Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 190


__ADS_3

"Kamu mau, Mas?"


Dengan wajah sayu, Zee langsung menganggukkan kepala. "Mau, Yang. Kasih 'sangu' sebelum lahiran, dong. Masa iya aku sudah harus puasa sejak sekarang?" Wajah Zee langsung murung.


Kiara merasa kasihan dengan sang suami. Dia tidak tega jika melihat Zee bersedih. Kiara meraih tangan Zee dan membawanya pada tempat yang seharusnya.


"Lakukan, Mas. Pelan-pelan, ya."


Dengan semangat empat lima, Zee langsung mengangguk dan memulai apa yang diinginkannya. Dia mulai melucuti pakaian yang dipakainya dan Kiara. Setelah itu, Zee mulai melakukan rangsangan-rangsangan untuk membuat Kiara lebih rileks. 


Dan, apa yang dilakukan Zee tersebut berhasil. Kiara tampak sudah mulai menikmati apa yang dilakukannya. Napas Kiara terdengar pendek-pendek dan memburu. Mendengar hal itu, Zee mulai menggencarkan aktivitasnya.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengar lenguhan panjang dari Kiara. Zee memberikan waktu beberapa saat kepada Kiara untuk menikmati sisa-sisa ledakannya. Ketika dirasa sudah selesai, kini giliran Zee yang mulai beraksi.


Zee mulai memposisikan bidikannya. Dia sudah bersiap untuk melancarkan serangan. Dengan sangat pelan, Zee mulai membidik sasaran. Hingga terdengar lenguhan lirih dari sang istri.


"Euughhh, Masss. Se-semakin penuh." Kiara bergumam lirih, namun masih bisa di dengar Zee dengan jelas.


"Wajar, Yang. Anak dan bapak sudah mulai saingan inih." Zee mulai bergerak berirama di bawah sana.


"Emmpphhhh, men-mentok, Masss. Euughhh." Kiara hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil meremass seprei dengan kuat. Kedua matanya juga terpejam untuk merasakan sensasi yang diberikan oleh Zee.


"Auuhhhh eemmhhhh, le-lebih cepat, Mas." 


"I-iyaahh, i-ini lebih cepat."


Zee dan Kiara sama-sama berusaha mengejar puncak kelegaan masing-masing. Hingga beberapa saat kemudian, Zee dan Kiara berhasil meraih kelegaan bersama-sama.


Keduanya tampak terengah-engah mengatur napas yang masih memburu. Peluh keduanya juga sudah saling bercampur akibat aktivitas yang baru saja mereka lakukan.


Zee masih memeluk tubuh polos Kiara dari belakang. Mereka belum beranjak dari tempat tidur karena masih sangat letih. Sebuah selimut, masih membungkus tubuh berpeluh mereka.

__ADS_1


Setelah napas Kiara cukup teratur, dia merasakan sesuatu mulai aktif di bawah sana. Kiara sangat tahu apa itu. Dia menoleh sekilas sambil menatap wajah sang suami.


"Ma-mas? I-ini?"


"Biarin dia 'anggrem' dulu, Yang. Diamkan saja di dalam."


"Eh?"


Kiara cukup panik saat menuruti tingkah Zee. Pasalnya, dia memulai kembali aktivitasnya untuk menggoda dan memanjakan Kiara. Apakah Kiara akan tergoda? Tentu saja jawabannya adalah iya. Dengan segala tingkah Zee, mustahil jika Kiara tidak akan tergoda.


"Mas, aku capek. Kamu yang bergerak, ya?" ucap Kiara sambil berusaha mengatur napas.


"Eh, bergerak kenapa, Yang? Aku kan nggak mau membuat kamu kelelahan."


Kiara berdecak kesal. "Aku tau apa yang kamu inginkan, Mas. Mana mungkin itu tower hanya ngerem di dalam tanpa bergerak."


Zee hanya tersenyum nyengir. Rupanya, niatnya terbaca dengan jelas oleh sang istri. Tanpa malu-malu lagi, Zee memulai aktivitasnya.


Kiara hanya bisa pasrah dengan keinginan sang suami. Hingga beberapa saat kemudian, Kiara sedikit tersentak saat Zee semakin bersemangat.


"Eh, jangan keras-keras, Mas. Aku khawatir anak kamu kaget nanti."


Zee masih berusaha mengejar kelegaannya. "Tenang saja, Yang. Dia tidak akan kaget. Aku yakin dia akan senang diajak main ciluk ba."


\=\=\=


Halah embuh Zee 🤧


*****


Sekilas cerita Rean, ya. Kemarin ada yang tanya.

__ADS_1


Rean membaca berderet-deret pesan yang dikirimkan oleh sang istri. Dia sedikit bingung dengan maksud pesan tersebut. Marah? Dia tidak merasa marah kepada sang istri. Memang benar dia tersinggung dengan perkataan Dena semalam. Tapi, dia tidak marah, hanya kesal. 


Namun, sepertinya Dena mengira dia sedang marah karena tidak bisa dihubungi. Padahal, bukan karena itu ponsel Rean tidak bisa dihubungi. Rean sendiri tidak tahu jika ponselnya kehabisan daya. Dia sedang sangat sibuk siang tadi dengan pihak kepolisian.


Rean kembali membaca pesan sang istri. Namun, kedua matanya langsung membelalak dengan sempurna saat melihat dua pesan terakhir yang dikirimkan Dena. Salah satunya, dikirimkan kurang dari tiga puluh menit yang lalu.


20.17


Mas Rean, maaf jika semua tingkah laku dan ucapanku menyinggungmu. Aku sungguh menyesal.



53



Mas,


Mulut Rean langsung terbuka dengan lebar saat membaca pesan tersebut. Dia langsung mengucek kedua matanya untuk memastikan dia tidak salah baca.


"Ini beneran dia memanggilku 'mas'? Aku tidak sedang berhalusinasi, kan?" Gumam Rean sambil masih menggeser naik turun layar ponselnya.


Seketika sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Tanpa sadar Rean langsung melompat dari duduknya. Dia menggoyang-goyangkan b*k*ngnya sambil menari-nari ala-ala goyang ngelas. Rean benar-benar bahagia meski hanya karena nama panggilan saja.


Namun, aktivitas goyang ngelasnya terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Rean buru-buru mengambil ponselnya tersebut. Kedua bola matanya langsung membulat saat melihat nama sang istri tertera di layar ponsel tersebut.


Dan, yang lebih membuatnya kaget, saat itu Dena tidak melakukan panggilan suara. Melainkan panggilan video. Rean tentu saja terkejut. Dia langsung menatap penampilannya pada kaca yang berada di atas rak buku. Kedua tangannya juga langsung mengusak-ngusak rambutnya agar sedikit rapi. 


Netranya juga menangkap sebuah parfum yang ada di atas rak buku. Segera saja dia menyambar parfum tersebut dan menyemprotkannya pada tubuh banyak-banyak sebelum menyambungkan panggilan video tersebut.


Kira-kira, tingkah aneh Rean berlanjut nggak ya setelah punya anak? 🤔

__ADS_1


__ADS_2