan Zee langsung menghampirinya. "Tumben pakai motor bokap, lo? Motor lo kemana?"


"Kempes."


"Bannya?"


Zee mendengus kesal sambil menatap sahabatnya tersebut. "Bukan bumpernya."


Belum sempat El menyahuti perkataan Zee, terdengar suara teriakan. Baik Zee maupun El langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Kaaakkk Zeeee!"


\=\=\=


Nah lho, siapa itu?

__ADS_1


__ADS_2