Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 130


__ADS_3

Suasana duka masih menyelimuti keluarga Geraldy setelah dua hari yang lalu Jenazah Opa Evan dikebumikan. Oma Nadia yang kini sudah berusia lanjut pun langsung ngedrop. Beliau yang selama ini terlihat segar saat menemani sang suami menjalani masa perawatan, kini seolah tidak memiliki gairahh hidup. Oma Nadia yang langsung ngedrop pun harus menjalani rawat inap di Singapura, karena tubuhnya benar-benar tidak mendapatkan asupan makanan. Jadi, terpaksa Oma Nadia harus mendapatkan infus.


"Mom, nanti tinggal bareng Vanno, ya?" Ucap daddy Vanno saat menemani Oma Nadia di rumah sakit. Daddy Vanno baru saja kembali ke Singapura setelah mengadakan prosesi pemakaman Opa Evan.


Oma Nadia menoleh ke arah putra semata wayangnya. Kedua pipinya basah karena air mata.


"Mommy nggak mau ninggalin rumah peninggalan Daddy kamu, Van," ucap Oma Nadia terbata-bata.


Daddy Vanno dan mommy Retta hanya bisa mendesahkan napas beratnya. Mereka sudah sangat hafal dengan sifat sang mommy.


Sementara itu, Ken dan Gitta sudah berada di Jakarta sejak kemarin. Mereka membantu mengurus pemakaman Opa Evan. Kini, seluruh keluarga besar Geraldy juga berada di sana.


Ken yang baru saja selesai mengantarkan para kolega bisnis yang datang untuk menyampaikan bela sungkawa, kini berjalan menuju dapur untuk mencari sang istri. Terlihat Gitta sedang membantu menyiapkan makan malam bersama dengan Kiara.


"Kia, dimana suami kamu?" tanya Ken saat melihat Kiara di dapur.


"Eh, tadi ngobrol dengan Uncle Al, Dad. Sepertinya ada di halaman belakang."

__ADS_1


Ken mengangguk-anggukkan kepala. "Khanza sudah pulang?" Kali ini Ken menoleh ke arah Gitta.


"Iya, Mas. Dia pulang sebentar."


Ken menolehkan kepalanya kembali ke arah Kiara. "Kia, panggilkan suami kamu untuk menggantikan Daddy di depan."


Kiara segera menganggukkan kepala. 


"Iya, Dad." Setelah itu, dia segera beranjak untuk mencari keberadaan sang suami yang sedang ngobrol dengan sang paman.


"Mas Zee, diminta Daddy ke depan."


"Iya, untuk menggantikan Daddy menemani tamu. Sepertinya Daddy kecapekan, Mas."


Zee mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, dia segera berpamitan kepada Al untuk menggantikan daddynya.


***

__ADS_1


Tak terasa, kini sudah lebih dari dua minggu kepergian Opa Evan. Daddy Vanno dan mommy Retta juga masih berada di Singapura. 


Kondisi Oma Nadia semakin hari semakin ngedrop. Beberapa hari yang lalu, Oma masih bisa menjawab beberapa perkataan daddy Vanno dan mommy Retta. Namun kini, Oma Nadia sudah tidak lagi bisa merespon perkataan putra dan menantunya dengan bersuara. Oma hanya bisa mengedipkan kelopak mata dan menggerakkan jari tangannya.


Memasuki hari ke tujuh belas sepeninggal Opa Evan, tubuh Oma Nadia mendadak kaku. Saat itu, kebetulan mommy Retta yang bertugas menjaga sementara daddy Vanno sedang menemui dokter.


Sontak saja mommy Retta langsung histeris. Beberapa dokter dan perawat langsung berdatangan untuk memeriksa keadaan Oma Nadia. Saat itu juga, Oma Nadia dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya yang sudah sangat ngedrop.


Daddy Vanno segera memberi kabar kepada semua anak dan cucunya. Saat itu juga, semuanya langsung berangkat menuju Singapura. 


Keesokan hari, pada pukul delapan malam, Oma Nadia menghembuskan napas terakhirnya untuk menyusul Opa Evan. Isak tangis anak, menantu, dan cucunya tak bisa dibendung lagi. Rasa duka juga kembali menyebar di seluruh keluarga besar dan kolega bisnis mereka.


Pukulan terberat dialami oleh daddy Vanno. Pada saat yang hampir bersamaan, dia kehilangan orang yang sangat disayanginya.


Pemakaman dilaksanakan keesokan hari di Jakarta. Lagi-lagi, rumah mendiang Opa Evan kembali ramai dikunjungi para pelayat yang ingin menyampaikan belasungkawa. Kiriman bunga pun hilir mudik memenuhi halaman dan sepanjang jalan menuju rumah Opa Evan.


Lagi-lagi, keluarga Geraldy kembali berduka. Tidak ada yang menyangka musibah itu datang hampir bersamaan. Namun, daddy Vanno dan keluarga berusaha mengikhlaskan semuanya.

__ADS_1


***


🤧🤧🤧


__ADS_2