
Menjelang sore, Kiara dan Zee sudah bersiap. Mereka juga sudah mempacking semua barang perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan di sana. Kiara dengan bantuan mertuanya juga sudah menyiapkan baju-baju yang akan dipakai di sana. Meskipun, menurut Gitta, sebenarnya percuma membawa baju-baju seperti itu. Mertuanya itu sangat yakin jika Zee pasti lebih suka Kiara polosan dari pada memakai sesuatu yang akan 'nyrimpeti' mata Zee.
Saat Kiara sedang bersiap-siap, suara ponsel Zee berbunyi. Zee segera mengambilnya dan menggeser ikon berwarna hijau tersebut untuk menyambungkan panggilan.
"Hallo, El," sapa Zee setelah panggilan telepon tersebut terhubung. Ya, ternyata El yang saat itu menghubungi Zee.
"Lo dimana, Zee?"
"Di rumah. Ada apa?"
"Gue jemput sekarang, bisa? Ada acara nanti malam."
Kening Zee berkerut. Dia merasa tidak mempunyai acara apa-apa selama kurang lebih satu minggu kedepan. Ya, selain acara ngerjain Kiara habis-habisan tentunya.
"Acara apa? Gue nggak ngerasa punya jadwal acara, deh."
"Oh, ini acaranya Revina sih sebenarnya. Dia ngajakin makan-makan sama anak-anak juga. Ya, hitung-hitung traktiran ulang tahun dia kemarin."
Zee hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala tanpa ada niat untuk ikut. Mana mungkin dia akan menunda acara 'masak memasak' yang sudah sejak beberapa hari yang lalu disiapkan. Bahkan, Zee sudah mendapatkan resep rahasia turun temurun dari sang daddy.
Apa resep rahasianya Zee? Bagi bocorannya, dong. Othor juga mau tahu, nih.
Zee said, "Kalau dibocorin, nanti nggak jadi rahasia lagi, Thor."
__ADS_1
Karena tidak ada jawaban dari Zee, El kembali bersuara.
"Zee, lo masih disana, kan? Bagaimana? Mau gue jemput sekarang?"
Zee yang tersadar pun segera menjawab pertanyaan El.
"Eh, sorry, El. Gue nggak bisa ikut. Ini gue ada kerjaan besar. Besar banget malahan. Ini gue sudah mau beramgkat juga."
"Eh, kerjaan apa?"
"Biasalah," jawab Zee terdengar santai.
El terdengar mendesahkan napas ke udara. Dia sudah cukup mengenal Zee yang juga sudah bekerja di kantor sang daddy. Jadi, tidak mengherankan jika Zee sering menangani pekerjaan kantor.
"Baiklah. Gue cabut dulu kalau begitu," ucap El pada akhirnya.
"Okay."
Panggilan telepon pun terputus. Zee buru-buru menghampiri Kiara yang saat itu sudah menunggunya di dekat koper mereka. Setelah itu, Zee dan Kiara segera berangkat menuju bandara. Malam itu, mereka segera bertolak ke Maldives.
Perjalanan yang cukup jauh, ternyata lumayan melelahkan bagi Zee dan Kiara. Meskipun mereka menggunakan pesawat pribadi milik papa Vanno sehingga bisa beraktivitas lebih bebas, namun ternyata perjalanan jauh tersebut masih menjadi pengalaman pertama bagi Kiara.
Setelah sekitar delapan jam perjalanan, Zee dan Kiara sudah berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Velana, Maldives. Meskipun bandara tersebut terkesan sederhana, namun pesawat yang datang dan pergi kebanyakan adalah pesawat berukuran besar, seperti Airbus dan Boeing.
__ADS_1
Begitu mendarat di Bandara Velana, Zee dan Kiara sudah dijemput oleh seorang guide. Mereka langsung diantar ke resort yang sudah di pesannya Zee sejak sekitar satu minggu yang lalu.
Kiara yang sudah sangat mengantuk harus berusaha keras berkonsentrasi untuk menggerakkan kakinya menuju boat yang akan mengantarkan mereka. Zee yang melihat hal itu hanya bisa mengulas senyuman. Dia melepaskan pegangan tangannya pada tangan Kiara, dan kini Zee langsung menarik pinggang Kiara hingga menempel pada tubuhnya.
Sontak saja hal itu membuat Kiara terkejut. "Ma-mas?"
"Jangan tidur dulu. Nanti jika sudah sampai kamar, kamu bisa istirahat," ucap Zee sambil mendaratkan sebuah kecupan pada kening Kiara.
Mau tidak mau, Kiara hanya bisa menganggukkan kepala. Kiara berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup sangat kencang saat berdekatan dengan Zee.
Beberapa saat kemudian, Zee dan Kiara sudah tiba di resort yang sudah mereka pesan. Kiara benar-benar merasa sangat takjub dengan keindahan tempat tersebut. Namun, kedua matanya tidak bisa dibohongi. Dia benar-benar masih mengantuk.
Zee menghampiri Kiara yang saat itu tengah menatap laut dari balik kaca jendela. Zee memeluk Kiara dari belakang, sambil menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Kiara.
"Bersihkan tubuhmu dulu, setelah itu istirahat. Aku tau kamu masih capek." Zee masih mengecupi tengkuk Kiara hingga membuat tubuh si empunya merinding.
"Tapi, kita kan…,"
"Besok saja." Zee langsung memotong perkataan Kiara. "Kita masih punya banyak waktu disini. Aku nggak mau membuat kamu tambah capek. Karena, jika aku sudah mulai, aku yakin nggak akan bisa berhenti untuk mulai memasak sosis dengan berbagai cara."
\=\=\=
Memang caranya apa saja Zee? 🤔
__ADS_1
Sudah dapat jatah vote, tinggalkan jejak vote, like dan komen buat Zee, ya.
Othor tak semedi dulu mau lanjut ngetik 'tata cara masak memasak' dengan resep colongan dari daddy Vanno.