
Malam pertama di Villa yang berada di Bali, Kiara harus makan malam sendirian. Zee sedang keluar dengan Alan sejak sore. Mereka sudah mulai mengurus pekerjaan mulai hati ini.
Kiara yang baru saja selesai makan malam, segera membereskan sisa makan malamnya. Asisten rumah tangga, sudah kembali ke paviliun belakang setelah selesai menyiapkan makan malam.
Menjelang pukul sepuluh malam, Kiara mendengar suara mobil Zee sudah kembali. Dia buru-buru turun dari tempat tidur dan bergegas menyambut sang suami.
Ceklek.
Kiara membuka pintu dan melihat Zee membawa beberapa paper bag di kedua tangannya. Kiara membantu membawakan paper bag tersebut dan mengekori Zee menuju kamar setelah mengunci pintu kembali.
"Apa ini, Mas?" tanya Kiara.
"Itu buat kamu dari teman Mommy. Kami nggak sengaja bertemu di restoran tadi."
"Buatku? Sebanyak ini? Memangnya ini isinya apa, Mas?" Kiara menghitung ada tujuh paper bag yang dibawa Zee.
"Baju tidur."
__ADS_1
Kiara cukup terkejut mendengar jawaban sang suami. Keningnya berkerut. Baju tidur? Jangan-jangan ini baju tidur seperti yang diberikan mommy Gitta dan mama Retta, batin Kiara.
Kiara tidak berani membuka paper bag tersebut. Dia segera meletakkan paper bag yang dibawa Zee di dalam lemari baju. Setelah itu, Kiara segera menyiapkan baju ganti untuk sang suami.
"Mau aku siapkan makan malam, Mas?" tanya Kiara dari luar kamar mandi.
"Nggak usah. Tadi sudah makan malam, kok. Mau istirahat saja. Tubuhku rasanya sudah sangat capek," jawab Zee dari dalam kamar mandi.
"Iya."
Tak berapa lama kemudian, Zee terlihat keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pada pinggangnya. Dia baru saja mandi karena tubuhnya sudah terasa lengket.
Dengan santainya Zee melepaskan handuk di samping Kiara. Hal itu tentu saja membuat tubuh polosnya terekspos dengan sempurna di depan Kiara. Melihat hal itu, Kiara langsung memalingkan wajahnya. Pipinya terasa panas saat melihat sang suami sudah polosan. Otak polosnya, sudah mulai tercemari adegan 'hiyya-hiyya' yang beberapa kali sudah mereka lakukan.
Zee yang melihat tingkah Kiara, langsung menyunggingkan senyuman. Rasanya, sudah cukup lama mereka tidak melakukan kegiatan 'horor' bersama-sama.
Zee melihat Kiara meremass-remass kedua tangannya dengan gelisah. Setelah memakai kolor kesayangannya, Zee menggeser tubuhnya untuk mendekati Kiara yang tengah berdiri membelakanginya. Zee tidak memakai kaos yang sudah di siapkan oleh sang istri tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba, kedua tangan Zee langsung melingkar pada perut Kiara. Jangan lupakan kecupan-kecupan basah Zee juga langsung mendarat pada tengkuk dan leher Kiara.
Tindakan tiba-tiba Zee tersebut, sontak saja membuat Kiara berjengit kaget. Dia tidak menyangka jika sang suami akan melakukan hal tiba-tiba seperti itu.
"Ma-maass?"
"Hhhhmmm?" Zee masih menelusuri tengkuk Kiara. Tangannya juga sudah mulai merambat kesana kemari. Bahkan, Zee bisa merasakan jika si kembar menggemaskan milik sang istri tidak pakai baju alias polosan. Alhasil, tonggak kehidupan Zee langsung melompat kegirangan saat tangan tersebut mulai bekerja di atas sana.
Kiara tidak menolak apa yang dilakukan oleh sang suami. Kalau boleh jujur, dia sebenarnya juga sudah mulai terpancing dengan aktivitas pancingan yang dilakukan oleh sang suami.
Hal itu terlihat dari deru napas Kiara yang mulai memburu. Bibirnya juga sudah mulai mengeluarkan rintihan-rintihan kecil saat tangan Zee lagi-lagi mulai menjelajah kemana-mana.
"Ma-mass, katanya capek tadi?" Kiara mengingatkan perkataan Zee tadi saat mandi.
"Iya. Tubuhku memang capek. Tapi kamu tidak kan, Yang? Aku akan diam saja, kamu yang bekerja. Bagaimana?"
"Ehh, aaahhh, ma-mana bisa begitu?" Kiara sudah mulai terpancing saat jari tangan Zee sudah mulai bermain di bawah sana.
__ADS_1
"Bisa. Kamu hanya duduk manis, sambil menggerakkan tubuh ke depan, ke belakang, kanan, kiri." Zee mulai menggencarkan aktivitas tangannya di bawah sana.
"Eh?"