Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 44


__ADS_3

"Eegghhhh uuhhh Massss, kennapah nambah lagih, sih?" Gitta masih ngos-ngosan menerima serangan bertubi-tubi dari Ken.


"Kurang, Yang. Dopingnya yang banyak, egghh egghh."


"Auuhhhh, ngiluu, Mas. Periihhh."


"Tahan sebentar, Yang. Aku lumasin lagi ya, biar licin." 


Seketika Gitta menatap sang suami dengan ekspresi ngerinya. Ini saja sudah hampir satu jam dia kedinginan. Jika harus menunggu lagi, bisa-bisa tubuhnya keriput semua.


"Apaan sih, mau dikasih olihhh aahhhhh." Gitya langsung mendelik saat merasakan tekanan yang membuat tubuhnya kelojotan.


Malam itu, Ken benar-benar mengerjai Gitta hingga lemas. Bahkan, hanya untuk membersihkan tubuh saja Gitta terasa sangat lemas. Dengan telaten Ken membantu Gitta membersihkan diri. Tentu saja dengan mengambil kesempatan untuk melakukan pijatan di sana sini. Gitta hanya bisa pasrah.


Setelah selesai, Ken dan Gitta segera keluar dari kamar mandi. Mereka sudah bersiap untuk istirahat. Namun, baru beberapa saat Gitta merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, terasa gerakan di sampingnya.


"Ami, mimi cucu." Ternyata Zee terbangun dari tidurnya. Dia kehausan.


Gitta yang sudah sangat mengantuk pun segera melepaskan kancing baju tidurnya. Secepat kilat Zee langsung menyambar asupan nutrisinya.


Hap. Nyem nyem nyem.


Ken yang melihat hal itu merasa kasihan kepada sang istri. Dia belum bisa memejamkan mata melihat dua kesayangan yang berada di depannya.


Gitta yang belum terlelap dan menyadari jika Ken masih menatapnya pun langsung membuka mata. "Ada apa, Mas?"

__ADS_1


"Ehm, maaf. Kamu kelihatan capek sekali," ucap Ken penuh penyesalan. Tapi, percayalah, untuk urusan itu hanya ada pada wajah Ken. Tidak dengan hatinya.


Setelah mendengar perkataan Ken, Gitta mencebikkan bibir. "Kamu nggak bisa bayangin rasa capeknya, Mas. Ngurusin anak pertama dan anak kedua yang sama-sama rewelnya," ucap Gitta sambil mendengus kesal.


Melihat tingkah sang istri, Ken hanya bisa tersenyum nyengir dan merasa sangat gemas. "Hehehe, habis gemesin banget sih, Yang. Aku kan juga mau seperti Zee. Dia bisa nemplok kapan saja sama kamu, lha aku kan hanya begini saja bisanya," jawab Ken.


Gitta hanya bisa memutar kedua bola matanya setelah mendengar jawaban Ken. Belum sempat Gitta menyahuti perkataan sang suami, terdengar protes dari sang putra.


"Ami, Tedi, angan icik. Ji au bobo."


Seketika Ken dan Gitta langsung menutup mulutnya. Mereka tidak bersuara lagi agar sang putra bisa kembali terlelap.



***


Pagi itu, Dino dipaksa Gitta untuk ikut sarapan bersama. Zee sudah langsung heboh melihat kedatangan asisten daddynya tersebut.


"Om Coyus au telja? (Om Dino mau kerja?)"


"Ah, iya. Mau kerja bareng Daddy Zee."


"Ji boyeh itut? (Zee boleh ikut?)" tanya Zee dengan tatapan polosnya.


"Eh, jangan Sayang. Nanti jika Zee ikut, siapa yang akan temeni Mommy?" Kali ini Ken yang menjawab pertanyaan sang putra.

__ADS_1


Zee menoleh ke arah dapur dimana sang mommy sedang menyiapkan sarapannya.


"Ja. Ji au cemeni Ami. (Iya, Zee mau menemani Mommy)"


"Pinternya anak Daddy. Emuuaahh." Ken langsung memberikan sebuah kecupan pada pucuk kepala sang putra.


Pagi itu, sarapan dilakukan dengan selingan obrolan ringan. Setelah selesai, Ken dan Dino segera berangkat.


"Hati-hati, Mas. Jika Mang Pri capek, berhenti saja istirahat. Jangan dipaksakan." Gitta memberikan banyak sekali pesan untuk sang suami.


"Iya, Sayang. Kamu tenang saja. Nanti ada aku dan juga Dino. Kami bisa gantian jadi sopir."


Gitta hanya bisa mencebikkan bibir setelah mendengar perkataan sang suami. Setelah itu, Ken dan Dino segera berangkat. 


"Jam berapa kamu buat janji bertemu dengan dinas terkait, Din?" tanya Ken saat mobil yang mereka tumpangi mulai membelah jalanan Surabaya. 


"Jam sebelas, Pak. Tapi, mereka menawarkan untuk memundurkan jadwal menjadi jam satu siang. Mereka sekaligus ingin bertemu dengan pihak yang bertikai."


"Team Henry sudah siap?"


"Sudah, Pak. Semua team pengacara kita juga sudah berada di sana."


"Aku nggak mau berlarut-larut untuk masalah ini, Din. Masalah ini harus segera selesai."


"Tentu, Pak. Kita melakukan semua proses secara legal. Mereka saja yang mengada-ada."

__ADS_1


"Setelah ini selesai, kita akan bisa melihat siapa yang berada di balik ini semua." Ken terlihat menahan ekspresi kesalnya.



__ADS_2