Mendadak Istri 2

Mendadak Istri 2
Part 53


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Ken sudah sampai di rumah papa Evan. Ken dan Gitta memutuskan untuk langsung pulang karena Zee sudah terlelap. Mereka tidak mungkin mampir ke toko ikan untuk membeli ikan buat Zee.


Terlihat Dino sudah berada di sana. Dia membantu Ken menurunkan dan membawakan barang belanjaan Gitta menuju dapur. 


"Ada masalah dengan pihak Tirta Omega lagi?" tanya Ken begitu mereka meletakkan barang belanjaan diatas meja makan.


"Tadi, pimpinan Tirta Omega menghubungi kita, Pak. Mereka ingin bertemu."


Ken yang saat itu tengah membuka kulkas untuk mengambil air minum, langsung menoleh ke arah Dino. "Untuk apa mereka minta bertemu kita?"


"Ehm, sepertinya mereka kurang puas dengan perjanjian kita."


Ken mengangguk-anggukkan kepala. Dia sudah menduga hal ini. Kali ini, Ken tidak akan tinggal diam. Dia sudah terlalu lama membuang-buang waktu di Surabaya. Ada banyak pekerjaan yang jauh lebih besar yang harus ditanganinya di Jakarta.


"Terima ajakan mereka untuk bertemu. Kalau bisa, besok pagi suruh temui aku di kantor. Sekalian, minta tim Henry untuk mempersiapkan semuanya."


"Eh, mau di ambil, Pak?"


"Iya. Aku sudah terlalu banyak buang-buang waktu hanya untuk mengurusi mereka. Jika mereka tidak bisa menjalankan kesepakatan yang dibuat, aku juga tidak akan segan-segan bertindak." Ken terlihat kesal. Wajahnya sudah benar-benar mirip daddy Vanno saat sedang fokus seperti itu.


Dino yang melihat ekspresi Ken hanya bisa menganggukkan kepala. Setelah itu, dia segera menghubungi tim Henry untuk mempersiapkan semua yang diperlukan.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara ponsel Ken yang tergeletak di atas meja makan. Ken segera mengambilnya dan memeriksa siapa yang menghubunginya saat itu. Setelah mengetahui siapa yang menghubungi, Ken segera menyambungkan panggilan suara tersebut.


"Hallo, Dad?"


"Iya. Bagaimana? Masih ada kendala?"


"Iya. Tetap saja mereka mencari-cari masalah dengan kita."


"Sudah Daddy duga sebelumnya. Harusnya, kamu biarkan tim Henry saja yang bertindak. Tidak perlu ikut turun tangan sendiri."


"Nggak apa-apa, Dad. Sekalian aku ingin kasih mereka efek jera jika suka bertindak seenaknya sendiri." Ken menggertakkan giginya. Dia benar-benar kesal.


"Maksud kamu apa, Ken?"


"Mereka jual, kita beli, Dad."

__ADS_1


"Oh, itu. Terserah saja. Tapi ingat, ada banyak karyawan yang bergantung di sana. Jangan karena kamu ingin memberikan efek jera kepada para pemimpinnya, kamu melupakan para karyawan."


"Tenang saja, Dad. Aku punya cara sendiri untuk mengatasi hal itu."


"Baguslah kalau begitu. Usahakan jangan terlalu besar berdampak pada karyawan dan alam."


"Iya."


"Kapan rencana kalian pulang?"


"Besok malam, mungkin."


"Mommy kamu sudah kangen sama Zee."


"Iya, kami usahakan segera pulang."


"Baiklah, Daddy tutup dulu. Ingat, hati-hati."


"Iya, Dad."


Setelahnya, panggilan telepon terputus. Ken segera beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Sementara di ruang tengah, Zee tampak bermain-main di atas karpet dengan sang mommy. Gitta saat itu sedang berbalas pesan dengan Khanza, sambil mengawasi Zee bermain.


"Ami, tapan puyang? (Mommy, kapan pulang)"


Gitta menoleh ke arah sang putra yang saat itu tengah duduk di atas boneka beruang besar.


"Eh, Zee mau pulang?"


"Ja. Ji anen Papa. (Iya. Zee kangen papa)"


Kening Gitta berkerut setelah mendengar jawaban sang putra. "Kangen papa?"


Zee mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh semangat. "Bagaimana jika Zee menelepon Papa. Mau?"


Seketika Zee menganggukkan kepala dengan penuh antusias. "Au! Au cepon papa. (Mau! Mau telpon papa)" Zee sudah langsung berdiri dan menubruk tubuh sang mommy.

__ADS_1


Gitta segera menangkap tubuh sang putra dan mulai mencari nomor sang mertua. Bukan hanya panggilan suara, tapi Gitta langsung menghubungi daddy Vanno melalui panggilan Video. Seluruh keluarga sudah sangat hafal jika menghubungi dengan panggilan video, pasti Zee yang ingin berbicara.


Tak berapa lama kemudian, panggilan video tersebut sudah terhubung. Tampak Daddy Vanno sedang berada di teras depan rumah dengan Nyedit di sampingnya.


"Ao, Pa." Zee langsung bersemangat saat melihat wajah sang papa berada di layar ponsel tersebut.


"Hallo, Sayang. Kok belum bobo?"


"Beyyum antuk."


"Eh, kenapa belum ngantuk? Zee sudah mamam?"


"Cudah."


"Mamam apa?"


"Otel cama ading. (Wortel sama Daging)"


Daddy Vanno terlihat mengulas senyumannya. "Zee kapan pulang? Papa kangen nih."


"Ji anen Papa."


"Eh, benarkah Zee juga kangen Papa?"


Tampak Zee mengangguk-anggukkan kepala. "Ja. Ji anen Papa. Ji au beyyi heyicopel (Iya. Zee kangen Papa. Zee mau dibelikan helikopter)"


"Eh, Zee mau dibelikan helikopter?"


"Ja!" Zee tampak antusias. Wajahnya terlihat berbinar bahagia. Jangan lupakan air liur yang selalu membasahi bibir mungilnya.


Melihat tingkah sang cucu, daddy Vanno benar-benar gemas. 


"Baiklah, nanti Papa belikan helikopter untuk Zee, mau?"


"Au, Pa!" Zee langsung bersorak heboh.


\=\=\=

__ADS_1


Sek sek iki piye maksud e? Helikopter mainan opo tenanan iki? Sanuke daddy Vanno solowono 🤔


__ADS_2