
Kiara hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Setelah itu, Zee sempat memberikan pelukan singkat kepada sang istri sebelum merasakan gerakan Gen yang kembali menggeliat karena merasa terusik.
Zee buru-buru melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang putra lekat-lekat. Zee benar-benar bahagia hanya dengan menatap wajah terlelap Gen.
Dengan mulut mungilnya yang sedang mengenyot sumber nutrisi, Gen tampak nyaman berbaring di pangkuan mommynya. Zee mendekatkan wajahnya pada wajah mungil tersebut. Dia benar benar gemas melihatnya.
Namun, alih-alih memberikan kecupan pada pipi Gen, Zee justru langsung memberikan kecupan pada bagian atas sumber nutrisi putranya tersebut. Sontak saja hal itu membuat Kiara terkejut. Kiara langsung mendorong bahu Zee untuk menjauh dari bagian depan tubuhnya.
"Apa-apaan sih, Mas. Jangan suka aneh-aneh, deh. Ini punya Gen," ucap Kiara sambil mendelik tajam ke arah Zee.
Zee hanya bisa pasrah sambil menghela napas panjang. Sejak melahirkan, Zee jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk bermain-main 'jelly jumbo dengan boba' tersebut. Selalu ada saja alasan Kiara agar Zee tidak mengambil alih sumber nutrisi putranya tersebut.
Sebenarnya, bukan karena Kiara tidak mau melayani sang suami, tapi karena dia masih menjalani masa-masa nifas setelah melahirkan. Zee bukannya tidak mengetahui hal itu, hanya saja, dia merasa sangat gemas saat melihat si kembar yang menggemaskan.
__ADS_1
Malam itu, Zee dan Kiara langsung terlelap setelah mereka memindahkan Gen ke dalam box bayinya. Kini, Kiara tidak lagi menggunakan alarm untuk membangunkannya. Gen sudah mulai hafal dengan jadwalnya minum asi.
Keesokan hari, seluruh anggota keluarga Zee sudah bersiap untuk sarapan, kecuali Kiara. Dia sudah terbiasa sarapan lebih pagi. Dan, kali ini Kiara sedang sibuk memandikan Gen di ruangannya.
Ken yang saat itu tengah memakai celana pendek dan kaos oblong serta sandal jepit smellow kesayangannya, sudah duduk manis di kursi ruang makan rumahnya. Zee pun juga sudah duduk di samping daddynya. Sementara Gitta, tengah menyiapkan sarapan untuk suami dan putranya tersebut.
"Jadi menemui Om Juan, Dad?" tanya Zee saat menerima piring yang sudah berisi sarapan yang disodorkan oleh mommynya tersebut.
"Jadi. Mungkin, hari ini Daddy akan ke Surabaya. Mumpung hari Minggu," jawab Ken sambil memulai sarapannya.
"Mau ngapain kamu ke Surabaya, Mas?" tanya Gitta sambil menatap wajah suaminya tersebut.
"Aku harus memastikan sesuatu, Yang. Kali ini, aku ingin semua hal yang menyangkut keluarga tiri Kiara harus selesai. Aku tidak mau jika mereka sampai mengusik Kiara dan juga Zee lagi."
__ADS_1
Gitta dan Zee mengangguk-anggukkan kepala. Mereka sependapat dengan ucapan Ken.
"Kalau begitu, aku ikut, Dad." Zee langsung menimpali ucapan daddynya tersebut.
Ken menggelengkan kepala sambil menoleh ke arah Zee.
"Jangan. Sebaiknya kamu di rumah saja. Kamu masih dilarang bepergian, Zee."
Kali ini, Zee hanya bisa menuruti ucapan sang daddy. Memang benar apa yang dikatakan daddynya tersebut.
Menjelang pukul sembilan pagi, Ken langsung bergegas menuju bandara. Kali ini, dia menggunakan pesawat pribadi untuk kepergian dadakannya. Tidak biasanya Geraldy akan menggunakan pesawat pribadi jika bukan karena ada hal penting yang sangat mendesak.
Mereka lebih suka menggunakan pesawat komersil agar dapat berinteraksi dengan para penumpang lainnya.
__ADS_1
Ketika dalam perjalanan menuju bandara, Ken mendapatkan panggilan telepon dari Juan.
"Bagaimana?"