
Semua pasang mata menatap ke arah laki-laki yang tengah berbicara tersebut. Tak terkecuali Ken. Dia masih mengamati tingkah laku laki-laki tersebut.
"Bapak-bapak semua, seperti yang Anda ketahui, daerah tempat kami tinggal ini memang masih sangat alami. Mayoritas mata pencaharian penduduk kami adalah bertani, berladang, berkebun, bahkan banyak diantara mereka yang harus bekerja serabutan."
"Seperti yang Bapak semuanya lihat, penduduk kami tidak menghendaki adanya pembangunan resort di daerah mereka. Penduduk tidak mau daerah mereka menjadi rusak karena banyaknya wisatawan yang akan berkunjung. Jalan-jalan desa pasti juga semakin rusak. Belum lagi, nanti pasti lahan pertanian dan perkebunan banyak yang dialih fungsikan. Mereka akan bekerja apa?"
Terlihat beberapa orang yang berada di sekitar laki-laki tersebut mengangguk-anggukkan kepala. Mereka tampak setuju dengan perkataan laki-laki tersebut.
Pak Ilham menoleh ke arah Ken. Sangat jelas sekali dia juga merasa kesal. Namun, pak Ilham terlihat berusaha keras untuk menahan emosinya.
"Sebentar Pak Imron, Anda sudah yakin dengan apa yang Anda sampaikan ini?" tanya pak Ilham.
Ah, iya. Imron nama laki-laki itu. Ken baru mengingatnya sekarang. Sejak tadi dia berusaha mengingat-ingat nama laki-laki tersebut. Yang diingatnya hanya nama Imroatus. 😩
Imron terlihat mengerutkan kening. "Maksudnya, Pak?" Kini giliran Imron yang bertanya.
__ADS_1
Pak Ilham menghela napas dalam-dalam sebelum kembali berbicara. "Begini Pak Imron, sebelum Anda menyampaikan maksud Anda tadi, apakah Anda sudah melakukan survey? Atau paling tidak, bertanya kepada warga?"
Kening Imron terlihat berkerut. Dia belum bisa menangkap maksud perkataan pak Ilham. "Bertanya kepada warga tentang apa?"
"Begini Pak Imron, apakah Anda sudah tahu, jika selama berpuluh-puluh tahun ini, lokasi tanah yang digarap oleh warga mulai dari Krajan sampai wilayah Tempel itu adalah milik GC?"
Kening Imron berkerut. Dia tidak mengerti maksud perkataan pak Ilham. "Milik GC?"
Pak Ilham menganggukkan kepala. "Benar, Pak. Semua lahan yang digarap di dukuhan atas, mulai dari Krajan sampai wilayah Tempel itu adalah milik GC. Perusahaan GC memang bekerja sama dengan daerah setempat dan memperbolehkan warga untuk mengolahnya, tapi tidak untuk memilikinya. Pak Imron bisa menanyakan hal ini kepada kantor desa setempat."
"Maaf Bapak-bapak semua, kalau boleh saya tahu, Bapak tinggal di daerah bagian mana? Di dukuhan atas, atau dukuhan bawah?" tanya Ken sambil menatap ke arah sekelompok laki-laki yang berada di sana.
Mereka tampak bingung dan saling pandang. Terlihat mereka sedikit bingung. Ken sudah menduga hal ini sebelumnya. Dia sedikit menyunggingkan senyumannya.
"Maaf Bapak-bapak, sebenarnya saya sedikit bingung dengan adanya laporan ini di lapangan. Mungkin, Bapak-bapak di sini ada yang dulu ikut berdialog dengan pihak kami di balai desa dan masih ingat apa yang kami sampaikan dulu."
__ADS_1
"Memang benar, semua lahan dari Krajan atas sampai wilayah Tempel itu memang milik kami. Kami mempunyai bukti yang sah untuk itu. Sejak beberapa tahun yang lalu, kami memang bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk memperbolehkan warga mengolah lahan kami, tapi tidak untuk memiliki."
"Dan, kalau Bapak-bapak ini tidak tahu dengan hal itu, saya jadi ragu jika Anda semua memang berasal dari daerah itu." Ken menatap wajah-wajah tersebut satu persatu. Tampak mereka semakin salah tingkah.
"Asal Bapak-bapak tahu, pihak kami dan warga setempat serta pemerintah desa, sudah sepakat dengan lapangan pekerjaan setelah ini. Kami membangun resort ini juga bertujuan untuk memaajukan daerah mereka. Kami juga banyak mengambil pekerja dari daerah setempat. Selain itu, ada juga wisata alam yang sudah kami sepakati dengan pemerintah desa untuk dikembangkan. Dengan adanya lokasi wisata baru, tentunya akan menambah lapangan pekerjaan bagi warga sekitar bukan?"
"Setahu saya, warga setempat banyak yang membuat anyaman dari bambu dan rotan. Dengan adanya tempat wisata baru, bukan tidak mungkin karya mereka akan banyak dikenal oleh para wisatawan yang berkunjung," ucap Ken.
Lagi-lagi orang-orang yang berada di sana menjadi semakin bingung. Kini, Ken sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Dia menoleh ke arah Dino.
"Aku ingin kamu menghubungi pihak Tirta Omega segera."
"Baik, Pak."
\=\=\=
__ADS_1
Selow selow ya upnya.