
"Apa?!"
Mendengar ucapan Papa Vanno, sontak saja Mama Retta dan Andre terkejut. Mereka tidak mengerti maksud ucapan Papa Vanno tersebut.
"Apa maksudnya, Pak Vanno? Jangan suka menuduh sembarangan." Andre terlihat tidak suka dengan ucapan Vanno.
"Jangan suka aneh-aneh kalau ngomong, Mas." Kali ini Mama Retta menatap kesal ke arah Papa Vanno.
"Aku nggak aneh-aneh, Yang. Aku kan ngomong apa adanya." Papa Vanno menoleh dengan ekspresi memelas.
"Sudah berapa kali aku jelaskan, Mas. Semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Mama Retta langsung cemberut kesal.
Terdengar helaan napas Andre. Dia sudah sering mendapati konfrontasi langsung dari Papa Vanno.
"Pak Vanno, saya sudah sering menjelaskan semuanya. Semua yang Anda pikirkan itu sama sekali tidak benar. Kami sama sekali tidak pernah melakukan hal-hal seperti yang Anda pikirkan," ucap Andre.
__ADS_1
"Lalu, apa maksud Anda dulu menyiapkan pertemuan romantis di kafe saat matahari terbenam untuk Retta?" Papa Vanno terlihat semakin gusar.
"Hhhhh, Pak Vanno, sudah berapa kali saya jelaskan. Saya minta maaf untuk itu. Saya sama sekali tidak tahu jika Retta sudah menikah. Jika saya tahu dia sudah menikah, mana mungkin saya melakukannya."
"Apa Anda benar-benar mencintai istri saya?"
Kali ini, Mama Retta yang menjawab pertanyaan Papa Vanno dengan sebuah cubitan yang langsung mendarat pada perutnya.
"Jangan mulai lagi deh, Mas. Dulu sudah dijelaskan alasannya. Pak Andre kan memang belum tahu jika aku sudah menikah dengan kamu." Mama Retta langsung sewot.
"Pak Vanno, saya benar-benar minta maaf karena sikap saya dulu. Saya tidak tahu jika Retta sudah menikah. Dan untuk selanjutnya, Anda tidak perlu khawatir lagi. Apa yang saya rasakan dulu terhadap istri Anda, adalah perasaan remaja yang masih labil."
"Jika Anda bertanya apakah saya mencintai Retta? Dan, jawabannya adalah 'iya'. Tapi, itu dulu sebelum saya mengetahui jika dia sudah menikah. Setelah saya tahu kenyataan jika Retta sudah menikah, perasaan itu saya kubur dalam-dalam. Saya tidak mungkin memaksakan perasaan saya. Karena, saya juga tidak akan mau jika istri saya disukai oleh laki-laki lain."
"Jadi Pak Vanno, jangan lagi berpikiran aneh-aneh tentang saya. Saya dan Retta, murni hanya berteman. Kami juga tidak pernah bertemu. Justru, saya lebih banyak bertemu dengan Anda daripada dengan Retta."
__ADS_1
"Masalah kesalahpahaman yang menyebabkan Anda dibawa ke kantor polisi, saya benar-benar minta maaf. Saat itu, saya belum mengetahui cerita sebenarnya," ucap Andre panjang lebar. Sebenarnya, dia sudah cukup lelah jika harus meladeni sikap cemburuan Vanno. Namun, sebisa mungkin dia berpikir waras. Karena jika terus-terusan meladeni sikap Vanno, bisa-bisa dia sendiri yang akan ikut-ikutan spaneng.
Setelah cukup lama berbicara, Andre segera berpamitan. Kebetulan, saat itu dia sedang menjemput cucunya. Andre tidak ingin berlama-lama dengan Vanno dan juga Retta.
Sepeninggal Andre, Mama Retta langsung menatap wajah sang suami dengan ekspresi kesalnya.
"Kenapa?" Seolah tanpa dosa, Papa Vanno mendekati sang istri.
"Masih tanya kenapa? Kamu selalu saja ribut jika bertemu dengan Andre, Mas. Sudah berapa kali aku jelaskan jika tidak ada apa-apa antara aku dengan dia. Tapi, cemburuan kamu itu sudah kelewatan. Jika saja Daddy tidak datang ke kantor polisi saat itu, bisa dipastikan kamu mendekam di sana sampai pagi," mama Retta masih mengomel tidak jelas.
"Dari pada mendekam di kantor polisi, lebih baik mendekam di situ semalaman, Yang." Papa Vanno menunjuk bagian bawah mama Retta dengan anggukan kepala.
"Embuh, Mas. Embuh."
\=\=\=
__ADS_1
Kenapa nggak kakek, nggak anak, nggak cucu, selalu nggak jauh-jauh dari 'charger' ya? 🤔