Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 113


__ADS_3

Setelah cukup membujuk sang mommy, akhirnya Zee mendapat izin untuk membeli rumah baru. Meskipun bukan rumah baru, namun Zee tetap bersyukur karena orang tuanya mengizinkannya untuk tinggal terpisah. Ya, meskipun hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah orang tuanya.


Hari itu juga, Zee menghubungi Delon dan mengutarakan niat untuk membeli rumah orang tuanya. Zee setuju dengan harga yang ditawarkan oleh mereka. Saat itu juga, proses jual beli langsung dilaksanakan. Setelah semua proses selesai, Zee berniat untuk merenovasi rumah barunya tersebut.


"Kamu mau rumah yang seperti apa?" tanya Zee kepada Kiara beberapa hari setelah jual beli rumah selesai.


"Ehm, aku terserah Mas Zee saja," Kiara menjawab sambil memilih sayuran. Ya, saat itu Zee tengah menemani Kiara untuk berbelanja bahan makanan.


Selama satu minggu kedepan, Zee dan Kiara akan ditinggal Gitta dan Ken ke Dubai. Mereka harus menghadiri meeting tahunan GC. Daddy Vanno dan mommy Retta juga ikut serta ke sana.


"Kamu bisa minta dekorasi sesuai keinginan kamu, Kia. Itu kan rumah kita berdua. Jadi, jangan hanya aku yang memilih. Kamu juga bisa memilih apa yang kamu inginkan," Zee masih berusaha untuk membuat Kiara tidak canggung lagi. 


Kiara menoleh ke arah sang suami. Dia tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Iya, Mas. Nanti aku pikirkan apa yang aku inginkan."


Zee mengulas sedikit senyumannya. Dia cukup puas saat Kiara sudah mulai mau mengungkapkan keinginannya. 


Sesampainya di rumah, Kiara segera menyiapkan makan malam untuk mereka. Meskipun ada asisten rumah tangga, namun Kiara tetap bersemangat untuk memasak.


Zee yang sudah mulai mengenal cita rasa masakan Kiara pun mulai menyukainya. Awalnya, Zee memang tidak terlalu suka pedas. Dia tipe penggemar pedas dengan level medium. Namun, entah mengapa sejak Kiara mulai memasak untuknya, level kepedasannya pun mulai meningkat. Zee bahkan akan protes jika masakan Kiara tidak ada sambal atau kurang pedas.


Malam itu, Zee dan Kiara sedang mendiskusikan desain rumah mereka. Proses renovasi akan dimulai minggu depan.


"Jadi, sudah mempunyai gambaran mau desain yang seperti apa?" tanya Zee. Saat itu, Zee dan Kiara tengah berada diatas tempat tidur. Zee menunjukkan beberapa desain rumah dari ponselnya.

__ADS_1


"Ehm, aku suka yang tidak terlalu besar, Mas." Kiara masih menggeser gambar-gambar tersebut.


"Sama. Aku juga lebih suka yang minimalis."


Jari Kiara berhenti saat melihat gambar rumah dengan taman di bagian depan dan belakang. Dia cukup suka dengan rumah yang memiliki taman.


"Yang seperti ini bagus, Mas. Ada tamannya. Di depan, bisa ditanami bunga. Di bagian belakang juga masih ada taman. Bisa untuk bermain anak-anak." Kiara mengucapkannya dengan wajah berbinar bahagia. Netranya masih menatap taman di bagian depan yang ada ring basket tersebut. "Sepertinya di bagian depan bisa di beri ini, Mas. Bisa untuk bermain basket, sekalian olahraga."


Kiara masih tidak menyadari apa yang diucapkannya. Kedua matanya masih menatap desain rumah-rumah tersebut. Tangannya juga masih menggulir layar ponsel Zee. Kiara bahkan tidak menyadari saat bagian depan tubuhnya menempel pada lengan Zee.


Hal itu tentu saja dapat dirasakan oleh Zee. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang, meskipun pada kenyataannya ada yang sudah mulai memberontak.


"Kamu mau punya anak berapa?"


"Ehm, i-itu, a-aku," Kiara tampak salah tingkah. Dia benar-benar malu saat menyadari apa yang sudah dikatakannya. Wajahnya bahkan sudah sangat merah hingga sampai ke telinga.


Zee yang menyadari jika sang istri tengah malu pun berusaha mengatur ekspresinya. Meski sebenarnya, Zee ingin sekali tertawa melihat ekspresi Kiara yang tengah malu.


"Kenapa harus malu seperti itu?" tanya Zee.


"Ehm, ti-tidak."


"Nggak usah malu. Aku juga sebenarnya ingin memiliki banyak anak. Tidak enak rasanya hanya jadi anak tunggal."

__ADS_1


Zee sebenarnya sudah pernah menanyakan kepada kedua orang tuanya mengapa dia tidak mempunya saudara. Dan, saat itu Zee baru tahu jika mommynya pernah mengalami keguguran. Dan ada trauma sendiri bagi sang daddy dengan kehamilan mommy Gitta. Apalagi, saat itu aunty Zee juga mengalami hal yang sama.


Wajah Kiara semakin merah. Entah mengapa dia merasa malu membicarakan hal itu dengan Zee. Kiara duduk dengan gelisah. Wajahnya juga masih tampak merah. Zee meletakkan ponselnya di atas nakas dan bergeser untuk menghadap ke arah Kiara.


Zee menatap wajah Kiara yang masih menundukkan kepala sambil meremass kedua tangannya.


"Nggak usah malu. Cepat atau lambat kita juga akan mempunyai anak. Banyak-banyak berdoa semoga kita bisa segera di beri kepercayaan untuk mempunyai momongan," ucap Zee. Yaelah Zee, pakai ngomongin momongan segala. Memang kamu sudah mulai proses mencicil buat rambutnya? 🤧


Kiara mengangguk-anggukkan kepala. Entah dia mendengar dengan jelas atau tidak. Yang pasti, dia masih merasa gugup dan malu.


Zee terlihat sangat gemas dengan reaksi Kiara seperti itu. Entah dapat dorongan dari mana, Zee mulai mendekatkan tubuhnya. Dia menarik tangan Kiara hingga membuat tubuh istrinya tersebut menghadap ke arahnya.


Kini, tatapan mata kedua pasang mata tersebut saling terkunci. Zee benar-benar gemas melihat wajah Kiara yang terlihat terkejut dengan mata yang membesar dan mulut yang sedikit terbuka.


Zee benar-benar…


\=\=\=


Mau ngapain kamu Zee? 


Yang kangen Zee kecil othor kasih gambar nih.


Onty, angan demes cama Ji ya. Pipi Ji dah tenyet titium ama Ami.

__ADS_1



__ADS_2