
Tak terasa dua minggu telah berlalu. Acara tahlilan untuk nenek Kiara dan syukuran pernikahan Zee juga sudah selesai. Tidak banyak yang diundang untuk acara syukuran tersebut. Bahkan, El sahabat Zee pun juga tidak diberitahu. Zee akan memberitahukannya nanti saat acara resepsi pernikahannya di gelar.
Pagi itu, seperti biasa Zee sudah bersiap ke kantor dengan sang daddy. Jadwal perkuliahannya akan dimulai minggu depan. Jadi, selama satu minggu ini Zee akan berusaha menyelesaikan pekerjaannya agar nanti tidak terlalu menyita waktu kuliahnya.
"Mom, apa tidak sebaiknya aku dan Kia membeli rumah sendiri?" tanya Zee di sela-sela aktivitas sarapan mereka.
Ya, semalam Zee dan Kia memang membicarakan masalah itu sebelum tidur. Lebih tepatnya, Zee yang mengusulkan hal itu. Dia ingin belajar hidup mandiri. Jika masih tinggal bersama dengan orang tuanya, Zee khawatir jika dia tidak akan isa mandiri.
Sang mommy langsung mendelik tajam ke arah sang putra. Tentu saja dia akan keberatan jika Zee benar-benar akan melakukannya. Zee adalah putra satu-satunya. Mana mungkin Gitta akan mengizinkan Zee untuk tinggal jauh dari rumah mereka.
Zee yang sudah menduga reaksi sang mommy, langsung buru-buru menjelaskan. Dia tidak ingin sang mommy melarangnya untuk pindah rumah.
"Begini, Mom. Maksudku, kami kan sudah menikah. Kami juga ingin merasakan menjalani rumah tangga sendiri. Kami ingin belajar mandiri, Mom."
Gitta masih terlihat tidak setuju. Ken yang melihat tingkah sang istri berusaha untuk menahan tawanya.
"Biarkan saja, Yang. Pengantin baru kan memang ingin punya privasi lebih. Seperti kamu tidak pernah mengalaminya saja," cibir Ken.
Gitta yang mendengar perkataan sang suami hanya bisa mendengus kesal. "Kamu tidak tau rasanya tinggal berjauhan dengan anak, Mas." Gitta sudah mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Ken dan Zee yang melihat hal itu menjadi sedikit panik. Kiara juga menjadi serba salah. Ken buru-buru mengusap bahu sang istri untuk menenangkannya.
"Sayang, jangan berpikiran terlalu jauh. Atau begini saja, biar Zee dan Kiara tinggal di rumah mama dan papa kamu saja. Bagaimana?" tawar Ken.
Gitta menolehkan kepala ke arah sang suami. Bibirnya sedikit terangkat. Dia baru menyadarinya setelah mendengar perkataan sang suami.
"Benar, Zee. Jika seperti itu, Mommy tidak keberatan. Sejak kakek dan nenek kamu meninggal, rumah itu kan kosong. Hanya dibersihkan saja. Kamu bisa menempatinya." Gitta tampak berharap penuh.
Jika Zee dan Kiara tinggal di rumah mendiang orang tuanya, Gitta bisa bernapas lega. Pasalnya, rumah tersebut hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari rumahnya. Jadi, dia bisa mengunjungi Zee dan Kiara kapanpun dia mau. Namun, usulan itu rupanya tidak serta merta diterima oleh Zee.
"Ehm, kalau tinggal di rumah Nenek sepertinya tidak mungkin, Mom. Rumah itu terlalu besar untuk kami, hampir dua kali rumah ini besarnya. Kami nggak mau rumah yang terlalu besar," jawab Zee.
"Lalu, kamu berencana akan tinggal dimana?" Kali ini Ken yang bertanya.
"Sebenarnya, kemarin saat Jumatan aku bertemu dengan Delon, Dad. Dia bilang, jika keluarganya akan pindah ke Amerika bulan depan, dan rumahnya akan dijual. Bagaimana jika aku saja yang membelinya, Dad?"
Ken dan Gitta saling pandang. "Maksud kamu Delon putra Pak Toni?" tanya Ken memastikan.
"Iya, Dad."
__ADS_1
"Mereka jadi pindah ke Amerika?"
"Sepertinya begitu. Delon bilang jika sedang mempersiapkan semua keperluan untuk kepindahannya."
Zee melihat Gitta tampak lebih tenang. Zee yakin jika mommynya itu akan setuju mengingat jarak rumahnya dengan rumah Delon tidak terlalu jauh. Hanya beda blok saja.
"Bagaimana, Dad, Mom?" tanya Zee untuk memastikan pendapat kedua orang tuanya.
Ken menoleh ke arah Gitta. Dia juga kasihan kepada Zee jika sampai Gitta melarangnya. Ken bisa memahami rasanya pengantin baru.
"Bagaimana, Yang? Rumah Pak Toni juga hanya beda blok dari sini. Kalau pun jalan kaki, paling hanya tiga menit. Tuh, atap rumahnya juga kelihatan jika dilihat dari lantai dua. Kasih kesempatan untuk Zee dan Kiara menikmati rumah tangga berdua. Mereka juga pasti ingin punya privasi, Yang. Mau bebas ngapain dan melakukan apa saja di rumah."
Gitta menoleh ke arah Ken dengan tatapan tajam. "Memangnya jika di rumah ini mereka tidak bisa bebas, Mas?"
"Bukan begitu, Yang. Kalau di rumah ini kan ada aku, kamu, dan yang lainnya. Mana bisa mereka main kodok-kodokan dengan bebas. Mereka pasti akan malu seperti kamu dulu, Yang."
Gitta membulatkan kedua bola mata dan mulutnya. Dia benar-benar geram dengan sang suami. Bisa-bisanya Ken mengatakan hal itu di depan putra dan menantunya.
"Cckkk, kata siapa aku malu, Mas?" Gitta protes tidak terima.
__ADS_1
"Iya, iya, Yang. Kamu memang tidak malu, tapi mau."